Antara Menafkahi Orang Tua dan Isteri” ketegori Muslim. Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ibu Anita, saya sudah menikah satu tahun 3 bulan, belum ada anak. Suami saya seorang pelaut. Saat menikah dia belum dapat kerja sedangkan saya sudah bekerja. Dua hari setelah menikah saya ditinggal berlayar selama 3 bulan. Satu bulan dia di darat, kemudian dia berlayar lagi selama 11 bulan.

Saat berlayar pertama kali dia tidak memberikan gajinya yang berarti dia tidak menafkahi saya. Ketika berlayar kedua dia memberikan sebagian gajinya yang kemudian saya tabung. Setiap bulan dia mengirim uang ke orang tuanya. Saat turun kapal sekarang ini uang yang saya tabung pun dihabiskan untuk orang tua dan keluarganya.

Sebenarnya bukan hal tersebut yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah orang tuanya yang selalu menuntut uang darinya sementara gaji suami belum mampu memenuhi kebutuhan kami. Saya kasihan melihatnya karena dia stress memikirkan mana yang harus menjadi prioritasnya, saya ataukah keluarganya. Sementara sebenarnya keluarganya bukan keluarga yang kekurangan. Saya katakan bukan keluarga yang kekurangan karena mereka memiliki mobil, tambak udang, TK, SD, SMK sementara saya masih ngontrak.

Saya sudah katakan kalau saya masih bisa bertahan karena sebenarnya gaji saya lebih tinggi dari gaji dia. Hanya saja dia tidak bisa menerima keadaan tersebut karena nafkah untuk saya adalah tanggung jawabnya. Dia sudah pernah bicara baik-baik ke orang tuanya tetapi hasilnya dia dimusuhi oleh keluarganya, dianggap lupa dengan orang tuanya. Ia dinasehati walaupun sudah menikah, orang tua tetap yang utama.

Pertanyaan saya, manakah yang seharusnya menjadi prioritas utama dalam Islam? Dan apakah benar jika akan membelanjakan gaji yang saya peroleh harus izin suami mengingat suamilah yang memberi izin saya untuk bekerja? Adakah dalilnya? Sementara yang saya tahu selama ini adalah uang suami milik isteri, uang isteri hanya milik isteri. Mana yang benar? Terima kasih atas jawabannya.

WAssalamualaikum,

Rohmawati Dwi Rahayu

Jawaban
Assalamualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Ibu RD yang sholeha,

Saya memahami keresahan ibu yang kurang menyetujui sikap mertua yang masih menuntut suami untuk memberikan nafkah, padahal mertua ibu tersebut hidup berkecukupan. Apalagi penghasilan suami pun ternyata belum cukup untuk menjalankan kewajibannya, yaitu mencukupi kebutuhan isterinya. Selayaknya mertua ibu memang tidak menuntut suami untuk memberi nafkah, karena selain bukan kewajibannya mereka pun tidak hidup dalam kekurangan. Namun seburuk apapun sikapnya, mereka tetap orang tua di mana kita harus senantiasa berbakti kepada mereka.

Setelah menikah, dalam Islam, seorang suami berkewajiban untuk memberi nafkah kepada isterinya, sedangkan memberi nafkah kepada orang tua bukan termasuk dalam kewajibannya. Ketika seorang suami memberi nafkah kepada orang tuanya itu hanya berupa amal salehnya dalam rangka berbakti kepada mereka dan pemberian nafkah tersebut pun dapat diberikan jika kebutuhan kepada keluarganya sudah terpenuhi.

Rasulullah saw. pernah ditanya, Apa kewajiban seorang suami terhadap isterinya? Beliau menjawab, memberi makan kepada isterinya apa yang ia makan, mengenakan pakaian kepadanya jika dia memakai baju, tidak menghinanya, tidak memukul kecuali pukulan yang tidak membahayakan, dan tidak juga meninggalkannya kecuali di dalam rumah.

Itu merupakan salah satu dalil dari kewajiban suami menafkahi isterinya. Sebaliknya isteri tidak punya kewajiban dalam memenuhi kebutuhan keluarga, oleh karena itu jika ibu kemudian punya penghasilan sendiri dengan bekerja maka uang yang ibu hasilkan itu adalah hak ibu sepenuhnya. Meski ibu bekerja atas izin suami namun tak ada kewajiban bagi ibu meminta izinnya dalam membelanjakan harta yang ibu miliki.

Saran saya diskusikan semua hal yang menyangkut keuangan ini dengan suami, karena keuangan memang hal yang sangat sensitif dalam keluarga. Termasuk dalam menyisihkan rizki kepada mertua ibu, sepakati bersama suami uang yang dapat diberikan dan katakan dengan baik sejumlah itulah yang dapat diberikan kepada orang tua sementara ini.

Jadi suami ibu tidak selalu harus menuruti tuntutan orang tuanya jika berlebihan, namun bersikap bijaklah dalm menyikapinya. Yang menentukan jumlah uang yang sanggup diberikan adalah suami dan ibu, alasannya karena ibu dan suami yang tahu kebutuhan hidup keluarga yang sedang dibangun serta kemampuan ibu dan suami untuk memberi kepada orang tua.

Jika mereka bersikap kurang baik atas sikap ibu dan suami maka bersabarlah dan tetap tunjukkan sikap bakti dan menjaga silaturahmi. Semoga kesabaran ibu dalam menyikapi sikap mertua dan keluarga suami yang kurang menyenangkan tersebut dinilai Allah sebagai amal saleh. Jadi bu, diskusikan segala sesuatu bersama suami sehingga tak terjadi salah paham yang dapat mengganggu keharmonisan hubungan suami-isteri. Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Sumber Antara Menafkahi Orang Tua dan Isteri : http://www.salaf.web.id