Pembatal-pembatal Keimanan

penulis Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
Syariah Kajian Utama 20 - Juni - 2007 10:27:26

Di negeri kita banyak sekali terdapat acara ritual persembahan baik berupa makanan atau hewan sembelihan utk sesuatu yg dianggap keramat. Seperti di daerah pesisir selatan pulau Jawa banyak masyarakat memiliki tradisi memberikan persembahan kepada “penguasa” laut selatan. Begitupun di tempat lain yg inti adl agar yg “mbau rekso” berkenan memberikan kebaikan bagi masyarakat setempat. Dilihat dari kacamata agama acara ini sebenar sangat berbahaya krn bisa mengeluarkan pelaku dari Islam.

Iman menurut Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki cabang yg banyak. Di antara cabang-cabang iman tersebut ada yg merupakan rukun ada yg wajib dan ada pula yg mustahab. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً -أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ شُعْبَةً- أَفْضَلُهَا قَوْلَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانِ

“Iman mempunyai 63 atau 73 cabang paling utama adl kalimat tauhid La ilaha illallah dan paling rendah adl menyingkirkan gangguan dari jalan dan malu adl salah satu cabang dari keimanan.”
Dalam hadits yg mulia ini Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan tiga perkara yg terkait dgn keimanan. Pertama adl ucapan yakni kalimat tauhid La ilaha illallah dan inilah hal yg rukun. Kedua adl amalan yakni menyingkirkan gangguan dari jalan dan inilah hal yg mustahab. Sedangkan yg ketiga adl amalan hati yakni malu dan ini termasuk hal yg wajib.
Lawan dari iman adl kufur. Sebagaimana keimanan mempunyai banyak cabang mk kekufuran pun memiliki cabang yg banyak. Namun tdk tiap yg mengerjakan salah satu dari cabang-cabang keimanan menyebabkan pelaku dikatakan mukmin seperti hal tdk tiap yg melakukan salah satu dari cabang kekufuran lantas pelaku dikatakan kafir.
Untuk lbh memperjelas hal di atas salah satu contoh adl orang yg menyambung tali silaturrahmi . Ia belumlah dapat dikatakan mukmin krn amalan tersebut sampai ia mengerjakan rukun-rukun iman. Demikian hal dgn yg meratapi mayit di mana perbuatan ini adl salah satu dari cabang kekafiran. Tidaklah tiap orang yg melakukan hal tersebut menjadi kafir keluar dari Islam.
Pembaca iman itu bukanlah sesuatu yg sempit penggunaannya. Arti tidaklah seseorang itu dikatakan mukmin manakala terkumpul pada sifat atau ciri-ciri keimanan lalu tdk dikatakan mukmin manakala tdk terdapat pada sifat keimanan secara lengkap. Pola pikir semacam ini adl pemikiran dua kelompok sempalan Islam yaitu Khawarij dan Mu’tazilah.
Adapun Ahlus Sunnah mereka menyatakan seseorang bisa saja dlm diri ada sifat-sifat keimanan kemudian kemunafikan atau kekufuran. Dan ini bukanlah hal yg mustahil.
Oleh krn itu seseorang dinyatakan beriman atau menyandang nama iman adl dgn kalimat yg agung yaitu kalimat tauhid La ilaha illallah. Kalimat ini sebagai akad keimanan.
Akad keimanan ini tdk akan lepas dari diri seseorang kecuali dgn perkara yg betul-betul kuat dan jelas-jelas dapat menggugurkan bukan lantaran perkara-perkara yg masih meragukan atau bahkan mengandung kemungkinan-kemungkinan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu mengatakan: “Sesungguh vonis kafir atau kekafiran itu tdk terjadi dgn sebab persoalan yg masih mengandung kemungkinan.”
Keimanan adl ikatan sedangkan pembatal adl hal yg melepaskan atau memutuskan ikatan tersebut. Jadi yg dimaksud pembatal-pembatal keimanan adl perkara atau perbuatan-perbuatan yg menjadikan pelaku kafir keluar dari Islam.
Iman seperti yg telah lewat penyebutan adl ucapan amalan dan keyakinan. Dengan demikian pembatal keimanan pun tdk lepas dari tiga perkara ini yakni qauliyyah ‘amaliyyah dan i’tiqadiyyah .

Pembatal Iman Karena Qauliyyah
Pembatal keimanan krn qauliyyah letak adl lisan yakni seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yg menyebabkan batal keimanan dan menjadi kafir karenanya.
Banyak orang yg memiliki persepsi bahwa ucapan-ucapan yg mengandung kekafiran seperti mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala atau Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau mencela dien dan semisal tidaklah menjadi sebab pelaku kafir keluar dari Islam selama di dlm hati masih ada keimanan. Anggapan ini tentu saja keliru krn bertentangan dgn nash dan apa yg telah ditetapkan ahlul ilmi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوا إِنَّ اللهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguh telah kafirlah orang2 yg berkata: ‘Sesungguh Allah itu ialah Al-Masih putera Maryah’.”

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوا إِنَّ اللهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ

“Sesungguh kafirlah orang2 yg mengatakan: ‘Sesungguh Allah adl salah satu dari yg tiga’.”
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu berkata: “Barangsiapa mengucapkan perkataan kufur dgn lisan dlm keadaan sengaja dan tahu bahwa itu adl ucapan kufur mk ia telah kafir lahir dan batin. Tidak boleh bagi kita terlalu berlebihan sehingga harus dikatakan: ‘Mungkin saja dlm hati ia mukmin’. Siapa yg mengucapkan itu mk sungguh dia telah keluar dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

مَنْ كَفَرَ بِاللهِ مِنْ بَعْدِ إِيْمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِاْلإِيْمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

“Barangsiapa yg kafir kepada Allah sesudah dia beriman kecuali orang yg dipaksa kafir padahal hati tetap tenang dlm beriman . Akan tetapi orang yg melapangkan dada utk kekafiran mk kemurkaan Allah menimpa dan bagi azab yg besar.” (Ash-Sharimul Maslul hal. 524)
Al-Hafizh Ibnu Abdil Bar rahimahullahu menerangkan bahwa para ulama telah bersepakat tentang orang yg mencela Allah dan Rasul-Nya menolak sesuatu yg telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan atau membunuh seorang nabi Allah Subhanahu wa Ta’ala meski dia mengimani apa yg Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan mk dia kafir.
Dengan demikian barangsiapa yg mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala mk dia kafir baik bercanda atau serius. Demikian pula orang yg menghina Allah ayat-ayat-Nya Rasul-Nya dan kitab-kitab-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ لَيَقُوْلُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُ قُلْ أَبِاللهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُوْلِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُوْنَ. لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيْمَانِكُمْ

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka tentulah mereka akan menjawab: ‘Sesungguh kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.’ Katakanlah: ‘Apakah dgn Allah ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf krn kamu telah kafir sesudah beriman.”
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullahu berkata: “Jika mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya padahal dia meyakini dua kalimat syahadat mk dihalalkan darah sebab dgn itu dia telah meninggalkan agamanya.”
Ibnu Taimiyyah rahimahullahu pun menjelaskan hal yg sama ketika membantah pendapat yg menyatakan bahwa ucapan lisan semata tidaklah menyebabkan kekafiran. Beliau berkata: “Sesungguh kita mengetahui bahwa orang yg mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya dlm keadaan sukarela bukan krn terpaksa bahkan orang yg berbicara dgn kalimat-kalimat kufur dgn sukarela dan tdk dipaksa serta orang yg mengejek Allah Subhanahu wa Ta’ala Rasul-Nya dan ayat-ayat-Nya mk dia telah kafir lahir batin.”
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu berkata: “Mencela dien adl kufur akbar dan murtad dari Islam wal ‘iyadzu billah . Apabila seorang muslim mencela agama atau Islam atau melecehkan dan menganggap remeh serta merendahkan Islam mk ini adl riddah dari Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُوْلِهِ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِئُوْنَ. لاَ تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ إِيْمَانِكُمْ

“Katakanlah: ‘Apakah dgn Allah ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?’ Tidak usah kamu minta maaf krn kamu telah kafir sesudah beriman.”
Para ulama secara pasti telah bersepakat bahwa ketika seorang muslim mencela dan merendahkan agama atau mencela Rasul dan merendahkan mk dia murtad kafir halal darah dan hartanya. Jika bertaubat mk diterima taubatnya. Jika tdk mk dibunuh.” CD}

Pembatal Iman Karena ‘Amaliyyah
Pembatal iman yg disebabkan oleh ‘amaliyyah adl seseorang melakukan perbuatan-perbuatan yg menjadikan kafir yakni tindakan yg dilakukan dgn unsur kesengajaan dan penghinaan yg jelas terhadap dien. Seperti sujud kepada patung atau matahari melemparkan mushaf Al-Qur`an ke tempat-tempat kotor sihir dan lain sebagainya.
Tak ada seorangpun dari ahli qiblat yg keluar dari Islam sampai dia menolak satu ayat dari Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menolak sesuatu dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau shalat kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau menyembelih bagi selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Jika ada yg melakukan salah satu dari hal tersebut mk wajib bagimu utk mengeluarkan dari Islam. Demikian ditegaskan Al-Imam Al-Hasan bin ‘Ali Al-Barbahari rahimahullahu dlm Syarhus Sunnah .
Al-Qadhi ‘Iyadh bin Musa rahimahullahu setelah menerangkan kekafiran krn ucapan beliau berkata: “Demikian pula kami menyatakan kafir terhadap perbuatan yg telah disepakati oleh kaum muslimin sebagai perbuatan yg tdk dilakukan kecuali oleh orang2 kafir meski pelaku menyatakan Islam saat melakukannya. Seperti sujud kepada patung atau matahari bulan salib dan api serta berusaha mendatangi gereja dan berjanji setia bersama penghuninya. Semua perbuatan ini tidaklah dilakukan kecuali oleh orang2 kafir.”
Al-Imam Syihabuddin Ahmad bin Idris Al-Qarafi berkata: “Kafir krn perbuatan contoh adl melempar mushaf ke tempat-tempat kotor dan menentang hari kebangkitan menentang kenabian atau sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dgn mengatakan tdk mengetahui atau tdk menghendaki atau tdk hidup dan selainnya.”
Pernah diajukan satu pertanyaan ke hadapan Fadhilatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu mengenai kufur amali yg mengeluarkan dari agama. Beliau menjawab: “Sembelihan utk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sujud kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adl kufur amali yg mengeluarkan dari millah . Demikian pula bila seseorang shalat kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala atau sujud kepada selain-Nya mk dia telah kufur dgn kekufuran amali yg akbar –wal ‘iyadzu billah–. Begitu juga kalau dia mencela dien atau Rasul atau melecehkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Itu semua adl kufur amali yg paling besar menurut seluruh Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Pembatal Iman krn I’tiqadiyyah
Pembatal i’tiqadiyyah adl keyakinan-keyakinan dlm hati atau amalan-amalan hati yg karena membatalkan keimanan. Seperti al-i’radh yakni meninggalkan Al-Haq tdk mempelajari dan tdk pula mengamalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلْ أَكْثَرُهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ الْحَقَّ فَهُمْ مُعْرِضُوْنَ

“Sebenar kebanyakan mereka tiada mengetahui yg hak krn itu mereka berpaling.”
Barangsiapa yg berpaling dari apa yg dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabb dgn cara memalingkan hati dari beriman terhadap atau memalingkan anggota badan dari mengamalkan berarti dia kafir krn pembangkangan itu. 1
Kekafiran krn i’tiqad yg lain adl menolak dan menyombongkan diri di hadapan Al-Haq melecehkan dan melecehkan para pengikut dlm keadaan meyakini bahwa apa yg dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adl benar-benar dari Rabbnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا ِلآدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيْسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِيْنَ

“Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’ mk sujudlah mereka kecuali iblis. Ia termasuk golongan orang2 yg kafir.”
Menganggap halal terhadap sesuatu yg diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan diketahui secara pasti keharaman dlm agama adl penyebab kekafiran terutama jika menyangkut i’tiqad . Adapun kalau menyangkut fi’l mk harus dilihat dulu bentuk perbuatan apakah perbuatan yg menyebabkan pelaku kafir ataukah tidak.
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu pernah dita tentang ketentuan istihlal yg menyebabkan seseorang non muslim. Beliau menjawab: “Istihlal adl seseorang meyakini halal sesuatu yg diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sedangkan istihlal fi’li harus dilihat. Apabila memang menyangkut perbuatan yg dapat menjadikan pelaku kafir mk dia kafir murtad misal seseorang sujud kepada patung mk dia kafir. Mengapa? Karena perbuatan itu menjadikan kafir. Contoh lain adl seseorang yg bermuamalah dgn riba. Ia tdk meyakini riba itu halal tapi tetap melakukannya. mk dia tidaklah kafir krn tdk menganggap halal . Dan diketahui secara umum bahwa memakan harta riba tidaklah menjadikan kafir seseorang tetapi perbuatan tersebut adl dosa besar. Namun bila ada seseorang berkata: ‘Sesungguh riba itu halal’ mk ia kafir krn telah mendustakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya.
Inilah ketentuan istihlal. Dan nampak perlu ditambahkan syarat lain yaitu hendak orang yg melakukan tindakan istihlal ini bukan orang yg mendapat keringanan krn kebodohannya. Jika ternyata demikian keadaan pelaku mk ia tidaklah kafir.
Barangkali di antara pembaca ada yg berta mengapa sujud kepada patung dapat mengeluarkan pelaku dari Islam? Padahal tdk nampak dari perbuatan itu kecuali kufur amali saja.
Jawaban adl krn perbuatan tersebut tdk terjadi melainkan bersamaan dgn lenyap amalan hati seperti niat ikhlas dan patuh. Semua itu tdk terdapat lagi saat seseorang sujud kepada patung. Oleh krn itu meskipun yg nampak adl kufur amali namun berkonsekuensi ada kufur i’tiqadi dan itu pasti.
Jadi tdk tiap kufur amali tdk mengeluarkan pelaku dari millah Islam. Justru sebagian dapat mengeluarkan dari millah Islam.
Bentuk kekafiran krn i’tiqad juga bisa terjadi jika seseorang meyakini ada serikat bersama dgn Allah Subhanahu wa Ta’ala dlm hal wujud-Nya Rububiyah-Nya Uluhiyyah-Nya dan meyakini bahwa nama dan sifat serta perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala adl sama dgn makhluk-Nya. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

“Tidak ada sesuatupun yg serupa dgn Dia dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Membahas tuntas tentang pembatal-pembatal keimanan dan iman itu sendiri membutuhkan tempat dan kesempatan yg luas. Namun mudah-mudahan apa yg telah dijelaskan di atas memberikan sedikit banyak pengetahuan kita seputar hal tersebut.
Wallahul musta’an.

1 Yang dimaksud dgn berpaling yg dapat membatalkan keislaman adl berpaling dari pokok agama yg dgn pokok-pokok itu seseorang menjadi muslim walaupun tdk tahu agama secara detail.

Sumber: www.asysyariah.com