Amal Termasuk Bagian dari Iman

penulis Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin
Syariah Hadits 20 - Juni - 2007 10:33:03

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ الْحَكَمِ السُّلَمِي قَالَ: .. وَكَانَتْ لِي جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا ليِ قِبَلَ أُحُدٍ وَالْجَوَّانِيَّةِ، فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَإِذَا الذِّيْبُ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِي آدَمَ آسَفُ كَمَا يَأْسَفُوْنَ، لَكِنِّي صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَأَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظََّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ، قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ أَعْتِقُهَا؟ قَالَ: ائْتِنِي بِهَا. فَأَتَيْتُهُ بِهَا فَقَالَ لَهَا: أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَناَ؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ. قَالَ :أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu dia berkata: “ Aku memiliki seorang budak perempuan yg menggembalakan kambingku di arah Uhud dan Al-Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku dapati seekor serigala telah membawa lari salah satu dari kambing-kambing yg digembalakannya. Dan aku salah seorang dari Bani Adam yg dapat marah sebagaimana mereka marah. Aku lantas menampar kemudian aku menghadap Rasulullah krn perkara itu telah membebaniku.
Aku bertanya: “Ya Rasulullah tidakkah saya membebaskannya?” Beliau bersabda: “Bawa dia kepadaku.” Akupun membawanya. Lalu beliau berta kepadanya: “Di manakah Allah?” Dia menjawab: “Di atas langit.” Beliau bertanya: “Siapakah aku?” dia menjawab: “Engkau adl Rasulullah.” Lalu beliau bersabda: “Bebaskan dia krn sesungguh dia adl seorang wanita yg beriman.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dlm Shahih- Al-Imam Abu Dawud dan Al-Imam An-Nasa`i .
Hadits di atas merupakan potongan dari sebuah hadits yg panjang dari Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata: “Tatkala aku sedang shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba-tiba ada salah seorang yg bersin . Akupun berkata: ‘Yarhamukallah!’ orang2 pun memandangiku. Aku berkata: ‘Wa tsukla ummiyah!1’ Kenapa kalian memandangiku ?’
Kemudian mereka menepuk-nepukkan kedua tangan di atas pahanya. Ketika aku melihat bahwa mereka supaya aku diam mk akupun diam. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai dari menjalankan shalat aku berkata: ‘Bi abi huwa wa ummi! Aku belum pernah melihat sebelum dan sesudah seorang pengajar yg terbaik dlm memberikan pengajaran daripada beliau. Demi Allah beliau tdk membentakku tdk memukul dan tdk pula memaki. Beliau hanya berkata: ‘Sesungguh shalat ini tdk boleh ada di dlm suatu ucapan apapun dari ucapan manusia. Yang diperbolehkan hanyalah tasbih takbir dan membaca Al-Qur`an.’ Atau sebagaimana sabda Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kemudian aku berkata: ‘Ya Rasulullah sesungguh saya baru saja meninggalkan masa kejahiliahan dan Allah menggantikan dgn mendatangkan agama Islam. Sebagian kami mendatangi dukun!’
Beliau bersabda: ‘Janganlah kalian mendatangi mereka.’
Aku kembali mengutarakan: ‘Sebagian kami ada yg ber-tathayyur !’
Beliau bersabda: ‘Itu adl perkara yg mereka dapati dlm dada mereka janganlah perkara itu memalingkan kalian .”
Mu’awiyah bin Al-Hakam As-Sulami berkata: “Aku memiliki seorang budak perempuan yg menggembalakan kambing-kambingku di arah Uhud dan Al-Jawwaniyyah. Pada suatu hari aku dapati seekor serigala telah membawa lari salah satu dari kambing-kambing yg digembalakannya. Dan aku seorang dari Bani Adam yg dapat marah sebagaimana mereka marah. Aku lantas menampar kemudian aku menghadap Rasulullah krn perkara itu telah membebaniku.
Aku bertanya: ‘Ya Rasulullah tidakkah saya membebaskannya?’
Beliau bersabda: ‘Bawalah dia kepadaku.’ Akupun membawa lalu beliau berta kepadanya: ‘Di manakah Allah?’ Dia menjawab: ‘Di atas langit.’ Beliau bertanya: ‘Siapakah aku?’ Dia menjawab: ‘Engkau adl Rasulullah.’ Lalu beliau bersabda: ‘Bebaskan dia krn sesungguh dia adl seorang wanita yg beriman’.”
Hadits ini dipahami secara salah oleh kaum Murji`ah utk membenarkan pemikiran mereka dlm perkara iman. Menurut mereka iman adl pembenaran dgn hati dan ucapan dgn lisan tdk perlu amalan. Sisi pendalilan adl pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguh dia adl seorang wanita yg beriman” yaitu sekedar ucapan tanpa amalan sudah dinyatakan sebagai seorang yg beriman.
Untuk menjawab perkara ini ada beberapa jawaban:
Pertama: Al-Imam Ahmad Al-Khaththabi dan Ibnu Taimiyyah berkata: “Pengikraran jariyah ini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di atas Muhammad adl Rasulullah merupakan jawaban atas pertanyaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg mana pertanyaan beliau ini berkaitan dgn tanda-tanda keimanan dan alamat bagi ahlinya. Dan bukan pertanyaan tentang perkara prinsip keimanan sifat dan hakikatnya.
Kedua: Terdapat pada sebagian riwayat bahwa Nabi tdk mencukupkan dari jariyah ini hingga beliau bertanya: “Apakah kamu beriman dgn perkara yg demikian dan demikian? Apakah kamu bersaksi bahwa tdk ada yg berhak diibadahi dgn benar kecuali Allah?” Ia menjawab: “Ya.”
“Apakah kamu bersaksi bahwa aku adl Rasulullah?” Ia menjawab: “Ya.”
“Apakah kamu beriman dgn hari kebangkitan?” Ia menjawab: “Ya.”
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bebaskan dia dari perbudakan.”
Ketiga: Kemungkinan kejadian ini terjadi sebelum turun perkara-perkara yg sifat fardhu.
Telah menjadi kesepakatan ulama Ahlus Sunnah dahulu maupun sekarang bahwa iman adl ucapan dan perbuatan bertambah dan berkurang. Maksud iman adl ucapan dan perbuatan adl bahwa ucapan hati dan ucapan lisan perbuatan hati dan perbuatan lisan akan bertambah dgn menjalankan ketaatan dan akan berkurang dgn melakukan kemaksiatan. Berbeda dgn kaum Murji`ah yg menyatakan bahwa iman hanyalah i’tiqad dan ucapan dgn lisan saja.
Ishaq bin Ibrahim bin Hani berkata: “Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal berkata: ‘Iman adl ucapan dan perbuatan bertambah dan berkurang’.”
Pendapat Al-Imam Ahmad rahimahullahu bahwa iman itu bertambah dan berkurang makna adl seperti yg ditanyakan oleh putra beliau yaitu Shalih. Ia berkata: “Aku berta kepada ayahku apa itu makna bertambah dan berkurang iman?” Beliau menjawab: “Bertambah iman adl dgn ada amalan berkurang adl dgn meninggalkan amalan seperti meninggalkan shalat zakat dan haji.”
Pendapat Al-Imam Ahmad rahimahullahu dlm mendefinisikan iman merupakan pendapat keumuman atau mayoritas ulama Salaf bahwa iman adl keyakinan dgn hati ucapan dgn lisan dan perbuatan dgn anggota badan. Para ulama Salaf memandang bahwa iman adl ungkapan dari tiga perkara ini. Mereka menganggap pembenaran dgn hati dan ucapan dgn lisan merupakan pokok perkara iman adapun perbuatan merupakan cabang dari iman.
Oleh karena mereka tdk mengkafirkan para pelaku dosa besar dan tdk menghukumi mereka sebagai penghuni neraka selama-lama sebagaimana yg dilakukan oleh kaum Khawarij dan Mu’tazilah. Dan yg telah menukil kesepakatan para ulama dlm mendefinisikan iman adl Abu ‘Ubaid Al-Qasim ibnu Salam Asy-Syafi’i Al-Bukhari Al-Lalika`i dan Al-Baghawi Ibnu Abdil Barr dan selain mereka.
Tatkala beliau menyatakan dalil yg menunjukkan bahwa amalan masuk dlm penamaan iman beliau berkata dgn menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا كَانَ اللهُ لِيُضِيْعَ إِيْمَانَكُمْ
“Allah tdk akan menyia-nyiakan iman kalian.”
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan shalat mereka sebagai perkara iman mk shalat termasuk dari perkara iman.”
Diriwayatkan dgn sanad yg shahih dari Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu beliau berkata: “Aku menjumpai lbh daripada 1.000 orang dari kalangan ulama di berbagai daerah . Tidaklah aku melihat seorang pun yg berselisih bahwa iman adl ucapan dan perbuatan bertambah dan berkurang.”
Ar-Rabi’ berkata: Aku mendengar Al-Imam Asy-Syafi’i berkata: “Iman adl ucapan dan amalan bertambah dan berkurang.” Pada riwayat yg lain terdapat tambahan: “Bertambah dgn ketaatan dan berkurang dgn kemaksiatan.”
Kemudian beliau membaca ayat:
وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ آمَنُوا إِيْمَانًا
“Dan agar bertambah keimanan orang2 yg beriman.” (Lihat Fathul Bari 1/62-63)
Sebagian ahlul ilmi menyatakan manusia terbagi menjadi tiga bagian:
Pertama: Sabiqun bil khairat yaitu orang yg mengerahkan segenap kemam-puan utk melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala baik yg wajib maupun yg mustahab serta menjauhi larangan-Nya.
Kedua: Muqtashid yaitu orang yg hanya mengerjakan yg wajib dan meninggalkan yg haram saja.
Ketiga: Zhalim linafsih yaitu orang yg mencampurkan amalan baik dgn amalan buruk.
Kelompok yg pertama lbh sempurna iman ketimbang yg kedua dan yg kedua lbh sempurna ketimbang yg ketiga.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Dari pembahasan ini terdapat beberapa pendapat ulama Salaf dan imam-imam As-Sunnah dlm menafsirkan iman. Kadang mereka berkata ‘iman adl ucapan dan perbuatan’ terkadang menyatakan ‘iman adl ucapan perbuatan dan niat’ terkadang menyatakan ‘iman adl ucapan perbuatan niat dan ittiba’ As-Sunnah’ terkadang pula mengucapkan ‘iman adl ucapan dgn lisan keyakinan dgn hati dan amalan dgn anggota badan’. Semua ungkapan itu benar adanya.
Adapun mereka yg menyatakan iman itu adl ucapan dan amalan mk termasuk di dlm adl ucapan hati dan ucapan lisan. Inilah yg dipahami dari makna ‘ucapan’ jika disebut secara mutlak. Sehingga apabila ada seorang ulama salaf yg berkata iman adl ucapan dan perbuatan mk makna adl ucapan dgn hati dan lisan serta amalan hati dan anggota badan. Barangsiapa yg menambah lafadz i‘tiqad dlm mendefinisikan iman memandang bahwa lafadz ‘ucapan’ tidaklah dipahami kecuali ucapan lahir saja. Atau ia mengkhawatirkan tdk dipahami ada keyakinan hati sehingga ditambahlah dgn kata ‘keyakinan dlm hati’.
Sedangkan pendapat yg menyatakan iman adl ucapan perbuatan dan niat makna adl ucapan yg mengandung i‘tiqad dan ucapan lisan. Adapun lafadz ‘amal’ yg tdk dipahami niat dari ditambahlah dlm mendefinisikan iman dgn ada niat. Bagi yg menambah ittiba’ As-Sunnah krn semua itu tidaklah dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dgn mengikuti As-Sunnah.
Kemudian mereka tidaklah menghendaki makna ungkapan ‘iman berupa ucapan dan perbuatan’ bahwa maksud adl seluruh ucapan dan perbuatan. Akan tetapi sebagai sanggahan terhadap kaum Murji`ah yg menyatakan bahwa iman itu ucapan semata. Oleh karena mereka berkata bahwa iman adl ucapan dan perbuatan. Adapun yg menjadikan iman itu empat macam penafsiran adl sebagaimana yg ditanyakan kepada Sahl bin Abdillah At-Tusturi tentang apakah iman itu. Beliau berkata: ‘Ucapan perbuatan niat dan As-Sunnah.’ Karena iman tanpa amal adl kufur iman berupa ucapan dan amalan tanpa ada niat adl nifaq iman berupa ucapan amalan dan niat namun tanpa As-Sunnah berarti bid’ah.”
Berikut fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Ifta` no. 21436 tanggal 8/4/1421 H:
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala saja shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg tdk ada nabi setelahnya. Komite Tetap Urusan Pembahasan Ilmiah dan Fatwa sungguh telah mempelajari apa yg telah sampai kepada yg mulia Al-Mufti ‘Aam Hai`ah Kibarul Ulama dari sejumlah peminta fatwa terkait permintaan fatwa mereka dgn amanah secara umum dgn no. 5411 tgl. 7/11/1420 H no. 1026 tgl. 17/2/1421 H no. 1016 tgl.7/2/1421H no. 1395 tgl 25/3/1431 H No.1650 tgl. 17/3/1421 H No. 1893 tgl. 25/3/1421 H No. 2106 tgl. 7/4/1421 H.
Para peminta fatwa telah menanyakan beberapa pertanyaan yg isinya:
“Pada akhir-akhir ini muncul pemikiran Murji`ah dlm bentuk yg menakutkan dan telah tersusun banyak kitab guna menyebarluaskan pemikirannya. Mereka bersandar kepada penukilan-penukilan yg sepenggal-sepenggal dari ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu yg menyebabkan banyak manusia terperangkap ke dlm istilah penamaan iman di mana mereka yg menyebarkan pemikiran ini berusaha utk mengeluarkan amal dari penamaan iman. Mereka berpendapat seseorang akan selamat meskipun ia meninggalkan semua amalan. Termasuk perihal yg memudahkan manusia jatuh ke dlm kemungkaran perkara kesyirikan perkara-perkara yg membuat seseorang menjadi murtad jika mereka mengetahui bahwa iman mereka tetap benar walaupun tdk menunaikan kewajiban dan tdk menjauhi keharaman walaupun mereka tdk mengerjakan syariat agama.
Berdasarkan madzhab ini tidaklah diragukan lagi bahwa madzhab ini sangat berbahaya bagi masyarakat Islam dan bagi perkara-perkara aqidah serta ibadah.
Kami berharap kepada yg mulia utk menjelaskan hakikat madzhab ini pengaruh yg jelek menjelaskan al-haq yg dibangun di atas Al-Kitab dan As-Sunnah serta meluruskan penukilan dari Syaikhul Islam sehingga seorang muslim berada di atas hujjah yg nyata dari agamanya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq serta meluruskan langkah-langkah anda. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Setelah mempelajari permintaan fatwa tersebut Al-Lajnah memberikan jawaban sebagai berikut:
“Ucapan yg disebutkan ini adl ucapan Murjiah yaitu orang2 yg mengeluarkan amalan-amalan dari definisi iman. Mereka berkata: ‘Iman itu pembenaran dgn hati atau pembenaran dgn hati dan pengucapan dgn lisan saja’. Adapun amal menurut mereka hanya sebagai syarat kesempurnaan iman dan bukan termasuk keimanan. Barangsiapa telah membenarkan dgn hati dan mengucapkan dgn lisan mk dia seorang mukmin yg sempurna iman menurut mereka walaupun berbuat sekehendak berupa meninggalkan kewajiban dan mengerjakan perkara yg haram. Seseorang berhak masuk ke dlm jannah walaupun belum pernah berbuat kebaikan sama sekali.
Kesesatan tersebut membawa konsekuensi yg batil. Di antara membatasi kekufuran hanya kepada kufur takdzib dan istihlal qalbi .
Tidak diragukan lagi bahwa ini adl ucapan yg batil dan kesesatan yg nyata menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah dan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dahulu maupun sekarang. Perkara ini sesungguh akan membuka peluang bagi pelaku keburukan dan kejahatan utk melepaskan diri dari agama dan tdk merasa terkait dgn perintah larangan rasa takut dan khasyah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia akan menolak jihad fi sabilillah amar ma’ruf nahi munkar. Dia akan menyamakan antara orang yg shalih dgn orang yg jahat yg taat dgn yg bermaksiat yg istiqamah di atas agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn orang fasiq yg lepas dari perintah dan larangan agama. Hal ini bila amalan-amalan dianggap tdk mengurangi iman sebagaimana yg mereka ucapkan .
Oleh sebab itu para imam Islam dahulu dan sekarang telah menjelaskan tentang kebatilan madzhab ini dan memberikan bantahan terhadap pengikutnya. Bahkan mereka membahas perkara ini secara khusus terutama dlm kitab-kitab aqidah. Mereka juga telah menulis beberapa karangan tersendiri sebagaimana yg dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu dan selain beliau.
Syaikhul Islam di dlm Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah berkata di antara prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adl bahwa agama dan iman ini adl ucapan dan amalan ucapan hati dan lisan serta amalan hati dan lisan dan anggota badan. Iman itu bertambah dgn ketaatan dan berkurang dgn sebab kemaksiatan.
Di dlm Kitabul Iman beliau berkata: “Dari bab inilah pendapat-pendapat ulama Salaf dan imam-imam Sunnah membahas tentang tafsir iman. Terkadang mereka berkata iman adl ‘ucapan dan amalan’ terkadang mereka berkata iman adl ‘ucapan amalan dan niat’; terkadang mereka berkata ‘ucapan amalan niat dan mengikuti As-Sunnah’; terkadang mereka mengatakan ‘ucapan dgn lisan keyakinan dgn hati dan amalan dgn anggota badan.’ Semua itu benar adanya.”
Beliau rahimahullahu berkata: “Kaum Salaf sangat keras dlm mengingkari Murji`ah tatkala mereka mengeluarkan amalan dari iman. Tidak diragukan bahwa ucapan mereka dlm menyamakan iman manusia termasuk kesalahan yg paling keji. Bahkan manusia tdk akan sama derajat dlm at-tashdiq tdk pula dlm hal cinta khasyah maupun ilmu. Bahkan yg ada ialah terjadi perbedaan dlm keutamaan ditinjau dari berbagai sisi.”
Beliau rahimahullahu berkata: “Sungguh Murji`ah telah menyimpang dlm prinsip ini dari penjelasan Al-Kitab As-Sunnah ucapan para sahabat dan tabi’in yg mengikuti mereka dgn baik. Mereka hanya bersandar kepada ra`yu mereka dan apa-apa yg mereka takwilkan berdasarkan pemahaman apa yg mereka tafsirkan dari sisi bahasa. Ini merupakan jalan ahlul bid’ah.” Selesai .
Di antara dalil yg menyebutkan bahwa amalan termasuk hakikat iman dan bahwa iman itu bertambah dan berkurang adl firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm Surat Al-Anfal ayat 2-4:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ إِذَا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيْمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ. الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ. أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا
“Sesungguh orang2 mukmin itu adl orang yg apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan mereka hanya bertawakal kepada Rabbnya. Mereka itulah orang2 yg mendirikan shalat dan yg menafkahkan sebagian dari rizki-rizki yg Kami berikan. Itulah orang2 yg beriman dgn sebenarnya.”
Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm Surat Al-Mukminun ayat 1-9:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ. الَّذِيْنَ هُمْ فِي صَلاَتِهِمْ خَاشِعُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ. إِلاَّ عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ. فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ. وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ
“Sungguh telah beruntung orang2 yg beriman. Yaitu orang2 yg khusyu’ dlm shalatnya. orang2 yg menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan yg tdk berguna. orang2 yg menunaikan zakat. orang2 yg menjaga kemaluan kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yg mereka miliki. mk sesungguh mereka dlm hal ini tdk tercela. Barangsiapa mencari yg selain itu mk mereka itulah orang2 yg melampaui batas. Dan orang2 yg memelihara amanat yg dipikul dan janji serta orang2 yg memelihara shalatnya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً، أَعْلاَهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ
“Iman itu ada 70 lbh cabang yg paling tinggi adl ucapan La ilaha illallah dan yg paling rendah adl menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu merupakan salah satu cabang iman.”
Syaikhul Islam rahimahullahu juga berkata di dlm Kitabul Iman: “Dasar keimanan itu ada di dlm hati yaitu ucapan hati dan amalan yaitu pernyataan pembenaran cinta dan ketundukan. Apa yg ada dlm hati pasti akan nampak konsekuensi pada anggota badan. Jika ia tdk mengamalkan konsekuensi berarti menunjukkan tdk ada iman tersebut atau kelemahannya. Oleh krn itu amalan-amalan lahiriah merupakan konsekuensi keimanan hati. Dia merupakan pembenaran terhadap apa yg ada dlm hati dan sebagai bukti serta saksi atas keimanan tersebut. Dia merupakan cabang dan bagian dari keimanan yg mutlak.”
Beliau juga berkata: “Bahkan tiap orang yg memerhatikan ucapan Khawarij dan Murji`ah tentang makna iman pasti ia akan mengetahui bahwa ucapan tersebut menyelisihi Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia juga akan mengetahui dgn pasti pula bahwa menaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya merupakan kesempurnaan iman dan tidaklah tiap pelaku dosa dihukumi kafir. Dia juga akan tahu seandai ditaqdirkan ada suatu kaum yg berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kami beriman kepada semua yg engkau bawa dgn hati kami tanpa ada keraguan. Kami mengikrarkan dua kalimat syahadat dgn lisan kami. Ha saja kami tdk akan menaatimu dlm perkara apapun baik yg engkau perintahkan atau yg engkau larang. Kami tdk akan shalat puasa haji berkata jujur menunaikan amanah memenuhi janji menyambung tali persaudaraan. Kami tdk akan melakukan sesuatupun dari kebaikan yg engkau perintahkan. Kami akan minum khamr menikahi mahram-mahram kami dgn zina yg nyata membunuh sahabat dan umatmu semampu kami. Dan kami akan merampas harta mereka bahkan kami juga akan membunuh dan memerangimu bersama musuh-musuhmu.”
Apakah akan terbayang oleh seorang yg berakal bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Kalian adl orang2 yg beriman dgn keimanan sempurna. Kalian berhak mendapatkan syafaatku pada hari kiamat dan diharapkan tdk ada seorang pun dari kalian yg masuk an-naar ”?!
Bahkan tiap muslim pasti akan mengetahui bahwa beliau akan berkata kepada mereka: “Kalian adl manusia yg paling mengingkari ajaran yg aku bawa.” Beliau akan memenggal leher mereka jika mereka tdk bertaubat dari hal tersebut.” Selesai ucapan beliau.
Beliau rahimahullahu juga berkata: “Lafadz iman jika disebutkan secara mutlak di dlm Al-Qur`an dan As-Sunnah maksud adl sama dgn maksud lafadz al-bir at-taqwa ad-dien sebagaimana penjelasan yg telah lalu. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa iman itu ada 70 lbh cabang. Yang paling utama adl Laa ilaha illallah dan yg paling rendah adl menyingkirkan gangguan dari jalan. mk tiap perkara yg dicintai Allah Subhanahu wa Ta’ala masuk di dlm nama iman. Begitu pula lafadz al-bir masuk di dlm semua perkara itu tadi jika disebutkan secara mutlak. Demikian pula lafadz at-taqwa ad-dien atau dienul Islam. Demikian pula telah diriwayatkan bahwa mereka berta tentang iman mk Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat:
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوْهَكُمْ
“Bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan.”
Hingga Syaikhul Islam rahimahullahu berkata: “Yang dimaksud di sini pujian itu tdk akan ditetapkan kecuali terhadap iman yg disertai amal bukan iman yg terlepas dari amal.”
Inilah ucapan Syaikhul Islam tentang iman dan barangsiapa yg menukil dari beliau selain itu mk ia telah berdusta atas namanya. Adapun yg terdapat dlm sebuah hadits bahwa suatu kaum masuk ke dlm Jannah padahal mereka belum pernah melakukan kebaikan sama sekali hadits itu tidaklah berlaku secara umum kepada tiap orang yg meninggalkan amalan padahal ia mampu mengerjakannya.
Hadits ini khusus bagi mereka disebabkan ada sebuah udzur yaitu terhalang mereka dari beramal atau makna-makna lain yg sesuai dgn nash-nash yg muhkamat dan yg disepakati oleh salafus shalih dlm permasalahan ini. Inilah .
Bila masalah itu sudah sangat jelas mk Al-Lajnah Ad-Da`imah melarang dan memperingatkan dari perdebatan dlm ushul aqidah. Karena hal itu dapat mengakibatkan bencana yg besar. Al-Lajnah mewasiatkan agar merujuk kepada kitab-kitab salafus shalih dan para pemimpin agama yg mana berlandaskan kepada Al-Qur`an As-Sunnah dan ucapan-ucapan salaf.
Al-Lajnah juga memperingatkan dari merujuk kepada kitab-kitab yg menyelisihi hal di atas dan kitab-kitab baru yg muncul dari orang2 muta’alimin yg tdk mengambil ilmu dari ahli dan sumber-sumber ahlinya. Mereka telah berani berbicara dlm hal prinsip yg agung dari sekian prinsip-prinsip aqidah ini. Mereka membangun madzhab Murji`ah dan menisbahkan dgn penisbahan yg penuh kezaliman kepada Ahlus Sunnah wal Jamaah dan mengkaburkan perkara tersebut kepada manusia. Mereka memperkuat pendapat dgn menukil ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan imam-imam Salaf yg lain dgn nukilan yg terputus dan dgn ucapan-ucapan yg mutasyabih tanpa mengembalikan kepada ucapan-ucapan mereka yg muhkam .
Al-Lajnah menasihati mereka utk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas diri mereka sadar kembali dan tdk mencabik-cabik persatuan dgn menyebarkan madzhab yg sesat ini. Juga mengingatkan agar kaum muslimin jangan sampai tertipu dan terjerumus dgn ikut serta masuk ke dlm kelompok yg menyelisihi pijakan jamaah kaum muslimin Ahlus Sunnah wa Jamaah. Semoga Allah k memberi taufiq kepada semua menuju ilmu yg bermanfaat amal shalih dan pemahaman di dlm agama. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluarga serta sahabat beliau seluruhnya.
Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhutsil Ilmiah wal Ifta`.
Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Muhammad Alu Syaikh.
Anggota: Abdullah bin Abdurrahman Al-Ghudyan Shalih bin Fauzan Al-Fauzan Bakr bin Abdillah Abu Zaid.
Wallahu a‘lam bish-shawab.

1 Sebuah kalimat yg diucapkan oleh orang Arab secara dzahir makna namun tdk dikehendaki terjadinya. Kalimat ini merupakan bentuk pengajaran dan pengingat dari sebuah kelalaian dan kekaguman serta pengagungan terhadap suatu perkara.

Sumber: www.asysyariah.com