Islam Di Antara Hantaman Badai Peradaban Kuffar

penulis Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq Al-Atsari
Syariah Hadits 15 - Desember - 2004 04:21:18

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

} قُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ اَلْيَهُوْدَ وَ النَّصَارَى ؟ قَالَ } ؟

Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai seandai mereka masuk ke lubang dhabb1 niscaya kalian akan masuk pula ke dalamnya. Kami tanyakan: “Wahai Rasulullah apakah mereka yg dimaksud itu adl Yahudi dan Nashrani?” Beliau berkata: “Siapa lagi kalau bukan mereka?”
Hadits yg mulia di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dlm Shahih- kitab Ahaditsul Anbiya bab Ma Dzukira ‘an Bani Israil dan Kitab Al-I‘tisham bil Kitab was Sunnah bab Qaulin Nabi  “Latattabi‘unna sanana man kana qablakum” dan Al-Imam Muslim dlm Shahih- Kitab Al-‘Ilmi dan diberi judul bab oleh Al-Imam An-Nawawi dlm kitab syarah terhadap Shahih Muslim bab Ittiba‘u Sananil Yahudi wan Nashara.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda yg senada dgn hadits di atas dlm hadits yg dibawakan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

} فَقِيْلَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ كَفَارِسَ وَ الرُّوْم ؟ فَقَالَ : }

“Tidak akan tegak hari kiamat sampai umatku mengambil jalan hidup umat sebelum sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. mk ditanyakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah seperti Persia dan Romawi?”2 Beliau menjawab: “Siapa lagi dari manusia kalau bukan mereka?”
Pengabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm dua hadits yg mulia di atas merupakan tanda dan bukti tentang kebenaran nubuwwah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta merupakan mukjizat beliau yg dzahir krn telah tampak dan telah terjadi apa yg beliau beritakan tersebut.
Terlebih khusus lagi bila kita menyaksikan keadaan kaum muslimin di zaman kita ini kebiasaan menyerupai dan meniru orang Barat yg notabene mereka itu adl orang2 kafir dari kalangan Yahudi dan Nashrani merupakan fenomena yg biasa namun menyakitkan dan menyedihkan. Sehingga dgn budaya penjajah ini kalangan muda maupun orang2 tua dari kaum muslimin seakan merasa minder dan rendah derajat bila tdk sama dgn gaya hidup model dan budaya orang2 kafir . Sebalik mereka merasa bangga dan sangat percaya diri bila mana mereka dapat “tampil sama” atau paling tdk sekedar mirip dgn orang2 kafir.
Budaya “yang penting dari Barat” dan “asal sama dgn Barat” ini telah mencengkeram kehidupan kaum muslimin dari kalangan orang2 metropolitan merambah sampai ke pedesaan dan pedusunan yg terpencil bagaikan sebuah revolusi peradaban yg telah disiapkan oleh orang2 kafir sehingga semua yg datang dari Barat mereka anggap baik dan diterima dgn penuh ketundukan. Ibarat mereka berkata sami’na wa atha’na baik itu cara berpakaian cara bergaul cara makan cara berbicara gaya hidup dan sebagainya.
Budaya-budaya impor yg diobral orang2 Barat lewat media massa baik di televisi yg merupakan da’i yg paling berhasil di sisi mereka ataupun lewat ekspos kehidupan artis-artis mereka yg laku keras diterima oleh kaum muslimin yg maghrur dan buta mata hati dari semua lapisan. Jangankan mereka yg dikatakan bodoh terhadap agama orang yg dianggap tahu agama pun ikut jadi korban.
Berkata Sufyan Ibnu ‘Uyainah rahimahullah dan yg lain dari kalangan salaf: “Sungguh orang yg rusak dari kalangan ulama kita krn penyerupaan dgn Yahudi. Dan orang yg rusak dari kalangan ahli ibadah kita krn penyerupaan dgn Nashrani.”
Gelombang badai yg besar ini menghantam segala apa yg ada di hadapan dan membawa korban yg besar. Wallahu Al-Musta‘an wa ilallahi Al-Musytaka .
Sungguh benar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika menyatakan umat beliau akan meniru dan menyerupai umat terdahulu sejengkal demi sejengkal sehasta demi sehasta. Karena saking ingin sama dan serupa dgn peradaban kafirin bila diibaratkan umat terdahulu masuk ke lubang dhabb yg sedemikian sempit mk umat ini pun akan masuk pula ke dalamnya. Nas’alullah As-Salamah wal ‘Afiyah .
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah menyatakan: “Dalam hadits di atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan penyebutan lubang dhabb krn lubang sangat sempit. Namun bersamaan dgn itu umat beliau akan mengambil jejak umat terdahulu dan mengikuti jalan mereka walaupun seandai mereka masuk ke lubang yg sesempit itu niscaya umat ini akan tetap mengikutinya.”
Yang dimaksud dgn sejengkal sehasta dan penyebutan lubang dhabb dlm hadits ini adl utk menggambarkan betapa semangat umat ini mencocoki umat terdahulu dlm penyelisihan dan maksiat mencontoh mereka dlm segala sesuatu yg dilarang dan dicela oleh syariat.
Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa umat beliau akan mengikuti perkara-perkara baru bid’ah dan hwa nfsu (**) sebagaimana terjadi pada umat-umat sebelum mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan hal ini dlm hadits yg banyak bahwasa di akhir zaman akan ada kejelekan. Dan hari kiamat tdk akan datang kecuali pada sejelek-sejelek manusia dan agama ini hanya tetap tegak di sisi orang2 yg khusus.”3
Dalam hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Yahudi dan Nashrani sedangkan dlm hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut Persia dan Romawi. Karena memang Romawi identik dgn Nashrani sementara di kalangan bangsa Persia ada orang Yahudi. Namun dimungkinkan pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban sesuai dgn tempat yakni dlm perkara yg berkaitan dgn hukum di antara manusia dan politik kemasyarakatan umat ini akan mengikuti Persia dan Romawi. Sedangkan dlm perkara yg berkaitan dgn agama yg pokok maupun yg cabang umat ini akan mencontoh Yahudi dan Nasrani.

Tercela tasyabbuh dan keharusan menyelisihi kuffar
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam nyatakan dlm sabda beliau:

{{لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ{{

“Kalian sungguh-sungguh akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian.”
Tidaklah dimaksudkan beliau memberikan pengesahan dan penetapan tentang boleh hal tersebut namun justru yg beliau inginkan adl memberi tahdzir dari mengikuti orang non muslim dlm perkara kesesatan dan penyimpangan.
Sehingga ketika para shahabat radhiallahu ‘anhum yg baru masuk Islam ketika Fathu Makkah ingin ber-tabarruk dgn pohon beliau mengingkari dgn keras dan menyatakan bahwa ucapan mereka menyerupai dan persis dgn ucapan Bani Israil yg minta sesembahan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Setelah itu beliau mengabarkan bahwa umat beliau akan mengikuti jalan umat terdahulu.
Abu Waqid Al-Laitsi radhiallahu ‘anhu berkata: Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain sementara kami ketika itu baru saja meninggalkan kekufuran -mereka baru berislam ketika Fathu Makkah-. Abu Waqid berkata setelah itu: Lalu kami melewati sebuah pohon kami pun berkata: “Wahai Rasulullah buatkanlah utk kami Dzatu Anwath4 sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath yg berupa sebuah pohon tempat mereka beri’tikaf di sekitar dan menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut.” Mendengar permintaan kami seperti itu bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Allah Maha Besar!5 Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya sungguh kalian telah berucap sebagaimana ucapan Bani Israil kepada Musa: 6 Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti jalan orang2 sebelum kalian.”
Dalam kisah di atas jelas sekali bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan demikian dlm rangka peringatan dan pengingkaran beliau bila umat beliau mengikuti umat terdahulu. Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdillah rahimahullah berkata: “Di sini ada larangan dari perbuatan tasyabbuh dgn orang2 jahiliyyah dari kalangan ahlul kitab dan musyrikin.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “ ini merupakan pengabaran tentang akan terjadi perkara tersebut dan celaan bagi orang yg melakukannya. Hal ini seperti pengabaran beliau tentang apa yg akan dilakukan manusia menjelang datang hari kiamat sebagai tanda-tanda kiamat dan perbuatan-perbuatan mereka nanti berupa perkara-perkara yg diharamkan. Dengan demikian diketahui penyerupaan umat ini dgn Yahudi dan Nashrani serta Persia dan Romawi termasuk perkara yg dicela oleh Allah dan Rasul-Nya.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda sebagai peringatan dari menyerupai suatu kaum:

“Siapa yg tasyabbuh suatu kaum mk ia termasuk dari kaum tersebut.”
Al-Qari rahimahullah berkata: “Siapa yg menyerupai orang2 kafir semisal dlm berpakaian dan selainnya. Atau ia menyerupai orang2 fasik atau orang2 fajir atau dgn pengikut tashawwuf atau menyerupai orang2 yg berbuat kebaikan yakni dlm dosa ataupun dlm kebaikan.”
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Apa yg menimpa sebagian kaum muslimin berupa perkara-perkara yg jelek lagi mengerikan mayoritas terjadi dikarenakan tasyabbuh dgn kuffar. Semisal kesyirikan yg terjadi di Makkah awal disebabkan krn tasyabbuh dgn kuffar.”
Merupakan sifat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk mengubah kemungkaran apabila beliau melihat dan menyerukan kepada yg ma‘ruf dan menganjurkan apabila beliau mengetahuinya. Sehingga ketika ada perkara mungkar baik itu maksiat kesyirikan ataupun kekufuran beliau pasti mengingkarinya. Dan di antara pengingkaran itu adalah beliau paling tdk suka bila ada satu perkara yg dilakukan oleh kaum muslimin menyepakati atau menyerupai orang2 kafir. Hal tersebut salah satu bisa kita lihat dlm peristiwa disyariatkan adzan.
Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata: “Kaum muslimin ketika telah menetap di Madinah mereka berkumpul dan memperkirakan datang waktu shalat dan ketika itu belum ada seruan utk shalat . mk suatu hari mereka membicarakan hal tersebut. Sebagian mereka berkata: “Ambillah lonceng seperti lonceng Nashrani.” Yang lain berkata: “Gunakan terompet seperti terompet Yahudi.” ‘Umar berkata: “Apakah tdk sebaik kalian mengutus seseorang utk memanggil manusia agar berkumpul utk shalat?” Rasulullah  bersabda: “Wahai Bilal bangkitlah serukan adzan utk shalat.”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk menyukai terompet Yahudi yg ditiup dgn mulut dan lonceng Nashrani yg dipukul dgn tangan krn meniup terompet dan membunyikan lonceng itu merupakan perbuatan orang Yahudi dan Nashrani. Hal ini menunjukkan larangan beliau dari seluruh perkara yg merupakan kebiasaan Yahudi dan Nashrani.

Faidah
Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah berkata: “Adapun dlm perkara-perkara yg mubah mk tdk bermasalah mengambil . Sehingga kita boleh mengambil pengetahuan-pengetahuan yg bermanfaat dari musyrikin. Demikian juga barang-barang dagangan dan persenjataan. Perkara-perkara ini sebetul asal utk kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Katakanlah: Siapakah yg mengharamkan perhiasan Allah yg Dia keluarkan utk hamba-hamba-Nya dan yg baik-baik dari rizki? Katakanlah: Perhiasan dan yg baik-baik dari rizki ini diperuntukkan bagi orang2 yg beriman dlm kehidupan dunia dan khusus bagi mereka nanti pada hari kiamat.”
Perkara-perkara yg bermanfaat asal diperuntukkan bagi kaum muslimin. Akan tetapi tatkala kaum muslimin bermalas-malasan musuh-musuh mereka pun mengambil bagiannya. Dengan begitu tdk ada penghalang bagi kaum muslimin utk mengambil perkara-perkara yg bermanfaat tersebut dan ini bukanlah termasuk tasyabbuh. Karena yg dinamakan tasyabbuh hanyalah mengikuti mereka dlm perkara-perkara yg tdk ada faidah dan tdk ada nilai atau mengikuti mereka dlm perkara-perkara yg termasuk dlm ibadah aqidah dan agama.”

Kekokohan Islam
Islam bagaikan mercusuar yg menerangi dan memberi petunjuk kepada kapal-kapal di tengah samudera di malam yg kelam dan pekat sehingga kapal-kapal tersebut bisa terarahkan dan terbimbing di dlm pelayarannya. Kapal yg mau mengambil penerangan dan petunjuk akan selamat berlayar di tengah lautan. Namun bagi yg enggan akan memperoleh hasil kebinasaannya.
Walaupun dgn keberadaan di tengah samudera mercusuar tdk luput dari hantaman badai dan gelombang samudera yg begitu keras dan dasyhat namun ia tetap kokoh berdiri utk memberikan cahaya utk kemanfaatan. Demikian juga gambaran Islam walaupun ia terus dihantam badai dan gelombang yg dahsyat dari musuh-musuh dgn segala makar yg ditujukan utk meruntuhkan namun ia tetap kokoh berdiri dgn sinar yg tetap menerangi. Hal ini tentu krn Allah Subhanahu wa Ta’ala lah yg menyempurnakan cahaya Islam tersebut.

يٌرِيْدُوْنَ لِيُطْفِئُوا نُوْرَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُوْرِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dgn mulut-mulut mereka namun Allah terus menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang2 kafir itu benci .”
Sungguh siapa yg mengambil petunjuk Islam mk ia akan selamat. Sebalik siapa yg meninggalkan dan tdk memperhatikan Islam mk ia akan celaka dan binasa. Dan tentu mengambil petunjuk Islam itu haruslah secara keseluruhan tdk hanya mengambil sebagian lalu sebagian yg lain ditinggalkan. Yang demikian ini juga tdk akan menyelamatkan oleh krn itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

“Masukkanlah kalian ke dlm Islam secara kaffah .”
Islam pun tetap akan berdiri kokoh selama hingga akhir zaman tdk akan runtuh dgn perjalanan waktu yg demikian ini krn Allah Subhanahu wa Ta’ala yg memberikan jaminan terhadap penjagaan yg sejalan dgn penjagaan Allah terhadap kitab suci agama ini sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لحَاَفِظًوْنَ

“Sesungguh Kamilah yg menurunkan Adz Dzikra dan Kami pula yg akan menjaganya”
Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan jaminan terhadap dgn mendatangkan dan memilih penjaga-penjaga agama-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya yg shalihin yg selalu membela agama-Nya sebagaimana Dia Yang Maha Suci berfirman:

يآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللهُ يِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِيْنَ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَلاَ يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لآئِمٍ

“Wahai orang2 yg beriman siapa yg murtad dari agama di antara kalian mk kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yg Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya. Mereka itu merendahkan diri dan lemah lembut terhadap kaum mukminin dan bersikap keras terhadap orang2 kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tdk takut celaan si pencela.”
Demikian pula Rasul-Nya yg mulia Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan dlm sabdanya:

“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yg mendzahirkan al haq tdk bermudharat bagi mereka orang yg menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta’ala sementara mereka dlm keadaan demikian.”
Syaikhuna Muqbil bin Hadi Al-Wadi‘i rahimahullah berkata: “Thaifah yg ditolong ini dikatakan oleh Al-Imam Al-Bukhari bahwasa mereka adl ahlul ilmi. Sementara Al-Imam Ahmad menyatakan: “Bila mereka itu bukan ahlul hadits mk aku tdk tahu lagi siapa yg dimaksud dgn mereka.” Hadits ini walaupun tdk secara lafadz menunjukkan terhadap perkataan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Ahmad namun sesungguh Ahlul Hadits-lah yg seharus dimasukkan paling awal dlm thaifah ini krn kekokohan mereka di atas Al-Haq pengabdian mereka dan pembelaan mereka terhadap Islam. Semoga Allah membalas mereka dgn kebaikan yg banyak atas apa yg mereka sumbangkan terhadap Islam dan muslimin.”
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Yang diinginkan Al-Imam Ahmad adl Ahlus Sunnah wal Jamaah dan orang yg meyakini madzhab ahlul hadits.”
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Dimungkinkan kelompok ini tersebar di berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga ada di antara mereka orang2 pemberani yg berperang ada fuqaha ada muhadditsun ada orang2 yg zuhud ada orang2 yg memerintahkan kepada yg ma’ruf dan melarang dari yg mungkar dan dari kalangan orang2 yg berbuat kebaikan yg lainnya. Dan tdk mesti mereka berkumpul bahkan yg terjadi mereka terkadang terpencar dan tersebar di berbagai penjuru bumi. Hadits ini merupakan mukjizat yg jelas krn thaifah yg bersifat seperti ini terus-menerus ada alhamdulillah sejak zaman beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai sekarang. Dan terus menerus mereka ada sampai datang perkara Allah yg disebutkan dlm hadits.” .
Mudah-mudahan Allah menjadikan kita dari kalangan mereka. Taqabbal da’wana ya Mujibas sailin. Wallahu ta‘ala a’lam bish-shawab.

1 Dhabb adl hewan melata yg hidup di padang pasir serupa dgn biawak.
2 Persia dgn raja mereka Kisra dan Romawi dgn raja mereka Qaishar merupakan dua bangsa yg terkenal di waktu itu. Dua negeri ini merupakan kerajaan terbesar di muka bumi paling banyak penduduk dan paling luas wilayahnya.
3 Mereka inilah yg dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dlm sabda beliau:
}
“Akan terus menerus ada sekelompok dari umatku yg mendzahirkan al-haq tdk bermudharat bagi mereka orang yg menyelisihi mereka hingga datang perkara Allah tabaraka wa ta‘ala sementara mereka dlm keadaan demikian.” -pen.
4 Mereka ingin menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut krn mengharapkan barakah dari pohon tersebut.
5 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir krn menganggap besar permintaan tersebut dan merasa heran bukan bertakbir krn senang. Beliau heran bagaimana bisa mereka mengatakan ucapan seperti itu dlm keadaan mereka beriman bahwasa tiada sesembahan yg berhak disembah kecuali Allah saja.
6 Surat Al-A‘raf ayat 138

Sumber: www.asysyariah.com