Ilmu Syar’i Hakekat Kebaikan dan Pemiliknya

penulis Al Ustadz Abu Ishaq Muslim Al Atsari
Syariah Hadits 05 - Februari - 2005 03:07:20

Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma suatu ketika berkhutbah di atas mimbar seraya berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Siapa yg Allah kehendaki kebaikan bagi Allah akan memfaqihkan dlm agama.”

Hadits yg mulia di atas diriwayatkan oleh Asy-Syaikhani Al-Imam Al-Bukhari dlm beberapa tempat pada kitab Shahih- dan Al-Imam Muslim dlm kitab Shahih-

Kebaikan yg hakiki
Banyak orang menyangka bahwa harta yg melimpah pangkat dan jabatan serta status sosial yg dimiliki merupakan tanda kecintaan Allah kepada seseorang dan menunjukkan Allah menginginkan kebaikan bagi pemiliknya. tdk jarang hal ini membuat pemilik keni’matan tersebut tertipu sehingga ia lupa diri berlaku sombong di muka bumi melupakan Allah dan enggan utk bersyukur.
Demikian pula orang2 di sekitar mereka ikut tertipu dgn melihat orang yg bergelimang keni’matan tersebut sehingga mereka pun iri pada memimpikan dan mengangan-angankan agar mendapatkan keni’matan yg sama.
Mengapa mereka tdk mengambil ibrah dari kisah Qarun seorang yg kaya raya yg hidup di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam dan bagaimana kisah orang2 yg tertipu dgn keni’matan yg diperolehnya:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لاَ تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْفَرِحِيْنَ. وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ اْلآخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي اْلأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ. قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلاَ يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ. فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ. وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلاَ يُلَقَّاهَا إِلاَّ الصَّابِرُونَ. فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ اْلأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ. وَأَصْبَحَ الَّذِينَ تَمَنَّوْا مَكَانَهُ بِاْلأَمْسِ يَقُولُونَ وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَوْلاَ أَنْ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Sesungguh Qarun itu termasuk kaum Musa lalu ia berbuat dzalim dan sombong terhadap kaum . Dan Kami telah menganugerahkan kepada perbendaharaan harta yg kunci-kunci terasa berat dipikul oleh sejumlah orang yg kuat-kuat. ketika kaum berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga sesungguh Allah tdk menyukai orang2 yg terlalu membanggakan diri.” Carilah negeri akhirat dlm apa yg Allah berikan kepadamu dan jangan lupakan bagianmu dari dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah engkau membuat kerusakan di muka bumi. Sesungguh Allah tdk menyukai orang2 yg berbuat kerusakan. Qarun berkata: “Aku diberikan harta ini krn pengetahuan yg kumiliki.” Tidakkah ia mengetahui sesungguh Allah telah membinasakan umat-umat sebelum orang yg lbh kuat dari dan lbh banyak harta dan orang2 yg berdosa tdk perlu dita tentang dosa-dosa mereka. Qarun keluar di hadapan kaum dlm kemegahan . Berkatalah orang2 yg menghendaki kehidupan dunia: “Duhai kira kami memiliki seperti apa yg diberikan kepada Qarun sungguh ia memiliki keberuntungan yg besar.” Berkata orang2 yg dianugerahi ilmu: “Celaka kalian pahala Allah lbh baik bagi orang yg beriman dan beramal shalih dan tdk diperoleh pahala itu kecuali oleh orang2 yg sabar.” mk Kami benamkan Qarun beserta rumah ke dlm bumi. mk tdk ada bagi suatu golongan pun yg menolong terhadap adzab Allah dan tiadalah ia termasuk orang2 yg dapat membela dirinya. Dan jadilah orang2 yg kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu berkata: “Aduhai benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yg Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya. Bila Allah tdk melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita . Aduhai benarlah tdk beruntung orang2 yg mengingkari ni’mat Allah.”
Ternyata kebaikan yg sebenar bukan pada keni’matan yg disebutkan di atas. Namun kebaikan yg hakiki adl kepahaman seseorang terhadap agama kemudian ia beramal dgn ilmunya. Barangsiapa yg faqih dlm agama mk ini merupakan tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi sebagaimana ditunjukkan dlm hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas.
Manusia itu seperti bejana-bejana di antara mereka ada yg Allah Subhanahu wa Ta’ala ketahui kebaikan di hati mk Allah berikan taufik kepada dan di antara mereka ada yg Allah ketahui kejelekan di hati mk Allah menghinakan dan merendahkannya. Orang yg Allah ketahui kebaikan di hati berarti Allah menginginkan kebaikan untuk dan bila Allah menghendaki kebaikan bagi Allah faqihkan dia dlm agama-Nya dan Allah berikan pada ilmu tentang syariat-Nya yg tdk diberikan kepada seorang pun dari manusia. Hal ini menunjukkan sepantas manusia itu bersemangat dgn semangat yg tinggi dan bersungguh-sungguh utk memahami/ mempelajari agama Allah dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala apabila menghendaki terhadap sesuatu Allah akan mempersiapkan sebab-sebab utk mendapatkannya. Dan di antara sebab seorang itu faqih dlm agama adl dgn mempelajari dan bersungguh-sungguh utk mencapai martabat yg mulia ini.
Kefaqihan dlm agama tdk sebatas hanya kepada pengilmuan saja tapi juga dibarengi dgn pengamalan. Karena itu bila seseorang mengetahui sesuatu dari syariat Allah akan tetapi ia tdk mengamalkan mk dia bukanlah orang yg faqih sampaipun seandai ia menghapal kitab yg paling besar dlm ilmu fiqih dan memahami akan tetapi ia tdk mengamalkan mk orang seperti ini tidaklah dinamakan faqih tapi dia hanya disebut qari . Dengan demikian orang yg faqih adl orang yg beramal dgn apa yg diilmuinya. Ia berilmu terlebih dahulu kemudian diikutkan dgn amalannya.
Sulaiman bin Khalaf Al-Baji rahimahullah berkata : “Pernyataan fiqh fid din menyatakan bahwa Allah menghendaki kebaikan pada hamba-hamba-Nya sehingga siapa yg Allah inginkan kebaikan pada Allah faqihkan dia dlm agamanya. Adapun al-khair yg disebutkan di dlm hadits adl masuk al-jannah dan selamat dari api neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Siapa yg dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dlm al-jannah mk sungguh ia beruntung.”
Dengan demikian orang yg tdk tafaqquh fid din yakni tdk mempelajari agama Islam dan cabang-cabang ilmu yg berhubungan dengan mk sungguh ia terhalang dari kebaikan yg diinginkan. Orang yg tdk mengetahui perkara-perkara agama dia bukanlah seorang yg faqih dan bukan pula orang yg mencari pemahaman. mk tepat sekali bila dikatakan kepada orang yg tdk diinginkan kebaikan bagi . Demikian pula di sini ada penerangan jelas keutamaan ahlul ilmi di atas seluruh manusia dan keutamaan tafaqquh fid din di atas seluruh ilmu . Karena dgn ilmu tersebut akan menuntun seseorang kepada taqwallah .”
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Fiqh fid din tdk sebatas fiqih hukum-hukum amaliyah yg dikhususkan oleh ahlul ilmi dgn istilah ilmu fiqih. Akan tetapi yg dimaksud di sini adl ilmu tauhid ushuluddin dan apa yg berkaitan dgn syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seandai tdk ada nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah tentang keutamaan ilmu kecuali dgn hadits ini saja niscaya sudah mencukupi dan sempurna dlm memberi anjuran utk menuntut ilmu syariat dan memahaminya.”
Dan lihatlah kembali kisah Qarun di atas ternyata yg memahami hakikat kebaikan adl orang2 yg dianugerahi ilmu. Mereka tahu bahwa Qarun telah tertipu dgn keni’matan yg diperoleh sehingga memperingatkan kepada manusia yg ingin seperti Qarun.

Ilmu yg mulia adl ilmu syar’i
Berkata seorang penyair:

مَا الْعِلْمُ إِلاَّ كِتَابُ اللهِ وَاْلأَثَرُ
وَمَا سِوَى ذَاكَ لاَ عَيْنٌ وَلاَ أَثَرُ
إِلاَّ هَوًى وَخُصُوْمَاتٍ مُلْفِقَةً
فَلاَ يَغُرَّنَّكَ مِنْ أَرْبَابِهَا هَدَرُ

Tidaklah dinilai ilmu kecuali apa yg ada dlm Kitabullah dan Atsar
Sedangkan yg selain tdk ada wujud dan pengaruhnya
Kecuali hwa nfsu (**) dan pertikaian yg diada-adakan kedustaan padanya
Maka jangan sekali-kali menipumu kebatilan pemilik

Ilmu yg disebutkan tentang keutamaan/kemuliaan dlm nash-nash serta pahala yg akan diperoleh krn mempelajari dan mengamalkan begitu pula diangkat derajat pemilik ilmu tersebut dan tergolong pemilik ilmu tersebut sebagai pewaris para nabi adl ilmu syar’i baik ilmu tersebut yg bersangkutan dgn keyakinan ataupun amalan . Inilah ilmu yg karena seseorang itu dipuji bila dapat mencapai mempelajari dan mengajarkannya. Sehingga bukanlah yg dimaksud di sini ilmu-ilmu yg berkaitan dgn dunia seperti ilmu berhitung dan teknik atau yg serupa dengannya.
Ilmu syar‘i seperti inilah yg dikatakan lbh utama mempelajari daripada mengerjakan ibadah-ibadah sunnah baik berupa puasa shalat dan yg lainnya. Dikatakan demikian krn kemanfaatan ilmu itu mengenai pemilik dan manusia yg lain. Sementara ibadah sunns`ah yg dilakukan badan kemanfaatan terbatas hanya utk pelakunya. Juga krn ilmu tersebut akan membenarkan ibadah seseorang sehingga yg nama ibadah butuh terhadap ilmu dan bergantung dengannya. Selain daripada itu ilmu akan tetap tertinggal atsar sepeninggal pemilik sementara ibadah sunnah akan terputus dgn meninggal pelakunya. Sehingga bisa dikatakan selama ilmu itu ada syariat ini akan tetap hidup dan terjaga bendera-bendera agama ini.
Demikianlah kemuliaan ilmu syar‘i yg begitu dijunjung keberadaan di dlm agama Allah Subhanahu wa Ta’ala ini. Namun apabila kita menengok keberadaaan kita pada hari ini dgn kebanggaan terhadap ilmu-ilmu dunia mk betapa naif dan jelek di mana ilmu syar‘i diremehkan dan direndahkan dihadapan kita. Sehingga bila ada seseorang yg dita pada hari ini tentang pendidikan di mana dia sekolah? Di mana dia belajar? Dan kebetulan dia adl seorang thalibul ilmi syar‘i di satu pesantren ataupun sekolah agama mk dgn malu/ minder ia menjawab: “Saya seorang santri” atau “Saya di jurusan syariah.” Sebalik bila ternyata seseorang itu belajar di sekolah umum dan dita dgn pertanyaan yg sama mk dgn bangga ia mengatakan “Saya di SMU favorit” atau “Saya kuliah di fakultas kedokteran.” Wallahu Al-Musta‘an wa ilallahil musytaka.
Berbeda dgn zaman Salafunas Shalih yg diukir dan dicatat dgn tinta emas di lembaran buku-buku sejarah yg mana mereka itu dibanggakan keberadaan dgn ilmu syar‘i dari berbagai macam cabang yg membuat kita malu mengukur keberadaan kita apabila dibandingkan dan diukur dgn keberadaan mereka rahimahumullah.
Apa yg telah dipaparkan di sini menggambarkan bagaimana keadaan kita dan zaman kita sehingga perlu bagi kita utk mengoreksi diri dan berupaya kembali menuntut ilmu syar‘i yg sungguh ilmu ini sangat bermanfaat sekali bagi diri kita di mana pahala akan terus mengalir kepada pemilik sekalipun jasad telah dikubur dlm tanah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila meninggal anak Adam terputuslah amal kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah ilmu yg bermanfaat dan anak yg shalih yg mendoakannya.”

Kemuliaan ilmu dan ahlinya
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah bersaksi bahwa tdk ada ilah kecuali Dia demikian pula para malaikat-Nya dan orang2 yg berilmu dlm keadaan menegakkan keadilan tdk ada ilah kecuali Dia Yang Maha Mulia lagi Maha Memiliki hikmah.”
Ayat di atas mengemukakan tentang kemuliaan ilmu dan keutamaan serta kemuliaan dan keutamaan ahlul ilmi dibanding selain mereka dari kalangan manusia. Karena bila ada seseorang yg selain mereka menyamai kedudukan mereka niscaya Allah akan menggandengkan persaksian orang itu dgn persaksian-Nya sebagaimana Allah mengandengkan persaksian ahlul ilmi dgn persaksian-Nya.
Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai penyebutan persaksian diri yg kedua Dia sebutkan malaikat-Nya dan yg ketiga Dia sebutkan persaksian ahlul ilmi sehingga cukuplah dgn ini kemuliaan keutamaan kehormatan dan keagungan bagi mereka.”
Demikianlah kemuliaan yg Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan terhadap para pemilik ilmu sehingga tdk sama kedudukan dgn mereka yg tdk memiliki ilmu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Katakanlah apakah sama orang2 yg mengetahui dgn orang2 yg tdk mengetahui ?”
Sebalik orang yg bodoh disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai seorang yg buta yg tdk bisa melihat kebenaran dan kebaikan sebagaimana firman-Nya:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى

“Apakah orang yg mengetahui bahwa al-haq yg diturunkan kepadamu dari Rabbmu sama dgn orang yg buta ?”
Hal ini menunjukkan bahwa yg sebenar memiliki penglihatan dan pandangan yg hakiki hanyalah orang2 yg berilmu. Adapun selain mereka hakikat adl orang yg buta yg berjalan di muka bumi tanpa dapat melihat.
Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata: “Tidaklah sama antara orang yg mengetahui/ mengilmui bahwa apa yg diturunkan oleh Allah adl kebenaran petunjuk dan jalan kebahagiaan dgn orang2 yg buta tentang jalan ini dan ilmu ini. Perbedaan besar antara dua kelompok ini yaitu seperti perbedaan antara orang yg mengetahui al-haq dan mengambil sinar cahaya lalu berjalan di atas petunjuk sampai dia berjumpa dgn Rabb- serta beruntung memperoleh kemuliaan dan kebahagiaan dgn orang yg buta tentang jalan tersebut sehingga ia pun mengikuti hwa nfsu (**) dan berjalan di jalan syaitan dan hwa nfsu (**) .”
Ibnul Qayyim Al Jauziyyah rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala menolak disamakan ahlul ilmi dgn selain mereka sama hal sebagaimana Allah menolak persamaan penghuni surga dgn penghuni neraka:

لاَ يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ الْجَنَّةِ

“Tidak sama antara penghuni an-nar dgn penghuni al-jannah.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

“Allah mengangkat orang2 yg beriman di antara kalian dan orang2 yg memiliki ilmu beberapa derajat.”
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata: “Pengangkatan derajat di sini mencakup pengangkatan secara maknawi di dunia yaitu dgn tinggi kedudukan mereka dan baik reputasi mereka. Dan secara hissiyah di akhirat dgn tinggi kedudukan di surga.”
Cukuplah kemuliaan bagi ilmu dgn Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi pilihan-Nya utk berdoa meminta tambahan ilmu bukan meminta tambahan harta atau yg selain dari perkara dunia:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Katakanlah : Wahai Rabbku tambahkanlah ilmu bagiku.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa yg menempuh sebuah jalan dlm rangka utk mencari ilmu mk Allah akan mudahkan bagi jalan menuju surga.”
Zir bin Hubaisy rahimahullah berkata: Aku mendatangi Shafwan bin ‘Assal radhiallahu ‘anhu utk berta kepada tentang mengusap khuf. mk ia pun berta kepadaku: “Apa yg mengantarmu utk datang ke sini wahai Zir?” Aku menjawab: “ dlm rangka mencari ilmu.” Shafwan pun berkata: “Maukah aku beritakan kabar gembira kepadamu?” Kemudian Shafwan membawakan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ المَلائِكَةَ لَتَضَع أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ

“Sesungguh para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka utk penuntut ilmu krn ridha dgn apa yg dicarinya.”
Masih banyak lagi nash yg menyebutkan tentang keutamaan ilmu dan ucapan ahlul ilmi dlm masalah ini1 yg kalau kami cantumkan akan membutuhkan berlembar-lembar kertas sehingga cukuplah apa yg telah kami sebutkan di atas dari nash yg ada. Semoga menjadi dorongan bagi kami pribadi maupun pembaca utk meraih kebaikan yg hakiki tersebut. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kepada kita ilmu yg bermanfaat dan memberi taufik kepada kita utk senantiasa beramal dgn ilmu. Amin!
Wallahu ta‘ala a‘lam bishawab.

1 Lihat tentang keutamaan dan kemuliaan ilmu dlm kitab Al-Ilmu Fadhuhu wa Syarafuhu yg diringkas kitab ini dan disusun dari kitab Miftah Daris Sa‘adah Al-Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah.

Sumber: www.asysyariah.com