Akal Bukanlah Segalanya

penulis Al Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamaluddin Al Bugisi
Syariah Tafsir 23 - Oktober - 2004 10:22:39

}
“Mereka berta kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu termasuk urusan Rabbku dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit’.”

Sebab Turun Ayat
Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dlm Shahih kedua dari hadits ‘Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Ketika aku berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di sebuah daerah pertanian dlm keadaan beliau bertumpuan pada sebuah tongkat dari pelepah korma tiba-tiba lewat beberapa orang Yahudi. Sebagian mereka berkata kepada sebagian lainnya: “Tanyakan pada dia tentang ruh.”
Sebagian dari mereka berkata: “. Jangan sampai dia mendatangkan sesuatu yg kalian benci.”
Berkata lagi : “Tanyalah dia.”
Mereka pun berta tentang ruh mk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tdk menjawab sedikitpun. Aku tahu wahyu sedang diturunkan kepada beliau. mk akupun berdiri dari tempatku. Turunlah firman Allah: “Mereka berta kepadamu tentang ruh mk katakanlah bahwa itu urusan Rabb-ku dan kalian tidaklah diberi ilmu tentang kecuali sedikit.”

Penjelasan Ayat
Di kalangan ulama terjadi perselisihan tentang maksud dari kata ruh yg terdapat di dlm ayat ini. Ibnu Tin rahimahullah telah menukilkan beberapa pendapat di antara ada yg mengatakan bahwa yg dimaksud adl ruh manusia. Ada lagi yg mengatakan ruh hewan dan ada pula yg mengatakan yg dimaksud adl Jibril.
Ada pula yg mengatakan maksud adl ‘Isa bin Maryam ‘alaihissalam ada yg mengatakan Al Qur’an ada yg mengatakan wahyu dan ada yg mengatakan malaikat yg berdiri sendiri sebagai shaff pada hari kiamat. Ada lagi yg mengatakan maksud adl sosok malaikat yg memiliki sebelas ribu sayap dan wajah. Ada pula yg mengatakan ia adl suatu makhluk yg bernama ruh yg bentuk seperti manusia mereka makan dan minum dan tdk turun satu malaikat dari langit melainkan ia turun bersamanya. Dan ada lagi yg berpendapat lain.
Namun mayoritas ahli tafsir memilih pendapat yg mengatakan bahwa yg dimaksud adl ruh yg terdapat pada kehidupan jasad manusia.Yaitu bagaimana keadaan ruh tersebut tempat berlalu di dlm tubuh manusia dan bagaimana cara dia menyatu dgn jasad dan hubungan dgn kehidupan. Ini adl sesuatu yg tdk ada yg mengetahui kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Al-Qurthubi rahimahullah berkata: “Yang benar adl di-mubham-kan berdasarkan firman-Nya: “Ruh itu dari perkara Rabb-ku” yaitu merupakan perkara besar dari urusan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tdk diberikan perincian agar seseorang mengetahui secara pasti kelemahan utk mengetahui hakikat diri dlm keadaan dia meyakini wujud ruh tersebut. Apabila seorang manusia lemah dlm mengetahui hakikat diri mk terlebih lagi utk menjangkau hakikat Al-Haq . Hikmah adl akal memiliki kelemahan utk menjangkau pengetahuan tentang makhluk yg dekat dengan . Dengan demikian memberikan pengetahuan kepada akal bahwa menjangkau tentang Rabb-Nya lbh lemah lagi.”

Keterbatasan Pengetahuan Akal
Akal merupakan salah satu ni’mat Allah yg diberikan kepada manusia. Dengan akal seseorang mampu membedakan mana yg baik dan yg buruk mana yg mendatangkan kemaslahatan bagi diri dan mana yg mendatangkan kemudharatan. Sehingga dgn akal itu pula seseorang bisa memahami apa saja yg diturunkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hukum-hukum. Dengan akal seorang manusia bisa memahami syariat dan melaksanakan perintah-Nya dgn penuh ketaatan dan ketundukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
}
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dlm bentuk sebaik-baiknya.”
Ibnul ‘Arabi rahimahullah berkata: “Tidak ada makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala yg lbh baik daripada manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dlm keadaan memiliki kehidupan berilmu memiliki kekuatan memiliki kehendak pandai berbicara mendengar melihat pandai mengatur dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.”
Namun ketika mereka tdk menggunakan akal utk tunduk terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tdk mendengar peringatan-peringatan-Nya bahkan mengerjakan apa yg diharamkan mk Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengembalikan mereka ke tempat yg paling buruk yaitu neraka Jahannam. Wal’iyadzu billah. Allah berfirman

“Adapun orang2 yg beriman dan mengerjakan amal-amal shalih mk bagi mereka jannah-jannah tempat kediaman sebagai pahala terhadap apa yg telah mereka kerjakan. Dan adapun orang2 yg fasiq mk tempat mereka adl an-naar. Setiap kali mereka hendak keluar dari mereka dikembalikan ke dlm dan dikatakan kepada mereka: ‘Rasakanlah siksa an-naar yg dahulu kamu mendustakannya’.”
Oleh krn itu Allah Subhanahu wa Ta’ala sering menyebutkan di dlm Al Qur’an bentuk pengingkaran terhadap orang2 yg tdk menggunakan akal utk berjalan di atas jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti syariat yg telah diperintahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Mengapa kamu menyuruh orang lain kebaikan sedangkan kamu melupakan diri sendiri padahal kamu membaca Al Kitab ? mk tidakkah kamu berpikir?”

“Demikianlah Allah menghidupkan orang2 yg telah mati dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.”

“Dan apabila mereka berjumpa dgn orang2 yg beriman mereka berkata: ‘Kamipun telah beriman’ tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja lalu mereka berkata: ‘Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yg diterangkan Allah kepadamu supaya dgn demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu mengerti?’.”

“Demikianlah Allah menerangkan kepadamu ayat-ayat-Nya supaya kamu memahaminya.”

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lbh baik bagi orang2 yg bertakwa. mk tidakkah kamu memahaminya?”

Dan firman Allah lain yg menjelaskan bahwa orang yg tdk tunduk terhadap syariat-Nya pada hakikat mereka adl orang2 yg tdk menggunakan akal pada tempat yg semestinya. Sebab akal merupakan makhluk Allah yg terbatas kadar keilmuan yg seharus berada di bawah kekuasaan Allah Yang Maha Sempurna dan Maha Berilmu terhadap segala sesuatu.
Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Segala sesuatu yg diberitakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib diimani dan penukilan shahih dari beliau tentang permasalahan yg kita saksikan atau pun sesuatu yg ghaib. Kita mengetahui bahwa itu adl kebenaran dan kejujuran baik masuk akal atau tdk dan kita belum mengetahui hakikat maknanya.”

Membantah Syariat dgn Akal: Metode Kuffar
Sudah menjadi kebiasaan orang2 kafir utk selalu menolak apa yg datang dari Allah dan Rasul-Nya berupa berita-berita serta ancaman-Nya dgn akal mereka dan menyangka bahwa akal mereka di atas segala dlm menentukan keputusan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan tentang orang2 yg mengingkari hari kebangkitan:

“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadian ia berkata: Siapakah yg dapat menghidupkan tulang-belulang yg telah hancur luluh?”
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengabarkan bahwa orang2 kafir membantah apa yg dikabarkan kepada mereka tentang tauhid dgn akal mereka:

“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguh ini benar-benar suatu hal yg sangat mengherankan.”
Mereka pun membantah tentang kenabian dgn akal mereka:

“Dan mereka berkata: “Mengapa Al Qur’an ini tdk diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri ini?”

Dan firman-firman Allah yg lain yg jika kita memperhatikan dgn seksama akan tampak bahwa sesungguh apa yg dilakukan oleh para pengikut hwa nfsu (**) dari kalangan para penyembah akal seperti kaum filosof Jaringan Islam Liberal dan yg sejalan dgn mereka ini hanyalah mengikuti cara-cara nenek moyang mereka dlm ber-istidlal utk menolak Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan: “Menentang para rasul atau berita mereka dgn ma’qulat adl metode orang2 kafir.”
Ternyata kebiasaan nenek moyang mereka inipun diwariskan kepada para penerus pemeluk kesesatan dan para pengekor hwa nfsu (**) utk memelihara keabadian dan kelestarian budaya setan tersebut beserta para anteknya. Mereka masih saja menjadikan akal mereka sebagai tolak ukur utk menilai sesuatu benar atau tdk bahkan sampai kepada tingkat menilai benar tdk perkataan Allah dan Rasul-Nya dgn kedangkalan akal yg mereka miliki.
Berikut ini beberapa contoh penolakan nash-nash dgn akal:
1. Menolak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
}
“Apabila lalat jatuh ke salah satu tempat minum kalian mk hendaklah dia menenggelamkan lalu mengangkatnya. Karena sesungguh pada salah satu sayap terdapat penyakit dan pada sayap yg lain terdapat penawarnya.” . orang2 berpenyakit ini pun berkata: “Hadits ini lemah krn bertentangan dgn penelitian para ahli yg berkesimpulan bahwa pada lalat semua terdapat racun dan tdk ada penawarnya!”
Sungguh suatu tindakan yg lancang dlm melemahkan hadits yg para ulama ahli hadits sepakat menerima hanya dgn alasan bertentangan dgn hasil penelitian? Apakah mungkin menolak hadits yg sifat qath’i dgn penelitian yg masih bersifat zhanni ? Sungguh ini merupakan suatu kebodohan yg nyata.
2. Menolak kandungan hukum dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
}
“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang anak-anak kalian bagi seorang laki2 mendapat bagian dua kali wanita.”
Maka orang2 yg berpenyakit ini mengatakan bahwa ayat tersebut sudah tdk relevan krn sekarang sudah ada persamaan hak antara laki2 dan wanita sehingga mereka harus mendapatkan bagian yg sama.
Sungguh merupakan suatu tindakan yg sangat lancang terhadap ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Adil dan Maha Mengetahui kemaslahatan hamba-hambanya. Ayat yg muhkam ini merupakan ayat yg terus berlaku pada tiap zaman dan tdk dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia atau ada gerakan emansipasi yg terjadi di zaman tertentu. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyumbat mulut orang2 yg melampaui batas!

Sikap para Shahabat Terhadap Akal
Para shahabat sebagai manusia termulia di antara umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl orang2 yg paling paham dlm menempatkan akal mereka. Di saat mereka diajak utk bermusyawarah dlm membicarakan siasat pertempuran mereka mengungkapkan berbagai siasat dgn kepandaian akal dan pengalaman yg mereka miliki seperti yg terjadi pada perang Badr dan Khandaq. dlm perdagangan dgn akal dan kepandaian yg mereka miliki dlm berjual beli mereka mampu melakukan muamalah jual-beli yg mendatangkan keuntungan berlipat tanpa harus berbuat curang. dlm bercocok tanam mereka ahli dlm mengembangkan hasil ladang dan tanaman sehingga membawa hasil yg melimpah.
Namun dlm perkara yg telah menjadi ketetapan Allah dan Rasul-Nya tdk keluar dari lisan mereka kecuali pernyataan: “Kami dengar dan kami menaatinya!”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguh jawaban orang2 mukmin bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar dan kami taat.’ Dan mereka itulah orang2 yg beruntung.”
Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan tentang ketaatan kaum Muhajirin dan Anshar walaupun dlm perkara yg mereka benci. Inilah perkataan mereka dan sekira mereka kaum mukminin mk tentu mereka pun akan mengatakan : ‘Kami mendengar dan kami taat’.”
Semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua menuju jalan yg lurus. Wallahul musta’an.

Sumber: www.asysyariah.com