Kekokohan Agama dgn Menyempurnakan Pondasinya

penulis Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah
Syariah Akidah 18 - April - 2007 01:52:49

Belajar dari Keberhasilan
Mengkaji jejak keberhasilan umat terdahulu dlm mengangkat dan menyebarkan syiar-syiar Islam adl sesuatu yg mulia. Karena belajar dari sebuah keberhasilan dan berupaya utk meneladani juga merupakan keberhasilan.
Para nabi dan rasul telah berhasil menjalankan amanat dan tugas dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Betapa banyak hati yg tertutup menjadi terbuka dgn hidayah sirna kekufuran dan keingkaran kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala runtuh kekuasaan ajaran iblis serta hancur hukum-hukum thagut yg sebelum bercokol.
Masa kegemilangan itupun berlalu kejayaan itu di masa sekarang bagaikan fatamorgana dlm bayangan terik matahari di padang sahara yg bila didekati hilang begitu saja. Dimanakah letak rahasia kejayaan mereka? Dan di manakah letak dan penyebab kegagalan kita?
Kedua pertanyaan ini butuh jawaban.
Ada dua rahasia dan sebab keberhasilan perjuangan di masa lampau dlm mengibarkan panji-panji tauhid merombak kebusukan keyakinan jahiliyah terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala penyelewengan yg sangat parah dan bercokol kesesatan di benak tiap insani keberhasilan dlm menumbangkan dan meruntuhkan tahta thagutiyyah Fir’aunisme Majusiyyah Shabi’iyyah dan dinasti-dinasti jahiliyah. Keberhasilan menghidupkan hati yg sudah mati mengetuk gendang telinga yg sudah tuli dan membuka mata yg sudah buta sebelum membuka dan menaklukkan berbagai negeri.
Pertama: Kemurnian perjuangan yg dibangun di atas keikhlasan semata-mata mencari wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah rahasia pertama dan utama landasan keberhasilan perjuangan mereka. Landasan yg merupakan sumber kekuatan dan keberanian dlm menghadapi segala kemungkinan yg akan terjadi. Ia merupakan sumber muncul sikap tabah dlm menghadapi segala bentuk ujian dan rintangan dlm mengemban amanat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dengan keikhlasan semua beban hidup yg berat akan menjadi ringan yg besar akan menjadi kecil dan yg sulit akan menjadi mudah. Intisari ikhlas itulah kalimat tauhid “Laa Ilaha illallah.” Keikhlasan merupakan landasan pengabdian para nabi dan rasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm banyak ayat menjelaskan:

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ

“Sesungguh Kami telah menurunkan Al-Kitab kepadamu dgn benar mk sembahlah Allah dgn mengikhlaskan agama bagi-Nya.”

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ. وَأُمِرْتُ لأَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Katakanlah sesungguh aku diperintahkan utk menyembah Allah dgn mengikhlaskan agama bagi-Nya. Dan aku diperintahkan utk menjadi orang yg pertama kali menyerahkan dirinya.”

قُلِ اللهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِيْنِي

“Katakanlah: Aku menyembah kepada Allah dgn mengikhlaskan bagi agamaku.”

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَاءَ

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka menyembah hanya kepada Allah dgn mengikhlaskan bagi Allah agama yg lurus.”

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مُوْسَى إِنَّهُ كَانَ مُخْلَصًا وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا

“Dan ingatlah di dlm kitab tentang nabi Musa sesungguh dia adl seorang yg dipilih dan beliau adl seorang rasul dan nabi.”
Masih teringat dlm benak kita kekejaman dan keangkuhan Fir’aun sebuah kekejaman yg tiada tara yaitu dgn membunuh anak laki2 yg menurut dia akan membahayakan tahta kekufuran yg berada dlm kaki dan taring keberingasannya. Angkuh sampai menobatkan dan memproklamirkan diri sebagai tuhan sesembahan semesta alam.

فَحَشَرَ فَنَادَى. فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ اْلأَعْلَى

“Lalu dia mengumpulkan lalu menyeru: Aku adl tuhan kalian yg tinggi.”
Keberingasan dan keangkuhan tdk memberi manfaat dlm menyebarkan manuver-manuver kufurnya. Sebagian bala tentara harus jujur mengakui kebenaran kerasulan Nabi Musa. Sekali lagi kemenangan keberhasilan kejayaan bersama orang yg ikhlas.
Kedua: Mereka tdk keluar dlm berjuang dari jalur dan garis yg telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sikap ketundukan dan siap menerima titah adl jalan keberhasilan para nabi dan rasul serta orang2 yg mengikuti langkah mereka di tiap masa. Mereka berjalan dlm jalur Ilahi berkata dlm batasan pengajaran-Nya diam dan bergerak dlm bimbingan-Nya. Mereka tdk mengolah dan merancang bagaimana cara menyelamatkan umat dari segala bentuk kerusakan dan kebiadaban hidup serta kekejaman para penentang dan musuh-musuh mereka dgn keluar dari bimbingan wahyu.
Mereka yakin bahwa kemenangan akan diraih melalui jalan yg telah digariskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kegagalan krn menyelisihi perintah-Nya. Mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan bagi hamba jalan yg akan mendatangkan kemaslahatan dan telah memperingatkan dari jalan yg akan memudaratkan.
Jika Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan utk melakukan sesuatu berarti dlm perintah terdapat maslahat hidup bagi mereka di dunia dan di akhirat dan bila Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang utk melakukan sesuatu berarti dlm larangan itu kemudaratan dunia dan akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci kesyirikan krn kesyirikan tersebut akan mengantarkan kepada malapetaka hidup di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengharamkan kebid’ahan krn mengandung kerusakan di dlm mengejar maslahat hidup dunia dan akhirat.
Allah mengharamkan khamr judi mencuri berzina membunuh tanpa alasan yg benar memakan harta orang lain dgn cara yg tdk benar berbuat kedzaliman durhaka kepada kedua orang tua berdusta menipu curang dlm timbangan dan sebagai krn perbuatan tersebut akan mengantarkan kepada kebinasaan dunia dan azab di akhirat.
Tugas perombakan yg dilakukan oleh para nabi dan Rasul serta para pengikut mereka tdk keluar dari koridor wahyu. Jalan wahyu bukanlah jalan yg penuh taburan bunga dan siraman bau yg semerbak. Akan tetapi penuh dgn duri dan sengatan yg berbisa.
Ujian datang silih berganti rintangan datang bertubi-tubi menghunjam qalbu dan raga orang2 yg melewatinya. Demikian dahsyat hingga menyesakkan dada. Allah Subhanahu wa Ta’ala berkisah tentang ucapan mereka dlm situasi yg genting tersebut dlm sebuah firman-Nya:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلاَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ

“Apakah kalian mengira akan masuk ke dlm surga sementara belum datang kepada kalian yg telah menimpa orang2 sebelum kalian ditimpa oleh berbagai penyakit marabahaya dan kegoncangan sampai-sampai Rasulullah dan orang2 yg beriman bersama mengatakan: ‘Kapan pertolongan Allah datang?’ menjawab: ‘Sesungguh pertolongan Allah itu dekat.’”
Al-Imam Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan dlm Tafsir-nya: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan bahwa Dia pasti akan menguji hamba-hamba-Nya dgn berbagai penyakit malapetaka dan segala yg memberatkan hidup sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat atas orang sebelum mereka. Ini merupakan ketetapan sunnah-Nya yg tdk akan berubah dan terevisi. Barangsiapa menegakkan agama-Nya dan syariat-Nya Dia pasti akan menguji dan jika dia bersabar atas keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut dan tdk peduli dgn kesengsaraan yg terjadi di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala mk dia adl orang yg jujur dan telah mendapatkan kebahagiaan yg sempurna serta kepemimpinan yg tinggi.
Barangsiapa menjadikan fitnah manusia bagaikan azab Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm bentuk dia terhalangi utk melangsungkan usahanya dan dipalingkan oleh ujian dari tujuan mk dia adl orang yg berdusta dlm keimanannya. Karena bukan iman bila hanya perhiasan dan angan-angan belaka atau hanya sekedar pengakuan sehingga amal yg akan membenarkan atau mendustakannya… Kemudian krn keras ujian dan sempit dada Rasulullah dan orang2 yg menyertai dlm keimanan berkata: “Kapan datang pertolongan Allah?” mk di saat kemudahan datang setelah kesempitan dan ketika kesempitan menjadi luas Allah berfirman “Ketahuilah sesungguh pertolongan Allah itu dekat.” Demikianlah tiap orang yg menegakkan kebenaran mesti akan diuji. Tatkala ujian itu dahsyat dan berbahaya dan dia bersabar dan tabah hati niscaya ujian itu akan berubah menjadi ni’mat serta kesulitan menjadi kemudahan. Dan setelah itu datang pertolongan atas musuh-musuh dan tersembuhkan hati dari segala yg dirasakan.”
Pergolakan demi pergolakan pun terjadi dan segala kenyataan pahit harus ditelan. Perjalanan sunnatullah yg demikian tidaklah menjadikan mereka melepaskan kebenaran menuju sebuah kemenangan kejayaan dan keberhasilan.
Mustahil akan mendapatkan kejayaan bila dgn cara potong kompas yaitu meninggalkan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menguburnya. Keharusan mengikuti tuntunan syariat menuju kemuliaan kejayaan dan kemenangan telah dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm banyak firman-Nya di antaranya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ

“Katakanlah: Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah mk ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah Maha pengampun dan Maha Penyayang.”
Al-Hasan Al-Bashri berkata: “Bentuk cinta mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adl ittiba’ mereka kepada tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam .”
Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim di dlm Tafsir beliau dari Abu Darda` beliau berkata ‘Ikutilah aku’: “ dlm kebaikan ketaqwaan tawadhu’ dan merendah diri.”

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

“Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasulullah suri tauladan yg baik bagi orang yg mengharapkan Allah dan hari akhir dan bagi orang yg banyak mengingat Allah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yg mengada-ada dlm urusan kami mk dia tertolak.”
Dalam riwayat Al-Imam Muslim beliau bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yg melakukan amalan yg tdk ada perintah dariku amalan tersebut tertolak.”

Memetik Buah Dua Kalimat Syahadat Sebagai Pondasi Islam
Teramat ironis jika ada orang yg telah mengikrarkan dua kalimat syahadat sebagai pondasi bangunan agama dan keyakinan namun terus meneus berlumuran dan berkubang dlm kemaksiatan. Padahal nilai besar dan buah yg agung yg bakal dipetik dari kalimat ini adl sesuatu yg tdk bisa dimungkiri.
Para dedengkot kekufuran dan kesyirikan di masa lalu berubah menjadi orang yg paling baik di dlm agama ini setelah mereka mengikrarkan dua kalimat syahadat. Mereka telah berhasil memetik nilai-nilai keimanan yg benar dlm pengikraran mereka. Sehingga keimanan mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi kuat dan kokoh. Keimanan yg benar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya dan pengamalan yg bersih dari noda-noda yg mengotori kepatuhan dan ketundukan yg sempurna menjadi amaliyah yg besar dlm kehidupan para shahabat.
Nilai-nilai keimanan yg akan dipetik melalui dua kalimat syahadat adalah:
1. Membentuk kepribadian yg ikhlas atau bertauhid.
2. Pengabdian yg murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Ibadah yg tdk keluar dari garis syariat.
4. Ketundukan kepatuhan dlm mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
5. Kecintaan yg hakiki kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya.
6. Mensyukuri segala yg terkait dgn pengutusan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Memetik nilai-nilai yg mulia dlm kedua kalimat ini sangat ditopang dgn kebagusan pemahaman dan pengamalan terhadap Islam secara menyeluruh. Para shahabat terdahulu mereka bisa memetik nilai-nilai mulia dgn begitu mudah dan tepat dikarenakan kebersihan dan kemurnian ilmu yg mereka timba dari lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti bila seseorang ingin memetik nilai-nilai kemuliaan dari dua kalimat ini mk harus pula menempuh jalan yg telah mereka tempuh dlm memahami dan mengamalkan Islam secara menyeluruh. Itulah jalan Salafus shalih umat ini.

Kesempurnaan Islam dgn Menyempurnakan Landasannya
Segenap kaum muslimin telah memaklumi bahwa sebuah bangunan bila tdk didirikan di atas pondasi yg kuat akan cepat runtuh dan hancur. Begitu juga bangunan Islam bila tdk dibangun di atas landasan yg kokoh dan kuat akan cepat runtuh. Namun keruntuhan yg bersifat duniawi tdk sama dgn keruntuhan yg bersifat ukhrawi krn keruntuhan yg bersifat duniawi adl sementara sedangkan keruntuhan yg bersifat ukhrawi adl abadi yg akan berakhir dgn ancaman dan murka dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika keruntuhan bangunan duniawi saja akan mengakibatkan kerugian yg besar mk keruntuhan ukhrawi jauh lbh besar lagi kerugiannya.

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِيْنَ

“Apakah orang2 yg mendirikan bangunan di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yg baik ataukah orang2 yg mendirikan bangunan di tepi jurang yg runtuh lalu bangunan itu jatuh bersama-sama dengan ke dlm neraka Jahannam? Dan Allah tdk memberi petunjuk kepada orang2 yg dzalim.”
Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلىَ خَمْسٍ، شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima landasan bersyahadat Laa ilaha illallah dan Muhammad adl Rasulullah mendirikan shalat menunaikan zakat haji ke Baitullah dan puasa pada bulan Ramadhan.”
Ibnu Rajab menjelaskan: “Yang dimaksud dgn permisalan bahwa Islam dibangun di atas tiang-tiang ini adl tdk akan kokoh melainkan dengannya. Adapun bagian-bagian Islam yg lain bagaikan penyempurna suatu bangunan. Jika salah satu dari penyempurna tersebut kurang niscaya bangunan akan kurang pula namun bangunan tersebut tetap berdiri dan tdk akan runtuh. Berbeda hal jika landasan yg lima ini runtuh Islam akan sirna apabila kelima landasan ini hilang dgn tdk ada keraguan lagi. Demikian juga akan hilang bila hilang dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dgn dua kalimat syahadat adl iman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Syarat-syarat Kekokohan Pondasi
Dari sini kita mengetahui bahwa kesempurnaan agama seseorang dan segala bangunan yg berdiri di atas sangat tergantung pada kekokohan pondasi bangunan tersebut. Syarat agar landasan itu kokoh terlalu banyak dan landasan bangunan Islam adl dua kalimat syahadat dan kekokohan bangunan ada pada kesanggupan utk menyempurnakan syarat-syaratnya.
Wahb bin Munabbih menggambarkan sebagaimana dlm riwayat Al-Imam Al-Bukhari: “Setiap kunci memiliki gigi-gigi dan kunci surga adl Laa Ilaha illallah.”
Beliau juga berkata: “Gigi-gigi kunci tersebut adl syarat jika engkau membawa kunci yg memiliki gigi niscaya akan terbuka pintu dan jika tdk memiliki gigi tdk akan dibuka bagimu.”
Laa Ilaha illallah memiliki syarat-syarat yg harus dipenuhi bagi tiap pengikrarnya. Semua syarat tersebut tdk diharuskan utk dihafal akan tetapi cukup utk diamalkan kandungan walaupun tdk dihafal.
Syarat-syarat terhimpun dlm bait syair dibawah ini:

عِلْمٌ يَقِيْنٌ وَإِخْلاَصٌ وَصِدْقُكَ مَعَ
مَحَبَّةٍ وَانْقِيَادٍ وَالْقَبُوْلِ لَهَا

Ilmu yakin dan ikhlas berikut kejujuranmu bersama.
Cinta ketundukan dan kepasrahan menerimanya.

Syarat pertama: Mengilmui makna kalimat Laa Ilaha illallah
Makna adl mengilmui dan mewujudkan di dlm amal krn tdk cukup hanya mengilmui makna lalu tdk mengamalkannya. Bukankah orang non muslim Quraisy di masa silam lbh mengetahui makna dibanding kaum muslimin di masa sekarang? Namun pengetahuan mereka tentang kalimat yg agung ini tdk menjadikan mereka beriman disebabkan mereka tdk mau mengamalkan apa yg mereka ketahui. Hal tersebut nampak ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru mereka agar mengucapkan Laa Ilaha illallah sembari mereka menyangkal.

أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ

“Apakah dia akan menjadikan tuhan-tuhan menjadi satu tuhan? Sesungguh ini perkara yg sangat mengherankan.”
Tentang syarat ini telah disebutkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dlm firman-Nya:

إِلاَّ مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Kecuali bagi orang yg mempersaksikan kebenaran dan mereka mengetahuinya.”

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ

“Maka ketahuilah bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah.”
Diriwayatkan dari Utsman bin ‘Affan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yg meninggal dan dia mengetahui kalimat La ilaha illallah akan masuk ke dlm surga .”

Syarat kedua: Yakin terhadap makna yg dikandungnya.
Keyakinan yg akan menghilangkan keraguan pada diri seorang muslim. Arti yg mengucapkan meyakini kebenaran kandungan dan konsekuensi kalimat tersebut dgn keyakinan yg pasti dan bukan dgn zhan belaka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيْلِ اللهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُوْنَ

“Sesungguh orang2 yg beriman itu adl orang2 yg beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tdk ragu-ragu pada dan mereka berjihad di jalan Allah dgn harta dan jiwa-jiwa mereka merekalah orang2 yg jujur.”
Di dlm ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyaratkan kejujuran iman orang2 yg beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn tdk ada keraguan padanya. Karena ragu dlm keimanan merupakan sifat orang2 munafiq.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ لَقِيْتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Barangsiapa yg engkau jumpai di belakang tembok ini yg mempersaksikan bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dgn penuh keyakinan dlm hati mk berikanlah kabar gembira dgn surga .”

Sٍyarat Ketiga: Ikhlas
Keikhlasan yg akan memadamkan segala gejolak kesyirikan kemunafikan riya’ dan sum’ah . Karena ikhlas dlm pandangan agama adl membersihkan amalan dgn niat yg baik dari segala noda-noda kesyirikan.

فَاعْبُدِ اللهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّيْنَ

“Maka sembahlah Allah dgn mengikhlaskan agama bagi-Nya.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ

“Orang yg paling berbahagia dgn syafaatku kelak pada hari kiamat adl orang yg mengucapkan Lailahaillallah dgn penuh keikhlasan dari hati .”
Dari ‘Itban bin Malik ia berkata: Telah bersabda Rasulullah:

إِنَّ اللهَ حَرَّمَ عَلىَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ

“Sesungguh Allah telah mengharamkan neraka bagi orang yg megucapkan Lailahaillallah semata-mata mencari wajah Allah .”

Syarat Keempat: Jujur
Kejujuran yg akan menghilangkan sifat dusta. Arti orang yg mengucapkan kalimat Laa Ilaha illallah harus dibenarkan oleh hati krn jika dia mengucapkan dgn lisan lalu hati tdk membenarkan apa yg diucapkan mk dia adl orang munafiq dan pendusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ألم أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُوْلُوا آمَنَّا وَهُمْ لاَ يُفْتَنُوْنَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ

“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengucapkan kami beriman lalu tdk diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orangorang sebelum mereka agar Allah benarbenar mengetahui siapa di antara mereka yg jujur dan siapa yg berdusta.”
Diriwayatkan dari Anas ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ صَادِقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللهُ عَلىَ النَّارِ

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tdk ada sesembahan yg benar melainkan Allah dan Muhammad adl rasul Allah dgn penuh kejujuran dlm hati melainkan Allah akan mengharamkan neraka atas .”

Syarat Kelima: Cinta
Arti cinta terhadap kalimat yg besar ini dgn segala konsekuensi dan mencintai pula orang yg mengamalkan makna beserta syarat-syarat juga membenci para penentangnya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَادًا يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَالَّذِيْنَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا للهِ

“Dan di antara manusia ada orang yg menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan mereka cinta kepada sebagaimana cinta kepada Allah sedangkan orang2 yg beriman sangat cinta kepada Allah.”
Orang yg bertauhid akan mencintai Allah dgn kecintaan yg murni. Sebalik orang yg menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala namun bersamaan dgn itu juga mencintai selain Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan tentu hal ini akan menafikan ketauhidannya.

Syarat Keenam: Ketundukan
Ketundukan dan pasrah diri dlm melaksanakan segala konsekuensi kalimat tersebut dgn cara menolak semua jenis kesyirikan yg akan membatalkan ketauhidan.

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى

“Dan barangsiapa yg memasrahkan wajah kepada Allah dan dia dlm berbuat baik mk sugguh dia telah berpegang dgn tali yg kokoh.”

Syarat Ketujuh: Menerima
Arti menerima kalimat tersebut dan kandungan dgn lisan dan hati beserta segala konsekuensi dgn menghilangkan sikap penolakan apa yg dituntut oleh kalimat tauhid tersebut.

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيْلَ لَهُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ يَسْتَكْبِرُوْنَ وَيَقُوْلُوْنَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُوْنٍ

“Sesungguh mereka jika diserukan utk mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah mereka menyombongkan diri. Dan mereka seraya berkata: Bagaimana kami akan meninggalkan tuhan-tuhan kami krn seorang yg gila.” (lihat ‘Aqidah Tauhid hal. 53-57 karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan Al-Qaulul Mufid fi Adillati At-Tauhid hal. 28-33 karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Yamani Laa Ilaha illallah Ma’naha wa Makanaha wa Muqtadhaha hal. 14-15 karya Asy-Syaikh Shalih Fauzan Tuhfatul Murid Syarh Al-Qaulil Mufid hal. 2 karya Nu’man Al-Watr)
Pembaca yg budiman demikianlah gambaran kecil tentang syarat kalimat tauhid yg merupakan intisari dakwah para nabi dan karena diturunkan kitab-kitab. mk jika kita menginginkan kekokohan dlm agama sempurnakanlah pondasi bangunan Islam tersebut. Demikianlah makna ucapan Ibnu Rajab Al-Hambali sebagaimana di atas.
Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com