Haditsul Ifk

penulis Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar
Syariah Jejak 22 - Desember - 2006 18:40:23

Pada bulan Sya’ban tahun kelima hijrah terjadilah peristiwa haditsul ifk yg masyhur. Kisah ini bermula ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg biasa jika hendak safar melakukan undian di antara para isteri beliau -itulah salah satu bentuk keadilan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Siapa yg keluar nama dlm undian itu dialah yg menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. mk beliau pun mengundi. Keluarlah nama ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sehingga beliaulah yg diajak Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam perjalanan pulang mereka berkemah di sebuah tempat dan istirahat di akhir malam. Waktu itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bermaksud hendak buang hajat. mk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan utk pergi di akhir malam. Setelah beliau berangkat datanglah rombongan utk mengangkat sekedup -nya. Mereka tdk sadar bahwa ‘Aisyah tdk ada di dlm krn tubuh yg kecil dan ringan. Beliau dinikahi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berusia enam tahun dan mulai bergaul dgn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berusia sembilan tahun. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat meninggalkan dlm usia 18 tahun. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sendiri wafat dlm usia sekitar 63 tahun. Merekapun mengangkat sekedup itu dlm keadaan mengira ‘Aisyah ada di dalamnya.
Ketika ‘Aisyah kembali dari keperluan dia tdk melihat seorangpun di tempatnya. Namun dgn akal dan kecerdasan dia tdk beranjak utk mencari ke sana ke mari. Dia tetap tinggal di tempat itu dan berkata: “Mereka tentu kehilangan saya dan akan kembali ke tempat saya.”
Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala berkuasa atas urusan-Nya. Dia mengatur segala sesuatu dari atas ‘Arsy-Nya sebagaimana yg Dia kehendaki. Selanjut ‘Aisyah diserang kantuk cukup berat. Beliaupun tertidur dan tdk tergugah hingga mendengar suara Shafwan bin Mu’aththal mengucapkan istirja’: “Innaa lillahi wa inna ilaihi raji’un isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ketika itu Shafwan berkemah di bagian belakang pasukan krn sering tidur dan jika sudah tertidur tdk mudah terbangun kecuali jika Allah Subhanahu wa Ta’ala membangunkannya. Tatkala melihat sosok ‘Aisyah dia segera mengenal apalagi dia pernah melihat sebelum turun ayat hijab. Spontan dia mengucapkan kalimat istirja’ memanggil unta dan mendekatkan ke arah ‘Aisyah.
Dia tdk berbicara sepatahpun krn menghormati isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan dia tdk ingin berbicara dgn keluarga beliau tanpa keberadaan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.
Shafwan menderumkan unta lalu meletakkan tangan di atas lutut unta itu namun tdk mengatakan: “Naiklah” dan tdk bicara sepatahpun. Kemudian ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menaiki unta itu dan merekapun berangkat menyusul rombongan pasukan. Shafwan menggiring unta tersebut tanpa menoleh ke arah ‘Aisyah dan tanpa berkata-kata sehurufpun. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhainya.
Akhir mereka menemukan rombongan pada waktu dhuha ketika matahari beranjak naik. Betapa senang kaum munafikin saat mendapatkan celah utk menjatuhkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mulai menuduh shahabat ini berselingkuh dgn seorang wanita mulia yg suci bersih ranjang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menuduh shahabat ini berbuat keji dgn beliau radhiyallahu ‘anha. Lantas mereka pun menyebarkan berita keji ini bahwa shahabat tersebut telah melakukan sesuatu .
Dalam peristiwa ini tergelincirlah tiga orang shahabat mulia. Mereka terjatuh dlm perkara yg menimpa kaum munafikin yaitu Misthah bin Utsatsah putera bibi Abu Bakr Hassan bin Tsabit dan Hamnah bintu Jahsy radhiyallahu ‘anhum.

Berita Tersebar
Kegemparan terjadi. orang2 mulai berkomentar: “Ada apa ini? Bagaimana bisa terjadi?” Ada yg dilanda kegamangan. Ada pula yg demikian kuat mengingkarinya.
Kata mereka: “Tidak mungkin ranjang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan ternoda. Karena ranjang beliau adl ranjang paling suci di muka bumi ini.”
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn Keperkasaan Kekuasaan dan Hikmah-Nya menghendaki ketika itu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha jatuh sakit sehingga tetap di rumah tdk keluar. Biasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menjenguk ‘Aisyah yg sedang sakit menanyakan perihal dan berbicara dengannya. Namun saat itu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam seribu bahasa. Datang masuk dan bertanya: “Bagaimana keadaanmu?” lalu pergi. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merasakan kejanggalan sikap beliau ini. Namun sama sekali tdk terlintas dlm benak ada orang2 yg tengah menggunjingkan kehormatan dan hal-hal yg isi menodai kesucian ranjang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kaum munafikin semakin gencar menyebarkan kebohongan ini bukan semata krn benci kepada pribadi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Karena sesungguh mereka memang membenci seluruh kaum mukminin. Ha saja mereka melakukan ini krn benci kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ingin menyakiti serta melampiaskan dendam kesumat mereka terhadap beliau. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala melenyapkan mereka bagaimana mereka bisa dipalingkan?
Mereka tdk menyebarkan dgn kata-kata yg vulgar tapi dgn kalimat-kalimat sindiran tdk terang-terangan krn sejati mereka memang manusia-manusia pengecut.

Pembelaan dari Atas Langit
Sebulan penuh berlalu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha merasakan kepedihan. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun gelisah belum juga turun wahyu menjelaskan masalah ini. Namun Allah Subhanahu wa Ta’ala betul-betul Maha Pengasih. Dia tdk menyia-nyiakan hamba-Nya yg berbuat ihsan. Apalagi kekasih-Nya hamba yg paling dicintai dan diutamakan-Nya Muhammad bin ‘Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akhir Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan sepuluh ayat Al Quran berkaitan dgn kisah ini dimulai dgn firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الَّذِيْنَ جَاءُوا بِاْلإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لاَ تَحْسَبُوْهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ اْلإِثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. لَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوْهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِيْنٌ. لَوْلاَ جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللهِ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيْهِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُوْنَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللهِ عَظِيْمٌ. وَلَوْلاَ إِذْ سَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَا يَكُوْنُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ. يَعِظُكُمَ اللهُ أَنْ تَعُوْدُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. وَيُبَيِّنُ اللهُ لَكُمُ اْلآيَاتِ وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ. إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ. وَلَوْلاَ فَضْلُ اللهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللهَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

“Sesungguh orang2 yg membawa berita bohong itu adl dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adl baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yg dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yg mengambil bahagian yg terbesar dlm penyiaran berita bohong itu bagi azab yg besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang2 mukminin dan mukminat tdk bersangka baik terhadap diri mereka sendiri dan berkata: ‘Ini adl suatu berita bohong yg nyata.’ Mengapa mereka tdk mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh krn mereka tdk mendatangkan saksi-saksi mk mereka itulah pada sisi Allah orang2 yg dusta. Sekira tdk ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat niscaya kamu ditimpa azab yg besar krn pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dgn mulutmu apa yg tdk kamu ketahui sedikit pun dan kamu menganggap suatu yg ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adl besar. Dan mengapa kamu tdk berkata di waktu mendengar berita bohong itu: ‘Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperbincangkan ini. Maha Suci Engkau ini adl dusta yg besar.’ Allah memperingatkan kamu agar kembali berbuat yg seperti itu selama-lama jika kamu orang2 yg beriman dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguh orang2 yg ingin agar perbuatan yg amat keji itu tersiar di kalangan orang2 yg beriman bagi mereka azab yg pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui sedang kamu tdk mengetahui. Dan sekira tidaklah krn kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang .”
Adapun yg mempunyai andil terbesar dlm penyebaran kabar bohong ini adl gembong munafikin Abdullah bin Ubai bin Salul Al-Munafiq. Karena sebetul dialah yg menyebarkan berita ini.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diam tdk berbicara. Beliau hanya bermusyawarah dgn para shahabat apakah menceraikan ‘Aisyah ataukah tetap menahan . ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyarankan dgn sindiran agar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceraikannya. Karena ‘Ali berpendapat bahwa ini adl suatu hal yg meragukan mk ‘Ali menyarankan agar beliau meninggalkan perkara yg meragukan ini dan berpegang dgn hal-hal yg meyakinkan agar terlepas dari keresahan dan kesedihan krn mendengar berita/omongan orang. Jadi ‘Ali menawarkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam jalan pintas mengobati penyakit tersebut.
Sedangkan Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma ketika mengetahui betapa besar cinta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada ‘Aisyah dan ayahanda juga betapa tinggi kemuliaan kehormatan dan kesucian serta ketakwaan yg terlalu agung utk terjatuh ke dlm perkara seperti itu juga dgn karamah/kemuliaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedudukan beliau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala serta pembelaan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap beliau tdk mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan jadikan isteri kekasih-Nya puteri Ash-Shiddiq sebagaimana tuduhan keji para penyebar berita bohong tersebut.
Akhir ketika para shahabat yg mengenal keadaan ini mereka yg kokoh pengetahuan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya serta kedudukan beliau di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala tentu akan mengatakan sebagaimana perkataan Abu Ayyub dan para pembesar shahabat lainnya:

سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ

“Maha Suci Engkau ini adl dusta yg besar.”
Perhatikanlah ucapan tasbih mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Hal ini menunjukkan betapa kuat ma’rifat mereka terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan utk Rasul dan Khalil-Nya serta manusia paling mulia di sisi-Nya seorang isteri yg jahat dan jalang. Sehingga siapa saja yg mempunyai anggapan seperti ini terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala berarti dia su‘uzhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan orang2 yg mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala serta Rasul-Nya mengerti bahwa perempuan yg keji tdk ada yg pantas bagi kecuali laki2 yg keji pula. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

الْخَبِيْثَاتُ لِلْخَبِيْثِيْنَ

“Wanita-wanita yg keji adl utk laki2 yg keji.”
Sehingga merekapun memutuskan dgn seyakin-yakin tdk diragukan lagi bahwa ini adl dusta besar dan kebohongan yg nyata.
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah dlm tafsir tentang ayat ini menerangkan:
“Ini adl kalimat yg ringkas namun bersifat umum tdk ada satupun yg keluar darinya. Termasuk di antara kosakata paling agung menunjukkan bahwa para nabi terutama Ulul ’Azmi di antara mereka dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sayyid mereka yg merupakan seutama-utama ath-thayyib dari sekalian makhluk secara mutlak. Tidak ada yg sepadan bagi mereka kecuali yg baik dari kalangan wanita. Sehingga cacian terhadap pribadi ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dgn tuduhan seperti ini justru merupakan penghinaan terhadap pribadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah sebetul tujuan berita dusta ini.
Sekedar tahu bahwa beliau adl isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup dimengerti bahwa beliau adl wanita yg baik suci dari tuduhan keji ini. Lantas bagaimana pula bila ternyata dia adl dia?! Seorang wanita shiddiqah yg paling utama paling berilmu paling suci kekasih Rasul Rabb semesta alam yg tidaklah turun wahyu kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau dlm selimut seorang wanita kecuali dia?!
Sehingga kalau ‘Aisyah Ummul Mukminin isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami –dan mustahil terjadi demikian– mk sesungguh ini menampakkan kepada umat manusia bahwa suami adl juga laki2 yg keji dan kotor. Na’udzu billahi mindzalik. Karena wanita yg keji adl utk laki2 yg keji. Akan tetapi beliau radhiyallahu ‘anha adl wanita suci mk suami pun adl seorang laki2 yg suci. Suami adl Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beberapa Hikmah
Jika ada yg bertanya: “Kalau demikian mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersikap tawaqquf/tak berkomentar dlm urusan ini menanyai meneliti dan bermusyawarah padahal beliau adl orang yg paling kuat ma’rifat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala paling tahu tentang kedudukan di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan paling tahu apa yg layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala? Mengapakah beliau tdk ikut mengucapkan: “Maha Suci Engkau Ya Allah ini adl kedustaan besar.” Sebagaimana diucapkan para pembesar shahabat?
Jawabnya: Ini merupakan hikmah nyata yg Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan kisah ini sebagai sebab sekaligus ujian dan cobaan bagi Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga ujian bagi seluruh umat Islam sampai hari kiamat. Melalui kisah ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mengangkat satu golongan dan menghinakan golongan lainnya. Melalui kisah ini pula Allah Subhanahu wa Ta’ala tambah keimanan dan petunjuk bagi mereka yg mau menerimanya. Sedangkan orang2 yg zalim tidaklah bertambah kecuali kerugian belaka.
Semakin lengkap ujian beliau dgn lambat wahyu datang kepada beliau hingga satu bulan lamanya. Semakin terungkap rahasia dan hikmah kelambatan ini dgn bertambah keimanan dan kekokohan mereka yg jujur . Bertambah pula baik sangka mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Rasul-Nya ahli bait beliau dan orang2 yg shiddiq di antara hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebalik semakin tampaklah kedustaan kaum munafikin ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala tunjukkan kepada Rasul-Nya dan kaum mukminin rahasia yg mereka sembunyikan selama ini . Semakin lengkap pula ibadah yg dikehendaki dari Ash-Shiddiqah dan ibu bapak begitu pula ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka.
Dengan kelambatan wahyu ini pula semakin terasa betapa butuh dan harap ‘Aisyah dan ayah ibu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semakin dlm baik sangka mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pupus sudah harapan mereka utk memperoleh pembelaan dari makhluk. Tumpah ruah seluruh harapan tertuju hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab itulah ketika kondisi ini memuncak dan beliau sempurna mencapai kedudukan ini dan tatkala ayah ibu berkata kepadanya: “Berdirilah kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam!” Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan wahyu tentang suci beliau dari semua tuduhan ‘Aisyah justru berkata: “Demi Allah saya tdk akan berdiri kepada beliau. Dan saya tdk akan memuji siapapun kecuali Allah. Dialah yg telah menurunkan wahyu tentang kesucianku.”
Ucapan ‘Aisyah ini menunjukkan betapa dlm pengetahuan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa kuat iman kemurnian tauhid kuat kemauan dan keyakinan bahwa semua itu adl ni’mat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala juga kepercayaan betapa besar cinta Rasulullah kepada sehingga beliau tujukan pujian itu hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Alangkah indah keteguhan dan ketabahan ini di mana semua ini lbh dicintai pada saat hati pilu melihat perubahan sikap sang kekasih selama satu bulan kemudian datanglah keridhaan dan penerimaan. Namun beliau tdk segera berdiri kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahagia dgn keridhaan dan kedekatan beliau padahal ‘Aisyah sangat mencintai beliau. Inilah puncak keteguhan dan kekokohan hatinya.
Di samping itu juga sesungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menampakkan kedudukan Rasul-Nya dan ahli bait beliau serta kemuliaan mereka di sisi-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin melepaskan Rasul-Nya dari kasus ini mk Dia sendirilah yg tampil membela dan membersihkan kekasih-Nya dari tuduhan musuh-musuh-Nya.
Hikmah lainnya; krn sasaran utama peristiwa ini tdk lain adl pribadi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan yg tertuduh adl isteri yg sangat dicintainya. Sehingga tdk pantas kira beliau menjadi saksi kesucian isteri meskipun beliau sangat mengetahui bahkan mempunyai bukti-bukti jauh lbh kuat daripada bukti yg dimiliki kaum mukminin tentang kesucian isterinya. Dan beliau tdk mungkin mempunyai praduga buruk sedikitpun terhadap isterinya. Sebab itulah ketika beliau meminta udzur dari para penyebar berita bohong ini beliau berkata:

مَنْ يَعْذُرُنِي مِنْ رَجُلٍ بَلَغَنِي أَذَاهُ فِيْ أَهْلِي فَوَ اللهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ خَيْرًا وَقَدْ ذَكَرُوا رَجُلاً مَا عَلِمْتُ عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا وَمَا كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أَهْلِي إِلاَّ مَعِي

“Siapa yg memberiku udzur dari seseorang yg gangguan menimpa keluargaku . Demi Allah saya tdk mengetahui keadaan keluargaku kecuali kebaikan. Dan mereka menyebut-nyebut seorang laki2 yg tdk aku ketahui tentang dia kecuali kebaikan bahkan dia tidaklah masuk dlm keluargaku kecuali bersamaku?”
Jelaslah bahwa beliau mempunyai bukti kuat akan kesucian isterinya. Namun krn kesempurnaan kesabaran keteguhan kehalusan serta kepercayaan beliau kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala beliau sempurnakan kesabaran dan baik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai turun wahyu yg menyejukkan pandangan menyenangkan hati serta memuliakan kedudukan beliau. Di samping itu semakin jelas pula bagi umat pembelaan dan perhatian Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Penutup
Telah kita singgung bahwa di antara para shahabat ada juga yg terjatuh ke dlm dosa ini. mk setelah turun ayat surat An-Nur ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan agar mereka yg terlibat dikenakan hukum had. Akhir masing-masing mereka dicambuk 80 kali atas perbuatan mereka. Akan tetapi gembong munafik Abdullah bin Ubai bin Salul tdk dihukum sama sekali. Padahal dialah dalang dari semua kekeruhan ini. Mengapa demikian?
Ibnul Qayyim rahimahullah menukilkan bahwa hukum had ini tujuan adl membersihkan orang yg beriman dan sebagai tebusan atas kesalahan atau dosa yg dilakukannya. Sedangkan orang yg keji tdk pantas menerimanya. Apalagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sudah menyediakan untuk siksaan yg sangat hebat di akhirat. Sehingga cukuplah azab itu sebagai hukum had yg menimpanya.
Akhir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mencambuk Mishthah bin Utsatsah Hamnah bintu Jahsy dan Hassan bin Tsabit radhiyallahu ‘anhum yg jelas-jelas mereka adl dari barisan kaum mukminin yg jujur iman sebagai tebusan dan penyucian atas dosa-dosa mereka. Dan beliau melepaskan Abdullah bin Ubai dari hukuman ini krn memang dia tdk pantas utk dibersihkan.
Dan Al-Hafizh Ibnul Qayyim juga menguraikan alasan-alasan lain namun beliau memilih pendapat yg sudah dipaparkan di atas.
Terakhir berdasarkan pendapat yg shahih bahwasa siapa saja yg melemparkan tuduhan terhadap salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn tuduhan seperti ini mk dia kafir keluar dari Islam. Karena hal itu berarti dia menjatuhkan kehormatan pribadi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Asy-Syaikh As-Sa’di rahimahullah menegaskan bahwa siapa saja yg menuduh salah seorang isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn sesuatu yg Allah Subhanahu wa Ta’ala sucikan ‘Aisyah dengan mk dia kafir murtad wajib diminta bertaubat. Kalau dia bertaubat itulah yg diharapkan kalau tdk mau dia harus dibunuh dgn memenggal kepala lalu bangkai dibiarkan begitu saja tdk dimandikan tdk dikafani dan tdk dishalatkan krn masalah ini adl masalah yg sangat berbahaya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com