Fadhilatu Asy-Syaikh DR . Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaily حفظه اللهبسم الله الرحمن الرحيمAdapun di dalam hadits-hadits diantaranya hadits dari Jabir bin Abdillah yg panjang dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yg artinya: “Sungguh aku telah tinggalkan kepada kalian yg apabila kalian berpegang teguh kepadanya kalian tidak akan tersesat yaitu kitabullah ” .“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adl kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad . Dan perkara yg paling jelek adl mengadakan perkara baru dan seluruh bid’ah adl sesat.”Irbadl bin Sariyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yg artinya: ‘Aku wasiatkan kepada kalian utk selalu bertaqwa kepada Allah mendengar dan taat meskipun yang memimpin seorang budak Habsyi. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yg hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yg banyak maka berpegang teguhlah dgn sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rosyidin Al-Mahdiyyin {para khalifah yg terbimbing dan yg mendapatkan petunjuk }gigitlah dgn gigi geraham dan berhati-hatilah kaliandengan perkara yg baru krn tiap perkara yg baru adl bid’ah dan tiap bid’ah adl sesat. Dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yg artinya: Setiap amalan mempunyai masa semangat dalam mengamalkannya dan tiap masa semangat ada masa lelah. Barang siapa lelahnya diatas sunnahku {dalam rangka menjalankan sunnah} maka dia sesungguhnya telah mendapatkan petunjuk . Barang siapa lelahnya tidak di atas sunnah maka dia sesungguhnya telah binasa .Dan masih banyak hadits lainnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai hal ini.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl orang yg paling tinggi dalam memberikan nasehat kepada manusia orang yg paling tinggi dalam memberikan kebaikan kepada umatnya dan orang yg palingmengetahui keadaan umatnya. Sehingga beliau memerintahkan dan mewasiatkan kepada umatnya agar senantiasa berpegang teguh kepada Al Qur’an dan mengikuti sunnahnya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan mereka agar berhati-hati dgn perkara yg baru . Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhabarkan dan memperingatkan akan terjadinya perselisihan dan perpecahan serta timbulnya bid’ah-bid’ah pada umat beliau. Dan beliau juga menunjukkan jalan yg selamat dari perpecahan dan bid’ah tersebut yaitu dgn berpegang teguh dgn sunnahnya dan sunnah para khalifah setelahnya yg terbimbing dan mendapatkan petunjuk. Mudah-mudahan Allah تعالي yang maha luas kemuliaanya memberikan balasan yg setinggi-tingginya kepada beliau atas nasehat dan bimbingan yg telah beliau berikan kepada umatnya.Adapun atsar dari para sahabat banyak sekali diantaranya:Berkata Muadz bin Jabal di Syam yg artinya: Wahai manusia tetaplah kalian di atas ilmu sebelum diangkatnya ilmu dan ketahuilah bahwa diangkatnya ilmu itu adl dgn meninggalnya ahli ilmu . Berhati-hatilah kalian dari bid’ah berbuat bid’ah dan melampaui batas . Dan tetaplah kalian di atas perkara orang-orang terdahulu .Berkata seorang laki-laki kepada Ibnu Abbas Radhiallahu anhumaa: Berilah wasiat kepadaku .

Berkata Ibnu Abbas kepadanya: Tetaplah engkau bertak-wa kepada Allah dan istiqomahikutilah dan jangan berbuat bid’ah .Berkata Abdullah bin Umar yg artinya: Setiap perkara bid’ah adl sesat meskipun dianggap baik oleh manusia. Ini adl perkataan sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg didasari akal yg sempurna dan pandangan yg sangat dalam mengenai agama. Mereka membaca mempelajari dan menggali dienul Islam kemudian mengamalkannya dan berhenti .

Sesungguhnya tidak ada generasi sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg lbh alim dan faqih dalam agama Islam daripada para sahabat . Mereka adl generasi yg mempunyai sifat-sifat sebagaimana yg dikatakan Abdullah bin Mas’ud yg artinya : Generasi terbaik dari umat ini generasi yg paling tinggi kebaikan hatinya generasi yg paling tinggi ilmunya dan generasi yg paling sedikit takallufnya .Dengan demikian maka wajib bagi kaum muslimin utk ittiba’ {mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam } dan berhenti {cukup dgn syari’at yg dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak melakukan perkara bid’ah}. Sebagaimana para sahabat dalam menjalankan ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka memperingatkan manusia dengan peringatan yg sangat keras dari perbuatan-perbuatan bid’ah demikian juga yg telah dilakukan generasi salaf. Mereka telah mendapatkan keutamaan dan barokah dalam mengikuti para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengambil wasiat-wasiat yg berlandaskan Al Qur’an dan As-Sunnah dalam berpegang teguhpada sunnah dan berhati-hati dari bid’ah.Saya akan sebutkan perkataan generasi salaf setelah para sahabat yaitu dari tabi’in dan lainnya dalam menetapkan perkara yg pokok ini dikarenakan mempunyai kedudukan yg agung dalam agama Islam dan agar diketahui bahwa perkara ini disepakati oleh seluruh generasi salaf. Orang yg menyimpang darinya pasti sesat mubtadi’ dan menyimpang dari dienul Islam.Berkata Ayub As-Sikhtyani yg artinya: Tidaklah seseorang yg berbuat bid’ah menambah kesungguhannya kecuali Allah تعالي semakin menjauhkan dia dari- Nya .Berkata Yunus bin ‘Ubaid kepada anaknya yg duduk dgn seorang tokoh mu’tazilah yg menyeru kepada kebid’ahannya yg bernama ‘Amru bin ‘Ubaid yg artinya: Wahai anakku aku melarangmu dari berbuat zina mencuri dan minum khamr. Sekiranya engkau bertemu Allah تعالي dgn membawa dosa-dosa tersebut lbh aku cintai daripada engkau membawa pemikiran sesat Amru dan para pengikutnya .Berkata Imam Syafi’i yg artinya: Seseorang yg diuji oleh Allah تعالي dgn dosa-dosa yg diharamkan-Nya selain dari syirik itu lbh baik baginya dari pada dia di uji dgn Al Kalam {berbicara dan memahami ilmu agama Allah denganpemikiran sesat yg menyimpang dari bimbingan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam }” . Penjelasan dari Al Qur’an As-Sunnah dan perkataan salaful ummah {para sahabat tabi’in dan atba’ut-tabi’in} di atas menunjukkan wajibnya mengikuti Al Qur’an dan Sunnah serta generasi pertama dari umat ini yg telah dipersaksikan dgn segala kebaikan dan keutamaannya. Dengan demikian seluruh bid’ah adl haram sesat dan binasa. Tidak ada kebaikan sedikitpun pada perbuatan bid’ah dan bahkan dicela dan dihinakan oleh para ulama demikian pula orang-orang yg melakukannya.{Diterjemahkan oleh Al Ustad Abu ‘Isa Nur wahid dari Kitab Mauqifu Ahlussunnati wal Jama’ati min Ahlil Ahwa’i wal Bida’i}Definisi Sunnah Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-HalabyMakna sunnah sebagai hidayah yg menyeluruh dan jalan yg sempurna adl seluruh perkara yg datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam baik perkataan perbuatan ketetapan maupun sifat dan perkara yg ditinggalkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contoh perkataan adl seperti pada hadits : ” Innamal a’malu bin niyat ..“ {“Sesunguhnya tiap amalan tergantung dari niatnya ..“} Perbuatan seperti hadits yg ternukil di dalamnya penjelasan dari Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat atau beramal demikian dan demikian. Ketetapan seperti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang sahabat berbuat atau beramal satu perkara yg kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkannya . Yang berkaitan dgn badan/jasmani seperti hadits yg menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak tinggi dan tidak pendek. Sifat yg berkaitan dgn akhlak seperti hadits yg menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Baik dalam berbicara” “Hidup amalan dan perkataannya“. Perkara yg ditinggalkan yaitu seluruh perkara yg tidak dikerjakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn adanya sebab. Ini juga sunnah. Seperti hadits yg menceritakan tiga orang sahabat yg datang ke rumah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menanyakan ibadah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu salah seorang dari mereka berkata: Aku akan shalat lail selamanya . Yang kedua berkata: Aku akan puasa terus dan tidak berbuka . Yang ketiga berkata: Aku akan menjauhi wanita dan tidak menikah . Maka setelah sampai khabar tersebut kepadanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Demi Allah sesungguhnya aku adl orang yg paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan berbuka aku shalat dan tidur dan aku menikahi wanita. Maka barangsiapa yg membenci sunnahku maka dia bukan dari golonganku.” .Maka perkara ibadah yg ditinggalkan Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak boleh dikerjakan oleh seorang muslim meskipun dihiasi dgn dalil yg batil atau dgn syubhat.

Seperti perkataan: “Kami mengerjakan yg demikian atas dasar maslahat” atau “Demi menyatukan hati kaum muslimin.”Demikian makna sunnah Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.{Diterjemahkan oleh Al Ustadz Abu ‘Isa Nurwahid dari Syarah Hadits Irbadl bin Sariyyah }1}{Shohih Musllim Juz II Hal. 890 No. 1218; Shohih Sunan Abu Dawud Juz II Hal. 462 No.

1905; Ibnu Majah Juz II Hal. 1205 No. 3074}.2}.3}{HR. Ahmad Juz IV Hal. 126; Abu Dawud Juz V Hal. 13; Tirmidzi Juz VII Hal. 438; Ibnu Majah Juz I Hal.15 hadits No.42; Ad-Darimi Juz I Hal. 57; dan yg lainnya seperti Al-Hakim Ibnu Abi ‘Aashim Ibnu Baththah Al-Ajury Al-Lalikaiy. Berkata Syaikh Nashiruddin Al-Albany: “Sanadnya shahih.” Lihat Misykat Al-Mashobikh Juz I Hal. 58 No.165}.4}{HR. Ibnu Hibban Juz I hal. 110; Imam Ahmad Juz II hal. 188 210 158 165; Ibnu Abi ‘Ashim dalam Sunnah-nya hal.28 no. 51}. Berkata Syaikh Al Albani mengenai hadist ini: Hadits Shahih di atas syarat Bukhori dan Muslim. {Lihat Dzilalu Al Jannah dgn Kitab As-Sunnah hal. 28 dan Shahih At Targhib Wa At-Tarhib Juz I hal. 98}.5} .6}{Riwayat Al Marwadzi dalam As-Sunnah hal. 24; Ad-Darimi dalam Sunnah-nya juz I hal. 66; Ibnu Baththoh dalam Al Ibanatu Al Kubro juz I hal 319 dan 337; Al Baghawi dalam Syarh As- Sunnah juz I hal. 214}.7}{Riwayat Al Marwadzi dalam As-Sunnah hal. 24; Ibnu Baththoh dalam Al Ibanatu Al Kubro juz I hal 339; Al Lalika’i dalamSyarah Ushul I’tiqod Ahlussunnah juz I hal. 92}.8} {Bagian dari atsar yg diriwayatkan oleh Al Baghawi dari Abdullah bin Mas’ud ra dalam kitab Syarh As-Sunnah juz I hal 214}.9}.10}{Riwayat Abu Nu’aim dalam Al Khilyah juz III hal. 20-21; Al Lalika’i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlussunnah juz IV hal.741}.11}{Riwayat Al Lalika’i dalam Syarah Ushul I’tiqod Ahlussunnah juz I hal. 146; Abu Nu’aim dalam Al Khilyah juz XI hal. 111; Nashru Al Maqdisi dalam mukhtasar Kitab Al Hujjah ‘Ala Taariki Al Mahajjah hal. 455; Al Baghawi dalam Syarh As-Sunnah juz I hal 217}.Referensi : Buletin Da’wah Al Atsary Semarang Edisi 04/1427H
sumber : file chm Darus Salaf 2