Lezat Ibadah Kepada Ar-Rahman

penulis Al Ustadzah Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah
Sakinah Mutiara Kata 22 - Oktober - 2004 05:50:54

Aktivitas seorang ibu rumah tangga hampir tdk pernah berhenti dlm sehari sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Melayani suami mengasuh anak-anak mengurus rumah dgn segala kebutuhan adl rutinitas yg akrab dgn dirinya. Dengan kesibukan yg ada tdk terasa hari terus bergulir jam demi jam terlewati malam pun kembali menjelang dan tdk terasa hari pun berganti. Demikian seterusnya…
Namun disayangkan di tengah aktivitas ini –yang sebenar bernilai ibadah bila dilakukan ikhlas krn Allah dan berharap pahala dari-Nya– terkadang didapatkan ada sikap tdk bersungguh-sungguh dlm melakukan ibadah kepada Allah seperti shalat lima waktu. Sehingga dgn alasan sibuk bersama si kecil ibadah shalat sering ditunda penunaian sampai hampir keluar dari waktunya. Kalaupun dikerjakan lbh awal dilakukan dgn penuh ketergesaan ditambah lagi dgn ‘gangguan’ si kecil. Shalat tdk lagi dirasakan kelezatan padahal ibadah kepada Ar-Rahman itu memiliki kelezatan bagi orang yg dapat meni’matinya.

Kelezatan Ibadah
Termasuk anugerah terbesar yg Allah berikan kepada seorang hamba adl si hamba dapat merasakan lezat ibadah dgn ketenangan jiwa kebahagiaan hati kelapangan dada dan ketentraman yg ia peroleh ketika melaksanakan ibadah dan sesudah menunaikan ibadah. Kelezatan ini berbeda-beda tingkatan pada tiap individu sesuai dgn kuat atau lemah iman. Kelezatan ini dapat diperoleh bila ditempuh sebab-sebab dan dapat hilang bila hilang pula sebabnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
}
“Dan dijadikan penyejuk mataku di dlm shalat.”
Beliau memberikan pernyataan seperti ini krn beliau mendapatkan kelezatan dan kebahagiaan hati ketika mengerjakan shalat. Panjang shalat malam beliau merupakan satu bukti tentang kelezatan yg beliau peroleh tatkala bermunajat kepada Rabb-nya.
Menjelang wafat Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu menangis. Namun ia bukan menangisi ajal yg akan menjemputnya. Dengarkanlah sebab tangisnya:
إِنَّمَا أَبْكِي عَلَى ظَمَأِ الْهَوَاجِرِ وَ قِيَامِ لَيْلِ الشِّتَاءِ وَ مُزَاحَمَةِ الْعُلَمَاءِ بِالرُّكَبِ عِنْدَ خَلْقِ الذِّكْرِ
“Aku menangis hanyalah krn aku tdk akan merasakan lagi rasa dahaga ketika hari sangat panas bangun malam utk melaksanakan shalat di musim yg dingin dan berdekatan dgn orang2 yg berilmu saat bersimpuh di halaqah dzikir.”

Sebab-sebab mencapai lezat ibadah
Ada beberapa sebab utk mendapatkan lezat beribadah kepada Ar-Rahman di antaranya:
1. Bersungguh-sungguh utk taat kepada Allah hingga jiwa dapat merasakan lezat ibadah
Dan tentu hal ini membutuhkan kesabaran dgn terus memaksa jiwa berjalan di atas ketaatan. Awal memang sulit namun seperti kata seorang penyair Arab:
لَأَسْتَسْهِلَنَّ الصَّعْبَ أَوْ أُدْرِكَ الْمنَى
فَمَا انْقَادَتِ الآمَلُ إِلاَّ لِصَابِر
“Sungguh-sungguh aku akan menganggap mudah kesulitan itu hingga diperoleh apa yg kuinginkan dan kuharapkan
Tak kan tunduk harapan itu kecuali kepada orang yg sabar.”
2. Meninggalkan banyak makan minum berbicara dan memandang tanpa ada keperluan
Sepantas seorang muslim tdk berlebihan dlm makanan dan minuman namun sekadar dapat menegakkan tulang utk membantu utk menunaikan ibadah dan beramal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Wahai anak-anak Adam kenakanlah perhiasan kalian tiap kali menuju ke masjid. Makanlah kalian dan minumlah namun jangan berlebih-lebihan/ melampaui batas krn sesungguh Allah tdk menyukai orang2 yg melampaui batas.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
}
“Makan minum dan berpakaian serta bersedekahlah kalian tanpa berlebih-lebihan dan tanpa takabbur.”
Karena itulah kita dapat melihat orang yg perut penuh dgn makanan mk ia akan malas mengerjakan shalat. Tidaklah ia bangkit menunaikan kecuali laksana ia digiring dgn terbelenggu. Bila ia masuk di dlm shalat ia menanti-nanti saat imam mengucapkan assalamu ‘alaikum wa rahmatullah.
Namun jangan dipahami bahwa seseorang itu harus mengurangi makan dan minum hingga bermudharat bagi tubuh yg akibat akan terluput dari kemaslahatan ukhrawi dan duniawi sebagaimana perbuatan orang2 yg tenggelam dlm sikap ghuluw .
Seorang muslim juga harus mengontrol ucapan lisan dan mempersedikit berbicara sebalik ia menyibukkan lisan dgn berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala amar ma’ruf nahi mungkar dan berdakwah mengajak manusia ke jalan yg benar. Dibolehkan seseorang berucap dgn pembicaraan yg mubah selama tdk berlebihan hingga pada akhir membuat hati menjadi keras dan kaku.
Adapun maksud membatasi pandangan adl membatasi dari memandang apa yg diharamkan ataupun dimakruhkan seperti melihat surat kabar dan majalah yg di dlm memampang gambar-gambar yg memancing dan mengobarkan syhwt (**) serta membawa kepada kehinaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguh pendengaran penglihatan dan hati semua akan dita kelak di hadapan Allah.”
3. Memperbaiki makanan minuman dan penghidupan
Seorang hamba perlu memperhatikan makanan minuman dan penghidupannya. Janganlah ia masukkan ke dlm perut kecuali makanan dan minuman yg halal lagi baik . Demikian pula dari penghidupan yg lain krn makanan minuman dan penghidupan dari hasil yg haram dapat menghalangi seorang hamba dari kebaikan dgn terhalang pengabulan doa oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
. وَ قَالَ تَعَالَى: }
“Sesungguh Allah itu Maha Baik Dia tdk menerima kecuali yg baik. Dan sesungguh Allah telah memerintahkan kepada kaum mukminin dgn apa yg Dia perintahkan kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: . Dan Dia berfirman: . Kemudian Rasulullah menceritakan tentang seorang lelaki yg telah menempuh perjalanan yg panjang dlm keadaan rambut kusut masai lagi berdebu. Ia menengadahkan tangan ke langit seraya menyeru: Wahai Tuhanku wahai Tuhanku. Sementara makanan haram minuman haram pakaian haram dan ia dihidupi dari yg haram lalu bagaimana mungkin doa akan dipenuhi.”
4. Menjauhkan diri dari perbuatan dosa yg kecil terlebih lagi yg besar.
Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata: “Aku tercegah utk melaksanakan shalat malam krn satu dosa yg kuperbuat.”
Ketika Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah duduk di hadapan Al-Imam Malik rahimahullah guna memperdengarkan bacaan Al-Imam Malik kagum dgn kecerdasan kepandaian dan sempurna pemahaman Al-Imam Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berkata: “Aku berpendapat bahwa Allah telah meletakkan di hatimu cahaya mk jangan engkau padamkan cahaya itu dgn kegelapan maksiat.”

Terhalang dari lezat ibadah
Di antara satu tanda yg jelas dari sekian tanda terhalang seseorang dari ni’mat ibadah adl ia merasa berat utk melaksanakan ibadah seperti shalat sehingga kalaupun ia shalat mk ia bangkit dlm keadaan malas seakan-akan ia digiring kepada kematian sementara ia melihat kematian itu di depan matanya. Kita lihat ketika shalat ia seperti ayam yg mematuk-matuk makanan begitu cepat selesainya. Seandai orang ini merasakan lezat shalat niscaya ia akan bersegera mengerjakannya. Ia akan memperbaiki shalat dan seselesai shalat ia sibukkan diri dgn wirid-wirid dan dzikir-dzikir. Namun memang hati yg terpaut dgn dunia merasa berat dan sulit utk melakukannya. Kita mohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala keselamatan dan ampunan sebagaimana kita berharap taufiq dan hidayah-Nya. Wallahu ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com