Ustadz Muhammad Umar As-SewedBukan riwayat hidup beliau yg akan saya tulis dalam kertas ini. Sudah terlalu banyak orang yang menuliskannya dgn indah bahkan kadang berlebihan. Bukan pula perhitungan amal dan perbandingan antara kebaikan dan kejelekan yg akan saya terangkan krn perhitungan amal dan hisab akan Allah tegakkan di hari perhitungan kelak dgn teliti dan akan Allah balas dengan seadil-adilnya.Saya hanya menukilkan nasihat utk seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dari pemikiran Sayid Quthb yg berbahaya dan telah dituangkan kepada kaum muslimin dgn berbagai macam bahasa. Pemikiran beliau ini laku keras di pasaran krn kekaguman kaum muslimin kepada gerakan keberanian dan digantungnya beliau oleh tirani Mesir. Sehingga ketika mereka mendengar peringatan Ahlus Sunnah dari bahaya pemikiran Sayid Quthb mereka tersentak kaget. Jantung mereka seakan berhenti sesaat. Seorang pejuang Islam yg mati syahid di tiang gantungan tirani Mesir dikatakan sesat? Seakan-akan orang yg mati di tiang gantungan tidak mungkin memiliki penyelewengan dan bahaya pemikiran.Maka utk Allah ‘Azza wa Jalla kemudian utk kebaikan dan keselamatan manhaj kaum muslimin serta utk kebaikan Sayid Quthb sendiri yaitu agar penyelewengan dan kerancuan pemikirannya tidak diikuti oleh orang yg lbh banyak yg berarti menambah dosanya kami akan jelaskan beberapa pemikiran beliau yg sangat berbahaya khususnya dalam masalah pengkafiran kaum muslimin. Semoga dapat bermanfaat bagi kita dan dapat berhati-hati darinya.

Untuk membongkar kesesatan pemikiran Sayid Quthb maka saya memakai kitab Adlwa’ Islamiyah ‘ala Aqidah Sayid Quthb oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah sebagai rujukan utamanya.KERANCUAN PEMAHAMAN SAYID TERHADAP LA ILAAHA ILLALLAH Pemikiran takfir Sayid Quthb merupakan akibat dari akidah dan keyakinan yg salah terhadap makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Dia menafsirkan kata ilah dgn al-hakim {yang menghukumi}. Penafsiran ini persis seperti pemikiran Abul A’la Al-Maududi yg ternyata mengambil pemahaman ini dari seorang ahli filsafat barat yaitu Haigle dalam bukunya Al- Hukumah Al-Kulliyah . Syaikh Nadzir Al-Kasymiri {seorang ulama salaf di India} berkata: Syaikh Maududi menampilkan pemikiran filsafat barat dari buku Al- Hukumah Al-Kulliyah dgn dibungkus pemikiran Islam. Sebagai contoh kita nukilkan di sini terjemahan ucapan Sayid dalam bukunya Al-Adalah Al- Ijtima’iyah hal. 182 cet. 12: Sesungguhnya perkara yg menyakinkan dalam Dien ini adl bahwasanya tidak akan tegak di hati ini akidah dan tidak pula dalam kehidupan dunia kecuali dgn mempersaksikan bahwasanya laa ilaha illallah yaitu laa hakimiyata illa lillah hakimiyah yg berujud qadla dan qadar-Nya sebagaimana terwujud dalam syariat dan perintahnya. Demikian pula ucapannya dalam menafsirkan surat Al-Qashash: Huwallahulladzi la ilaha illahuwa.

Dia berkata: Yaitu tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan dan ikhtiar. {Fi Dhilalil Qur`an 5/2707}Bahkan lbh jelas lagi dia berkata dalam tafsir surat An-Nas bahwa Al-ilah adl al-musta’li al- mustauli al-mutasallith. yg semuanya itu bermakna kurang lbh sama yaitu Yang Menguasai .Demikianlah Sayid mempersempit makna ilah hanya kepada rububiyah dan melalaikan makna yang hakiki dari kata ilah yg mengandung makna uluhiyah yaitu yg berhak utk diibadahi .

Penafsiran Sayid ini jelas bertentangan dgn penafsiran para ulama Ahlus Sunnah.Ibnu Jarir berkata dalam menafsirkan ayat dalam surat Al-Qashash di atas: Allah yg Maha Tinggi sebutannya Rabb kamu –wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam— adl yg berhak utk diibadahi yg tidak layak peribadatan itu diberikan kecuali kepadaNya dan tidak ada yg boleh diibadahi kecuali Dia. Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan: Yaitu yg menyendiri dgn uluhiyah dan tidak ada yg berhak diibadahi kecuali Dia. Sebagaimana tidak ada penguasa yg menciptakan apa yg dikehendakinya dan memilih sekehendaknya kecuali Dia. Demikianlah para ulama Ahlus Sunnah memahami kalimat tauhid seperti pemahaman para pendahulunya dari kalangan salafus shalih yaitu tidak ada yg berhak diibadahi kecuali Allah yg terkandung di dalamnya makna rububiyah dan asma wa sifat. Adapun pemahaman Sayid bahwa al-ilah adl al-hakim atau al-musta’li al-mustauli dan al-mutasallith maka perlu dipertanyakan dari mana dia mendapatkan pemahaman seperti ini. Siapa yang memahami demikian dari kalangan shahabat atau para ulama salaf?Pemahaman ini jelas menyimpang krn Ahlus Sunnah secara umum telah memahami bahwa tauhid rububiyah –yaitu mengakui bahwa Allah penguasa dan pencipta— telah diakui oleh sebagian besar orang-orang musyrik jahiliyah.Allah berfirman tentang mereka:قُلْ لِمَنِ الأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُونَKatakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yg ada padanya jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapa pemilik langit yg tujuh dan pemilik ‘Arsy yg besar?’ Mereka akan menjawab ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yg di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yg dilindungi dari -Nya jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘ maka dari jalan manakah kamu ditipu?’ {Al- Mukminun: 84-89}Lupakah Sayid tentang ayat-ayat Allah yg menjelaskan makna kalimat tauhid dgn tauhidul ibadah mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya? Allah berfirman:وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِDan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ Kita sama-sama mengetahui betapa luasnya makna ibadah yg mencakup keyakinan kecintaan ketaatan pengabdian pengagungan ketundukan kekhusyu’an ketakutan harapan dan juga mencakup amalan badan seperti sujud ruku’ thawaf doa istighatsah isti’anah serta mencakup puji-pujian lisan seperti tasbih tahmid tahlil takbir dan lain-lain. Semua itu dilakukan oleh hamba krn rasa butuh hamba kepada Allah dalam rangka dan beribadah kepada Allah. Tidak diberikan jenis-jenis peribadatan ini kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.Anehnya Sayid Quthb membawa nama Arab dan bahasa Arab dalam pemahaman nya itu. Dia berkata: ..bahwasanya mereka dahulu telah mengetahui dgn bahasa mereka apa makna ilah dan makna laa ilaha illallah.… Mereka mengetahui bahwa uluhiyah adalah hakimiyah yg paling tinggi. .Dia juga berkata pada halaman berikutnya: Laa ilaha illallah sebagaimana yg dipahami oleh orang Arab yg mengerti apa-apa yg ditunjukkan oleh bahasanya yaitu: Tidak ada hakimiyah kecuali utk Allah dan tidak ada syariat kecuali dari Allah serta tidak ada kekuasaan seseorang atas seseorang krn kekuasaan seluruhnya milik Allah. .Syaikh Rabi’ dalam membantah ucapan ini berkata: Sesungguhnya apa yg dinisbahkan oleh Sayid kepada bahasa Arab yaitu tentang makna uluhiyah adl hakimiyah tidak dikenal oleh orang Arab dan tidak pula dikenal oleh pakar-pakar bahasa Arab ataupun selain mereka. Bahkan al-ilah menurut orang-orang arab adl al-ma’bud yg para hamba mendekatkan diri kepadaNya dgn ibadah disertai ketundukan penghinaan diri kecintaan dan ketakutan .. Bukan bermakna sesuatu yg mereka berhukum kepadanya. Orang-orang Arab jahiliyah dahulu memiliki tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin yg mereka berhukum kepadanya tetapi mereka tidak menamakannya dgn ILAH . Bahkan sebaliknya mereka memiliki berhala-berhala yg mereka namakan ILAH-ILAH. Seperti LATTA yang berbentuk kuburan. UZZA yg berbentuk tempat keramat serta patung-patung lainnya yang mereka bertawasul berkurban dan beribadah kepadanya tetapi mereka tidak menamakan perbuatan mereka dgn berhukum bertahkim atau HAKIMIYAH!Demikian pula di masa mereka terdapat raja-raja di timur dan di barat tetapi mereka tidak menamakannya dgn ILAH.Ingat! Yang kita bantah di sini bukan kewajiban bertahkim kepada Allah melainkan pemahaman sempit Sayid dgn mengatasnamakan bahasa Arab dan orang-orang Arab. Padahal sama sekali tidak dikenal dalam bahasa Arab bahwa makna ILAH adl HAKIM.KABURNYA PEMAHAMAN SAYID TERHADAP RUBUBIYAH DAN ULUHIYAHKadang-kadang Sayid menafsirkan makna uluhiyah dgn rububiyah. Terkadang pula sebaliknya. Sayid berkata dalam tafsir Surat Ibrahim ayat 52: Makna al-ilah adl Dzat yg berhak utk menjadi RABB yaitu yg menghakimi Yang memiliki Yang berbuat Yang membuat syariat dan Yang mengarahkan. Bahkan dia berkata bahwa pertikaian antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum musyrikin jahiliyah adl dalam masalah rububiyah. Berbeda dgn apa yg disampaikan oleh seluruh ulama ahlus sunnah. Dia mengatakan: ..perkara uluhiyah sedikit sekali menjadi bahan pertikaian pada kebanyakan orang-orang jahiliyah khususnya jahiliyah Arab. Hanya saja yang selalu menjadi bahan pertikaian adl masalah rububiyah. Yaitu masalah penerapan Dien pada kehidupan dunia ini berupa amal nyata yg mempengaruhi kehidupan manusia. {Fi Dhilal}Dari ucapan ini terlihat bahwa Sayid tidak dapat membedakan antara uluhiyah dan rububiyah.

Kemudian apakah akibat dari kerancuan pemahaman Sayid terhadap rububiyah dan uluhiyah dan sempitnya pandangan Sayid terhadap laa ilaha illallah ini?!PENGKAFIRAN SAYID TERHADAP KAUM MUSLIMINAkibatnya sungguh mengerikan! Dia mengkafirkan seluruh kaum muslimin dan umat Islam secara tersirat dan tersurat dan meremehkan kesyirikan dalam masalah ibadah. Perhatikanlah ucapannya: ..termasuk dalam lingkup masyarakat jahiliyah adl masyarakat yg mengaku dirinya muslim. Masyarakat tersebut masuk ke dalam lingkungan ini bukan krn meyakini uluhiyah kepada selain Allah dan tidak pula krn menghadapkan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah tetapi mereka masuk ke dalam masyarakat jahiliyah ini krn tidak beragama dengan ‘peribadatan’ kepada Allah dalam undang-undang kehidupan mereka. Maka yg demikian –walaupun mereka tidak meyakini uluhiyah seorang pun kecuali Allah— tetapi mereka telah memberikan yg paling istimewa dari keistimewaan-keistimewaan ketuhanan kepada selain Allah dan beragama dgn HAKIMIYAH kepada selain Allah.. Tampak dari ucapannya bahwa masyarakat Islam hanya pengakuan padahal sebenarnya mereka adl masyarakat jahiliyah. Terkesan pula bahwa memberikan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah adl masalah sepele bahkan sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali bahwa hampir pada semua tulisan Sayid dalam Fi Dhilalil Qur`an dan yg lainnya tidak memperdulikan para penyembah kubur orang-orang yg melampaui batas terhadap ahlul bait dan para wali serta orang-orang yg memberikan sifat uluhiyah dan ubudiyah kepada mereka. Dia tidak menghukumi manusia kecuali dgn penyelisihannya terhadap hakimiyah. Dan penafsiran Sayid terhadap la ilaha illallah tidak keluar dari HAKIMIYAH KEKUASAAN dan KEPEMIMPINAN semata.Juga ucapan Sayid ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 106:وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُونَTidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan musyrik. Setelah Sayid menyebutkan syirik yg samar dia mengatakan: Dan di sana ada syirik yg tampak jelas yaitu tunduk kepada selain Allah dalam salah satu urusan kehidupan dan tunduk kepada aturan syariat yg dijadikan sebagai hukum. Hal ini merupakan asas dalam kesyirikan yg tidak bisa dibantah. Demikian pula tunduk kepada adat-adat kebiasaan seperti mengadakan perayaan-perayaan musim-musim yg diatur oleh manusia padahal tidak disyariatkan oleh Allah tunduk kepada aturan pakaian yg menyelisihi apa yg diperintahkan oleh Allah utk ditutupi dan membuka aurat-aurat yg syariat Allah telah menetapkan utk ditutup(1). Urusan seperti ini lbh dari sekedar pelanggaran dan dosa penyelisihan syariat karena urusan itu merupakan ketaatan dan ketundukan kepada pemahaman yg umum pada masyarakat berupa ciptaan hamba dan meninggalkan perkara jelas yg muncul dari penguasa para hamba..Sesungguhnya ketika itu bukan lagi dia sebagai dosa melainkan pensyariatan krn yg demikian merupakan ketundukan kepada selain Allah dalam perkara yg menyelisihi perintah Allah.. Dalam ucapan Sayid di atas terdapat dua bahaya besar: Pertama pengkafiran kaum muslimin karena dosa-dosa seperti mengikuti adat kebiasaan berpakaian yg menyelisihi syariat dan lain- lain. Kedua penafsiran Al-Qur`an tidak seperti apa yg dikehendaki Allah khususnya dalam masalah kesyirikan.Hal ini terjadi krn Sayid bersikap ghuluw pada masalah hakimiyah sampai-sampai dia berkata: Sesungguhnya kesyirikian mereka yg asasi bukan dalam keyakinan tetapi pada masalah hakimiyah. Sungguh aneh pemahaman Sayid ini. Bagaimana kira-kira dia menghukumi raja Najasyi yg masuk Islam dgn keyakinannya dan belum sempat mempraktekkan hukum-hukum Islam dan belum menerapkan al-hakimiyah di negerinya? Kalau menurut pemahaman Sayid berarti dia tetap kafir krn –menurutnya— kesyirikan yg hakiki adl pada penerapan hakimiyah dan bukan keyakinan!Adapun pemahaman Ahlus Sunnah adl pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau bersabda kepada para shahabat ketika mendengar Raja Najasyi meninggal:قَدْ تُوُفِّيَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ مِنَ الْحَبَشَةِ فَهَلُمَّ فَصَلُّوْا عَلَيْهِ. Telah meninggal hari ini seorang yg shalih dari Habasyah. Marilah kemari! Shalatkanlah dia! Bagaimana pendapat anda kalau raja Najasyi menerapkan hakimiyah tetapi tidak meyakini aqidah tauhid dan beribadah kepada kuburan-kuburan? Apakah Rasulullah akan menganggap dia sebagai muslim?!ANGGAPAN SAYID BAHWA UMAT ISLAM TELAH LENYAPSaudaraku kaum muslimin sesungguhnya Sayid Quthb tidak menganggap keberadaan kita sebagai muslimin. Dia menganggap umat Islam telah lenyap dgn lenyapnya kekhilafahan! Lihatlah dia berkata dalam bukunya Hadlirul Islam wa Mustaqbaluh : Kami mengajak utk mengembalikan kehidupan yg islami dalam masyarakat yg islami dgn hukum aqidah Islam dan pandangan yg islami sebagaimana dihukumi pula oleh syariat Islam dan aturan yg islami. Kita telah mengetahui bahwa kehidupan Islam seperti ini telah berhenti sejak lama di seluruh permukaan bumi. Dan keberadaan Islam pun telah berhenti.. Tenanglah sebentar! Jangan tergesa-gesa menafsirkan dgn tafsiran pembelaan krn Sayid akan berkata lbh jelas lagi yaitu: ..kami menampakkan kenyataan yg terakhir ini walaupun akan menyebabkan munculnya benturan keras dan keputus asaan dari orang-orang yang masih tetap menginginkan utk menjadi muslimin. Lihatlah dia menyebut kaum muslimin dgn ungkapan: Orang-orang yg ingin menjadi muslimin! Ucapan yg hampir sama ia ucapkan pula dalam bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyah setelah dia membawakan ayat-ayat tentang hakimiyah: Ketika kita memperhatikan seluruh permukaan bumi hari ini di bawah cahaya ketetapan ilahi terhadap pemahaman Dien ini kita tidak mendapatkan keberadaan Dien ini.. Sesungguhnya keberadaan Dien telah lenyap sejak kelompok terakhir dari kaum muslimin melepaskan pengesaan Allah dalam hakimiyah dalam kehidupan manusia. Yang demikian adl ketika mereka meninggalkan berhukum dgn syariat Allah semata dalam segala aspek kehidupan.Kita harus mengakui kenyataan pahit ini dan harus menampakkannya. Janganlah kita khawatir munculnya putus harapan dalam hati-hati kebanyakan orang-orang yg suka utk menjadi muslimin. Mereka seharusnya meyakini bagaimana mereka dapat menjadi muslimin.Sesungguhnya musuh-musuh Dien ini telah menjalankan usaha sejak beberapa abad dan masih tetap melaksanakan usaha-usaha maksimal yg menipu dan jahat utk merampas kehendak kebanyakan orang yg ingin menjadi muslimin? Di sini terlihat pemikiran-pemikiran Sayid yg berbahaya di antaranya anggapan beliau bahwa:1. Kehidupan Islam telah tiada.2. Bahkan wujud Islam telah berhenti.3. Anggapan bahwa kaum muslimin adl orang-orang non muslim jahiliyah yg menginginkan Islam.4. Inti Islam yg hakiki adl tauhid hakimiyah.5. Dia mengharuskan dan menegaskan utk mengumumkan pengkafiran umat Islam.Adakah pengkafiran yg lbh jelas daripada pengkafiran Sayid Quthb ini?! Mana yg dinamakan pengkafiran kalau ucapan seperti ini tidak dinamakan pengkafiran? Perhatikanlah wahai orang-orang yg memiliki pandangan!UMAT ISLAM TELAH MURTAD DAN ADZAB BAGI MEREKA LEBIH KERAS DARIPADA ORANG KAFIR LAINNYASayid Quthb berkata: Telah bergeser jaman kembali seperti keadaan pada hari datangnya Dien ini kepada manusia . Telah murtad manusia menuju peribadatan kepada hamba-hamba dan menuju kerusakan agama-agama. Mereka telah berpaling dari la ilaha illallah walaupun sekelompok dari mereka masih tetap mengumandangkan di menara-menara adzan la ilaha illallah tanpa memahami maksudnya tanpa mengerti apa konsekwensinya padahal dia mengulang-ulangnya. Juga tanpa menolak pensyariatan hakimiyah yg diaku oleh para hamba utk diri-diri mereka. Hal ini sama dgn penuhanan . Sama saja apakah diaku oleh pribadi-pribadi atau team pensyariatan ataupun oleh masyarakat.. {Fi Dhilal 2/1057}Bahkan lbh kejam lagi dia berkata: ..yaitu kemanusiaan seluruhnya termasuk di dalamnya mereka yg mengulang-ulang di menara-menara adzan di timur atau di barat bumi ini kalimat laa ilaha illallah tanpa maksud dan tanpa kenyataan..Mereka paling berat dosanya dan paling keras adzabnya krn mereka telah murtad kepada peribadatan para hamba setelah jelas baginya petunjuk dan krn mereka sebelumnya berada dalam Dien Allah. Lihatlah betapa beraninya Sayid mengkafirkan kaum muslimin dan menganggap mereka orang- orang murtad yg paling keras adzabnya. Padahal mereka masih mengumandangkan adzan dan masih shalat. Lantas apa anggapan dia tentang peribadatan mereka di masjid-masjid?MASJID MENURUT SAYID ADALAH TEMPAT PERIBADATAN JAHILIYAHBertolak dari pengkafiran dia terhadap masyarakat Islam maka Sayid menganggap masjid- masjid mereka sebagai tempat-tempat peribadatan jahiliyah. Dia berkata ketika menafsirkan ucapan Allah dalam surat Yunus:وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَDan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir utk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sembahyang dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yg beriman. Dia berkata: ..inilah pengalaman yg Allah tunjukkan kepada kelompok mukmin agar menjadi teladan. Bukan khusus bagi Bani Israil. Tapi ini adl pengalaman iman yg murni. Kadang- kadang orang-orang beriman mendapati diri-diri mereka terusir pada suatu hari dari masyarakat jahiliyah krn fitnah telah merata thaghut telah bertambah sombong dan manusia telah rusak serta lingkungan telah membusuk. Demikian pula keadaan di jaman Fir’aun pada masa kini. Di sini Allah mengarahkan kita pada beberapa perkara:1. Memisahkan diri dari masyarakat jahiliyah busuknya rusaknya dan kejelekannya sebisa mungkin. Dan mengumpulkan kelompok mukmin yg baik dan bersih dirinya utk mensucikan membersihkan dan melatih serta menyusun mereka hingga datang janji Allah utk mereka.2. Menghindari tempat-tempat peribadatan jahiliyah dan menjadikan rumah-rumah kelompok muslim sebagai masjid yg di sana mereka dapat merasakan keterpisahan mereka dari masyarakat jahiliyah. Kemudian di sana mereka melangsungkan peribadatan kepada Rabb mereka dgn cara yg benar. Dan melanjutkan dgn ibadah tersebut menuju semacam keteraturan dalam lingkungan suasana ibadah yg suci. Apa yg terjadi kalau dakwah Sayid yg seperti ini dibiarkan?!Jelas penafsiran yg batil ini akan mengakibatkan ditinggalkannya masjid-masjid dan munculnya Khawarij-Khawarij gaya baru yg memisahkan diri dari masyarakat Islam dan mengkafirkan mereka. Kemudian siapa yg dimaksud kelompok mukmin kelompok muslim dalam masyarakat jahiliyah ini? Tentu pembaca dapat menebak dgn melihat akidah dan pemikiran Sayid yg telah dijelaskan. Ya tentunya yg dia maksud adl dirinya dan orang-orang yg mengikuti pemikirannya.JALAN KELUAR MENURUT SAYIDIslam telah lenyap muslimin telah murtad masyarakat muslim telah kembali menjadi jahiliyah.

Masjid-masjid telah menjadi tempat-tempat peribadatan jahiliyah..Lalu apa yg harus kita perbuat? Dan bagaimana jalan keluar bagi yg ingin menjadi kelompok muslim ? Dengarlah apa kata Sayid Quthb berkenaan dgn pertanyaan ini: Sesungguhnya tidak ada keselamatan bagi ‘kelompok muslim’ di seluruh dunia dari adzab yg Allah sebutkan:.. أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan dan merasakan sebagian kamu keganasan sebagian yg lain.. kecuali jika mereka memisahkan keyakinan perasaan dan juga prinsip hidup mereka dari masyarakat jahiliyah dan memisahkan diri dari kaumnya. Hingga Allah mengijinkan bagi mereka untuk mendirikan negara Islam yg mereka berpegang padanya. Kalau tidak maka hendaknya mereka merasakan dgn seluruh perasaannya bahwa mereka sendirilah umat Islam dan merasakan bahwa apa dan siapa yg di sekelilingnya yg tidak masuk kepada apa yg mereka masuki adl jahiliyah dan masyarakat jahiliyah.. Inilah jalan keluar menurut Sayid yaitu dgn menjadi Khawarij mengkafirkan dan memisahkan diri dari umat Islam! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.Tidakkah Sayid melihat dakwah Ahlus Sunnah dan para ulamanya di jazirah Arab Yaman India atau yg lainnya? Tidakkah dia melihat perjuangan dakwah mereka dalam memurnikan ajaran Islam? Bahkan apakah Sayid tidak melihat di sampingnya seorang ulama yg berjuang membela tauhid dan sunnah yaitu Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib rahimahullah?!PEMIKIRAN TAKFIR SAYID DIAKUI TOKOH-TOKOH IKHWAN SENDIRISesungguhnya pemikiran takfir Sayid Quthb tidak mungkin dipungkiri lagi. Bahkan telah diakui pula oleh beberapa tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri. Berikut ini kita dengar beberapa ucapan mereka:1. Berkata Yusuf Al-Qardlawi dalam bukunya Awlawiyat Al-Harakah Al-Islamiyah: Dalam fase ini muncul buku-buku As-Syahid Sayid Quthb yg merupakan fase terakhir dari pemikirannya yg mengkafirkan masyarakat dan menunda dakwah sampai kepada keteraturan Islam dgn pembaharuan fikih dan perkembangannya. Menghidupkan ijtihad serta mengajak untuk memisahkan diri secara perasaan dari masyarakat memutus hubungan dgn orang lain mengumumkan jihad fisik melawan seluruh manusia.. 2. Berkata Farid Abdul Khaliq salah seorang tokoh besar Ikhwan dalam kitabnya Ikhwanul Muslimun fi Mizanil Haq hal. 115: Kita mengetahui dari apa yg telah lewat bahwa munculnya pemikiran takfir di kalangan beberapa ikhwan bermula dari penjara Qanathir di akhir tahun lima puluhan dan awal enam puluhan. Mereka terpengaruh oleh Sayid Quthb dan pemikiran-pemikirannya. Mereka mengambil pemahaman darinya bahwa masyarakat ini dalam keadaan jahiliyah dan bahwasanya dia telah mengkafirkan pemerintah yg merasa asing dengan hakimiyah Allah krn tidak berhukum dgn apa yg diturunkan Allah. Juga mengkafirkan rakyatnya krn mereka ridla dgn hal itu. 3. Berkata Ali Gharisah –juga salah seorang tokoh besar Ikhwan— sebagai berikut: Dalam kejadian ini terpecah satu kelompok dari kelompok Islam yg besar ketika keberadaan mereka di penjara-penjara.. bersamaan dgn itu kelompok tersebut bertameng dgn pengkafiran kelompok Islam yg besar. Mereka masih tetap dalam pendapatnya tentang pengkafiran pemerintah penolong-penolongnya serta masyarakat seluruhnya. Kemudian kelompok tersebut berpecah kembali menjadi beberapa kelompok yg masing-masing mengkafirkan yg lain.. {Lihat kembali kitab beliau Al-Ittijahat Al-Fikriyah Al-Mu’ashirah hal.

279}Ucapan-ucapan mereka ini menunjukkan bahwa pemikiran takfir Sayid Quthb telah dikenal oleh kawan dan lawannya. Hanya saja ketika bantahan itu dari kawan satu harakah selalu diiringi basa-basi atau penyamaran agar tidak terlihat seakan-akan permasalahan ini adl permasalahan besar. Seperti Qardlawi setelah ucapan di atas dia berkata: ..Dan buku-buku beliau tersebut memiliki keutamaan-keutamaan dan pengaruh-pengaruh positif yg besar di samping pengaruh-pengaruh negatif. Atau seperti ucapan Ali Gharishah yg tidak menyebutkan siapa atau buku apa atau jamaah apa dia hanya mengatakan kelompok kecil dan kelompok besar .Saudara-saudaraku kaum muslimin bisa jadi sikap basa-basi dan penyamaran yg menyebabkan terasa kecilnya bahaya-bahaya besar ini adl krn mereka satu hizb. Mereka menjaga persatuan dan kesatuan Hizibnya dgn prinsip mereka yg terkenal: KITA SALING TOLONG MENOLONG ATAS APA YANG KITA SEPAKATI DAN SALING TOLERANSI ATAS APA YANG KITA BERBEDA.Kalau begitu bagaimana dgn saudara-saudara kita yg mengaku sebagai Ahlus Sunnah salafiyah tetapi memiliki prinsip yg sama dgn mereka?SIKAP SAYID TERHADAP UTSMAN BIN AFFAN radliallahu ‘anhuIkhwani fiddien a’azzakumullah sesungguhnya pemikiran takfir Sayid Quthb bukan permasalahan sepele. Sikap mengkafirkan seluruh manusia hanya krn dosa-dosa sungguh sangat berbahaya. Tidakkah kita mendengar bagaimana Ali bin Abi Thalib menyikapi Khawarij kemudian memerangi mereka? Tidakkah kita mendengar ucapan beberapa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka sejelek-jelek makhluk?Pemikiran Sayid yg berbahaya ini juga mengakibatkan celaan dan tuduhan kepada para shahabat Nabi seperti para pendahulunya dari kalangan Khawarij dan Syiah khususnya terhadap Utsman bin Affan dan Muawiyah radliallahu ‘anhuma.Sayid Quthb tidak mengakui keberadaan khilafah Utsman radliallahu ‘anhu padahal masa kekhilafahannya paling panjang. Dia berkata: Kami condong kepada anggapan bahwa khilafah Ali radliallahu ‘anhu adl kelanjutan dari khilafah dua syaikh sebelumnya {Abu Bakar dan Umar pent}. Adapun masa Utsman merupakan celah antara keduanya. .

Mengapa?Hal ini setelah Sayid mengatakan pada halaman sebelumnya tentang Utsman sebagai berikut: Sesungguhnya di antara kejelekan yg muncul adl bahwa Utsman mencapai khilafah dalam keadaan tua telah lemah semangat Islamnya dan lemah keinginannya utk tetap tegar menghadapi tipu daya Marwan dan tipu daya Bani Umayah di dalamnya. {Al-Adalah dalam terjemahan terbitan pustaka hal. 270}Bahkan dgn terang-terangan dia meragukan ruh Islam yg ada pada Utsman yaitu setelah Sayid menyebutkan cerita-cerita tentang Utsman yg membagi-bagikan harta pada keluarga dan kerabatnya . Juga setelah menceritakan bahwa Utsman mengangkat gubernur- gubernurnya dari keluarganya sendiri seperti Muawiyah dan Al-Hakam radliallahu ‘anhum..dst.

Kemudian dia berkata: ..Dan bahwasanya para shahabat mengetahui penyelewengan dari ruh Islam ini. Maka mereka saling memanggil utk menyelamatkan Islam dan menyelamatkan khalifah dari bencana ini. Khalifah –dengan ketuaan dan kepikunannya— tidak dapat memegang urusannya dari Marwan. Sesungguhnya sangat susah meragukan ruh Islam di dalam hati Utsman. Tetapi juga sangat sulit memaafkan kesalahan-kesalahannya yg merupakan kesalahan fatal mengenai wilayah dan khilafahnya. Sedangkan dia seorang tua renta yg dikelilingi oleh jajaran orang-orang jelek dari Bani Umayah.. {Al-Adalah hal. 187 cet kelima dan secara makna pada cet. ke 12 hal 159 dan dalam terjemahan PUSTAKA hal. 272}Sebaliknya Sayid Quthb justru memuji dan membela para pemberontak yg membunuh Utsman. Dia berkata: ..akhirnya terjadilah pemberontakan atas Utsman. Tercampur padanya kebenaran dan kebatilan kebaikan dan kejelekan. Tetapi bagi yg memandang perkara ini dengan kaca mata Islam dan merasakan urusan ini dgn ruh Islam pasti dia akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara keumuman lbh dekat kepada ruh Islam dan arahannya daripada sikap Utsman atau lbh tepatnya sikap Marwan dan orang-orang yg di belakangnya dari Bani Umayyah. {Al-Adalah hal. 189 cet. ke 5 dan hal. 161 162 cet. ke 12 dengan beberapa perubahan tetapi intinya sama hanya pada cetakan terakhir ini dia menyebut bahwa hal itu krn pengaruh tipu daya Ibnu Saba’ dan dalam terjemahan hal. 275}(2)Seharusnya dia mengucapkan: Barangsiapa memandang dgn kacamata saya dan merasakan dgn ruh saya.. Karena kesimpulan dan pandangan seperti itu sama sekali bukan dari Islam. Dan saya sudah menulis pada edisi ke-4 tentang pembelaan terhadap Utsman dan sekaligus pembelaan para shahabat terhadap Utsman. Silahkan simak kembali tulisan tersebut. Adapun pandangan Sayid adl pandangan Khawarij Syiah dan Ahli Bid’ah!Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari penyelewengannya dan membuka mata kaum hizbiyah agar melihat bahayanya serta menghilangkan sikap fanatik mereka kepadanya. Amin.Sumber: SALAFY edisi XVI/Dzulhijjah/1417/1997
sumber : file chm Darus Salaf 2