Penundukan Ajaran Agama di bawah Kendali Akal

penulis Al-Ustadz Qomar Suaidi Lc.
Syariah Kajian Utama 24 - Oktober - 2004 03:06:55

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia adl sebagai makhluk yg penuh dgn kekurangan. dlm semua sisi kehidupan kekurangan yg melekat pada manusia ini menyebabkan kemampuan yg dimiliki menjadi sangat terbatas.
Salah satu keterbatasan manusia itu adl kemampuan akalnya. Setiap manusia yg masih bersih fitrah akan mengakui hal ini. Akal manusia tdk akan mampu mengetahui hakikat sesuatu secara sempurna terlebih bila hakikat itu meliputi berbagai permasalahan.
Fungsi akal manusia yg paling besar adl utk mengetahui hakikat kebenaran. Apa kebenaran sejati itu? Sekali lagi bagi orang yg fitrah masih suci akan mengakui bahwa hanya dgn akal seorang manusia tdk akan mencapai kebenaran sejati. Ia akan mengakui utk mengetahui kebenaran harus melalui bimbingan Pencipta yaitu Allah.
Namun tdk demikian dgn orang2 yg terlalu “percaya diri” dgn kemampuan akalnya. orang2 yg merupakan penerus dari paham Mu’tazilah ini merasa tdk butuh dgn bimbingan Allah utk mengetahui kebenaran. Tidak cukup sampai di situ bahkan dgn lancang mereka “mengobrak-abrik” syariat Allah yg menurut akal mereka bukan merupakan kebenaran.
Di Indonesia gerakan ini sudah berlangsung cukup lama antara lain dipelopori oleh Nurcholis Madjid Munawir Syadzali Ahmad Wahib Harun Nasution dan lain-lain. Kini para pengusung madzhab ini bergabung dlm sebuah “sindikat” bernama Jaringan Islam Liberal yg dikomandani oleh Ulil Abshar Abdalla. Di wadah inilah ide-ide gila mereka dikeluarkan secara lbh intens.
Ciri gagasan gila mereka adl berisi gugatan terhadap syariat Allah yg menurut mereka tdk sesuai dgn nilai-nilai kemanusiaan dan akal mereka. Hampir semua sendi agama ini telah digugat mereka seperti syariat tentang jilbab hukum had qishash jenggot jihad larangan perkawinan antar agama hukum waris makna syahadat kebenaran Al Qur’an dan yg paling tinggi adl gugatan terhadap Islam sebagai satu-satu agama yg benar.
Inti mereka tdk setuju dgn aturan-aturan Allah itu dan kemudian memunculkan gagasan yg berlawanan dengannya.
Seperti gagasan bahwa semua agama selain Islam adl benar telah lama dilontarkan oleh mereka. Di antara oleh orang yg mereka anggap sebagai pelopor gerakan “Pembaharu Pemikiran Islam” di Indonesia Ahmad Wahib. Anak muda yg tdk diketahui di mana belajar agama ini berkata: “Aku bukan nasionalis bukan Katolik bukan sosialis. Aku bukan Budha bukan Protestan bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adl semuanya. Mudah-mudahan inilah yg disebut muslim. Aku ingin orang memandang dan menilaiku sebagai suatu kemutlakan tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana aku termasuk serta dari aliran mana saya berangkat.”
Ahmad Wahib yg keseharian sering bergaul dgn para romo Katolik dan mendapat banyak ‘kebaikan’ dari mereka berkata tentang teman dekat itu: “Aku tdk yakin apakah Tuhan tega memasukkan romoku itu ke neraka.”
Dengan berbagai pernyataan yg nyleneh itu dlm usia yg masih muda Ahmad Wahib telah menjadi “tokoh” nasional kebanggaan salibis. Pujian setinggi langit utk Ahmad Wahib banyak menghiasai media massa salibis semasa hidup .
Seruan yg sama juga sering dilontarkan Nurcholis Madjid dgn slogan pluralismenya. Inti sama yakni menyerukan bahwa semua agama memiliki kebenaran yg sama.
Tokoh lain yg cepat “naik daun” krn lbh berani dlm mengeluarkan pernyataan-pernyataan adl Ulil Abshar Abdalla . Tentang kebenaran agama selain Islam Ulil Abshar mengatakan: “Semua agama sama semua menuju jalan kebenaran. Jadi bukan Islam yg paling benar.”
Dalam buku Fikih Lintas Agama hal. 214 disebutkan: Ayat yg lbh tegas tentang keselamatan agama-agama lain adl Surat Al-Baqarah ayat 62.
Dalam buku yg sama hal. 20 disebutkan: Kesamaan dan kesatuan semua agama para nabi juga ditegaskan oleh Nabi sambil digambarkan bahwa para nabi itu satu saudara lain ibu namun agama mereka satu dan sama. Salah satu adl hadits Al-Bukhari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku lbh berhak atas ‘Isa putra Maryam di dunia dan di akhirat para nabi adl satu ayah dari ibu yg berbeda-beda dan agama mereka adl satu.”
Pada hal. 21 disebutkan: …penjelasan tersebut menegaskan prinsip-prinsip hubungan antar agama yg dapat diturunkan dari Al Qur’an yg menegaskan ada pluralisme agama.
Kutipan-kutipan di atas memuat kesimpulan berikut ini:
- Bukan Islam yg paling benar.
- Agama-agama selain Islam adl agama yg selamat.
- Pluralisme agama dibenarkan Al Qur’an dan hadits Nabi.
Bantahan:
Mereka berkesimpulan bahwa bukan Islam yg paling benar. Yang lain apapun agama itu –demikian yg tampak dari ucapannya– juga benar. Bahkan mungkin lbh benar dari Islam. Demikian yg dipahami dari ucapan mereka.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُوْلُوْنَ إِلا كَذِبًا
“Sungguh besar kalimat yg keluar dari mulut mereka mereka tdk mengatakan kecuali dusta.”
Sesungguh seorang muslim yg masih suci fitrah tahu kebatilan ucapan ini. Kalimat ini adl ucapan kufur dan merupakan perkataan tentang agama Allah tanpa ilmu. Namun jika hati tertutup siapapun dia tdk akan mengetahui kebatilan bahkan lbh parah krn hal itu dianggap sebagai sesuatu yg benar. Alasan sepele: “Semua agama sama semua menuju jalan kebenaran.” Dengan mudah ia menyimpulkan dgn akalnya. Apakah tiap orang yg menuju kepada kebenaran itu akan sampai? Tentu jawab tidak. Ibnu Mas’ud mengatakan: “Betapa banyak orang yg menginginkan kebaikan tapi tdk mendapatkannya.”
Ini adl sesuatu yg sama-sama kita saksikan. Tidak akan memungkiri kecuali orang yg congkak. Kalau jalan Yahudi Nashrani Majusi dan agama lain itu benar utk apa Nabi mengajak mereka masuk Islam dan ketika mereka menolak terjadi permusuhan dan pertumpahan darah? Bagaimana kemudian dianggap agama selain Islam lbh benar?! Fa’tabiru ya Ulil Abshar! .
Kesimpulan kedua agama lain selain Islam adl agama yg selamat arti tdk dimurkai Allah dan tdk diadzab.
Tentu ini bukan ucapan seorang muslim dan tdk ada seorang muslim yg hakiki kecuali tahu betapa batil sesat dan kufur kalimat ini. Sayang ia mengelabuhi orang dgn berdalil surat Al-Baqarah ayat 62:
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ
“Sesungguh orang2 mukmin orang2 Yahudi orang2 Nashrani dan orang2 Shabi’in siapa saja di antara mereka yg benar-benar beriman kepada Allah hari kemudian dan beramal shalih mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tdk pula mereka bersedih hati.” Ia memahami ayat tersebut dgn akal yg sudah terkotori oleh noda pluralisme sehingga menganggap masing-masing dari Yahudi dan Nashrani benar dan selamat.
Ibarat mereka seperti orang yg membaca ayat yg arti “Celaka orang yg shalat…” lalu berhenti dan tdk diteruskan. Atau ayat “Jangan kalian mendekati shalat…” dan tdk dibaca kelanjutan ayat “dalam keadaan kalian mabuk.”
Sungguh ini adl akhlak Yahudi yg beriman dgn sebagian ayat dan kafir dgn sebagian yg lain.
أَفَتُؤْمِنُوْنَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُوْنَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّوْنَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebagian yg lain? Tiada balasan bagi orang yg berbuat demikian daripadamu melainkan kenistaan dlm kehidupan dunia. Dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yg sangat berat. Allah tdk lengah dari apa yg kamu perbuat.”
Bukankah kita dlm memahami ayat Al Qur’an harus merujuk kepada ayat lain yg menjelaskan demikian pula merujuk kepada hadits Nabi yg Allah pasrahi utk menjelaskan Al Qur’an? Dikemanakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيْحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ. اتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللَّهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“orang2 Yahudi berkata: ‘Uzair itu putera Allah’ dan orang Nashrani berkata: ‘Al Masih itu putera Allah’. Demikian itulah ucapan mereka dgn mulut mereka mereka meniru perkataan orang2 kafir yg terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang2 alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tdk ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yg mereka persekutukan.”
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ جَمِيْعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Sesungguh telah kafirlah orang2 yg berkata: ‘Sesungguh Allah itu ialah Al Masih putera Maryam’. Katakanlah: ‘Maka siapakah yg dapat menghalang-halangi kehendak Allah jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta ibu dan seluruh orang2 yg berada di bumi semuanya?’ Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yg di antara keduanya; Dia menciptakan apa yg dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيْحُ يَابَنِيْ إِسْرَائِيْلَ اعْبُدُوْا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِيْنَ مِنْ أَنْصَارٍ. لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلاَثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلاَّ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ
“Sesungguh telah kafirlah orang2 yg berkata: ‘Sesungguh Allah adl Al Masih putera Maryam’ padahal Al Masih berkata: ‘Hai Bani Israil sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu’. Sesungguh orang yg mempersekutukan Allah mk pasti Allah mengharamkan kepada al-jannah dan tempat ialah an-naar tidaklah ada bagi orang2 zalim itu seorang penolongpun. Sesungguh kafirlah orang2 yg mengatakan: ‘Bahwasa Allah salah satu dari yg tiga’ padahal sekali-kali tdk ada Tuhan selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tdk berhenti dari apa yg mereka katakan itu pasti orang2 yg kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yg pedih.”
Dan sekian banyak ayat dan hadits lain yg dgn sangat tegas mengkafirkan mereka . Bagaimana mereka dikatakan selamat padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengubah mereka menjadi babi dan kera:
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوْبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيْرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوْتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيْلِ
“Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang2 yg lbh buruk pembalasan dari itu di sisi Allah yaitu orang2 yg dikutuki dan dimurkai Allah di antara mereka yg dijadikan kera dan babi dan menyembah thaghut?” Mereka itu lbh buruk tempat dan lbh tersesat dari jalan yg lurus.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknati mereka dgn lisan Dawud dan ‘Isa:
لُعِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُدَ وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ
“Telah dilaknati orang2 kafir dari Bani Israil dgn lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”
Allah  mengatakan:
قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوْبِكُمْ
“Katakanlah mengapa Allah mengadzab kalian dgn dosa-dosa kalian?”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Tidaklah mendengar aku seorang Yahudi atau Nashrani lalu tdk beriman dgn apa yg aku diutus dengan kecuali ia termasuk ahli neraka.”
Kalau kita perhatikan baik-baik ayat yg dipakai sebagai dalil oleh mereka akan nampak bahwa ayat tersebut sama sekali tdk mendukung paham pluralisme dan maha suci Kalamullah utk dikatakan mendukung pluralisme.
Bukankah ayat tersebut memberikan syarat yaitu beriman kepada Allah? Apakah Yahudi dan Nashrani atau Majusi beriman kepada Allah? Jawab tidak! Karena beriman kepada Allah bukan hanya beriman dgn ada Allah. Bila hanya percaya dgn keberadaan Allah mk Iblispun beriman orang munafiq pun beriman dan Fir’aun pun beriman.
Tidak ada yg mengatakan demikian kecuali orang yg sejenis mereka. Iman kepada Allah mencakup keimanan tentang ada Allah dan keesaan yg tiada sekutu baginya. Sedangkan Yahudi menyekutukan Allah dgn ‘Uzair dan Nashrani menyekutukan Allah dgn Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.
Di antara keimanan kepada Allah adl meyakini uluhiyyah Allah yakni memberikan ibadah hanya kepada Allah dan meyakini hal itu. Sedangkan Yahudi dan Nashrani mereka beribadah kepada selain Allah bahkan kepada pendeta-pendeta.
Ayat itu juga memberikan syarat dlm beramal shalih. Yahudi dan Nashrani tdk melakukan amal shalih krn syarat amal shalih tdk mereka penuhi. Di antara yg merupakan syarat dasar yaitu iman tdk mereka penuhi. Kemudian ikhlas mereka juga tdk penuhi krn mereka beramal utk selain Allah.
Bagaimana mungkin mereka dikatakan selamat sementara tdk memenuhi syarat-syarat sebagai orang yg beriman. Pahamilah wahai yg berakal sehat. Jadi ayat ini berlaku bagi mereka yg memenuhi syarat-syarat tersebut. Dan ini berlaku sebelum datang Islam. Oleh karena Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan bahwa setelah itu turunlah ayat 85 Surat Ali Imran:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاَمِ دِيْنًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam mk sekali-kali tidaklah akan diterima dari dan dia di akhirat termasuk orang2 yg rugi.”
Di ayat lain Allah menganggap mereka bukan orang yg beriman kepada Allah dan hari akhir sebagaimana dlm ayat 29 Surat At-Taubah:
قَاتِلُوْا الَّذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللَّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ اْلآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُوْنَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ وَلاَ يَدِيْنُوْنَ دِيْنَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُوا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُوْنَ
“Perangilah orang2 yg tdk beriman kepada Allah dan tdk kepada hari kemudian dan mereka tdk mengharamkan apa yg telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tdk beragama dgn agama yg benar yg diberikan Al Kitab kepada mereka sampai mereka membayar jizyah dgn patuh sedang mereka dlm keadaan tunduk.”
Adapun hadits yg mereka pakai juga tdk mendukung pluralisme sama sekali. Sebab kesamaan agama para rasul itu adl pada inti yaitu agama tauhid dan beribadah hanya kepada Allah. Ternyata hal ini pun dilanggar oleh para pengikut rasul terutama setelah datang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas bagaimana mereka bisa dianggap sama dgn ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Hadits itu juga menunjukan bahwa syariat para rasul berbeda-beda. Itu yg dimaksud –wallahu a’lam– dgn saudara sebapak lain ibu?
Tapi pada praktek justru JIL ingin menyamakan syariat mereka semua sehingga membolehkan kawin dan waris beda agama. Tidak mungkin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yg berperang melawan Yahudi demi agama lalu menyabdakan sebuah hadits yg mendukung pluralisme agama.

Membolehkan perkawinan antar agama secara mutlak
Islam membolehkan seorang muslim menikahi wanita ahlul kitab Yahudi atau Nashrani:
وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوْهُنَّ أُجُوْرَهُنَّ مُحْصِنِيْنَ غَيْرَ مُسَافِحِيْنَ وَلاَ مُتَّخِذِيْ أَخْدَانٍ
“ wanita-wanita yg menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yg beriman dan wanita-wanita yg menjaga kehormatan di antara orang2 yg diberi Al Kitab sebelum kamu bila kamu telah membayar mas kawin mereka dgn maksud menikahi tdk dgn maksud berzina dan tdk menjadikan gundik-gundik.”
Tapi tentu dgn syarat-syarat tertentu diantara yaitu pihak laki2 benar-benar melakukan utk menjaga dari maksiat zina dan sejenis serta benar-benar menjauhi zina kemudian pihak wanita juga demikian yaitu wanita yg menjaga diri dari perbuatan keji. Semua itu krn hikmah dan tujuan yg luhur dan itu sekilas tampak dari syarat-syarat tersebut. Untuk menjelaskan secara luas tempat ini tidaklah cukup namun tentu kita yakin bahwa semua syariat Allah pasti demi hikmah yg tinggi yg Ia kehendaki.
Dengan hikmah-Nya pula Allah mengharamkan sebalik yakni seorang wanita muslimah dinikahi orang non muslim siapapun dia. Tapi kelompok JIL menganggap semua boleh dan hal itu diatasnamakan Islam. Ulil mengatakan: “Jadi soal pernikahan laki2 non muslim dgn wanita muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terkait dgn konteks tertentu diantara konteks dakwah Islam pada saat itu yg mana jumlah umat Islam tdk sebesar saat ini sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yg terlarang.”
Kesimpulan ucapan adalah:
1. Larangan dlm menikah beda agama ini tdk jelas.
2. Larangan saat itu hanya bersifat sosial kontekstual yg dapat berubah dan bukan merupakan alasan teologi.
3. Ini dianggap sebagai sebuah kemajuan.
4. Boleh menikah beda agama apapun alirannya
Bantahan:
Bagaimana dia bisa mengatakan larangan itu tdk jelas? Barangkali ia tdk pernah baca Al Qur’an sampai khatam atau membaca tapi tdk tahu maknanya. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dlm Surat Al-Baqarah ayat 221:
وَلاَ تَنْكِحُوْا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلاَ تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتَّى يُؤْمِنُوْا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُوْنَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguh wanita budak yg mukmin lbh baik dari wanita musyrik walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang2 musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguh budak yg mukmin lbh baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke an-naar sedang Allah mengajak ke al-jannah dan ampunan dgn izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
Dalam ayat itu terdapat dua larangan:
1. Menikahi wanita musyrik.
2. Menikahkan wanita muslimah kepada laki2 musyrik.
Dan ahlul kitab itu termasuk musyrik berdasarkan firman Allah dlm At-Taubah ayat 31:
اتَّخَذُوْا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُوْنِ اللَّهِ وَالْمَسِيْحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْا إِلَهًا وَاحِدًا لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
“Mereka menjadikan orang2 alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al Masih putera Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tdk ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yg mereka persekutukan.”
Diriwayatkan bahwa Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma mengatakan: “Saya tdk tahu ada syirik yg lbh besar daripada seseorang yg mengatakan bahwa Tuhan adl ‘Isa.”
Namun keumuman larangan yg pertama yakni menikahi wanita musyrik telah diberi kekhususan yaitu bahwa wanita musyrik dari kalangan ahlul kitab dgn syarat-syarat boleh dinikahi lelaki muslim sebagaimana terdapat dlm Surat Al-Maidah ayat 5. Adapun larangan yg kedua mk itu tetap pada keumumannya. Sehingga lelaki siapapun baik dari Yahudi Majusi Nashrani dan yg lain mk haram menikahi seorang wanita muslimah. Ayat itu jelas dan itu merupakan ijma’ umat seperti kata Ibnu Katsir dlm tafsir ayat ini dan Al-Imam Asy-Syaukani.Bagaimana kemudian Ulil mengatakan tdk jelas dalil yg melarangnya?
Lebih jelas lagi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لاَ هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلاَ هُمْ يَحِلُّوْنَ لَهُنَّ
“Mereka tiada halal bagi orang2 kafir itu dan orang2 kafir itu tiada halal pula bagi mereka.”
Adapun alasan bahwa larangan itu bersifat kontekstual inilah yg kami maksud memahami ayat atau hadits yakni agama ini dgn akal yg mengakibatkan pemahaman itu berbalik yakni menolak hukum ayat tersebut.
Yang demikian pasti terjatuh dlm kesesatan. Bukti sekilas kita melihat di awal dia katakan bahwa dalil yg melarang tdk jelas. Arti secara halus ia mengingkari ada larangan. Lalu di saat lain ia katakan larangan itu bersifat kontekstual arti ia akui ada larangan. Bukankah ini tanaqudh antar ucapan sendiri?!
Cukup pembaca yg budiman mengetahui batil pendapat itu dgn melihat hasil akhir adl mengingkari ayat dan hadits yg melarangnya.
Kemudian sesungguh larangan itu sebab tdk seperti yg dia ungkapkan. Sebab kalau kita perhatikan ayat tersebut Allah telah menyebutkan hikmah syariat itu di akhir ayat: أُولَئِكَ يَدْعُوْن إِلَى النَّارِ “..mereka mengajak ke an-naar…”
Asy-Syaukani mengatakan: “Dengan mushaharah berkeluarga serta hidup bersama dgn mereka terdapat bahaya besar terhadap wanita yg menikah dgn mereka dan terhadap anaknya. mk tdk boleh bagi kaum mukminin utk mencampakkan diri dlm ini dan masuk padanya.” Kata beliau juga sebelumnya: “Hal itu krn ada penghinaan terhadap Islam.” . Dan hikmah seperti ini terus berlaku tdk hanya di zaman Nabi.
Hikmah ini tentu berbeda ketika pihak laki2 adl seorang muslim dan wanita ahlul kitab. Tidak seorangpun memungkiri kecuali orang yg tdk bisa diajak berfikir apalagi memahami dalil. Dan tentu di sana terdapat lbh banyak lagi hikmah lain yg tdk cukup utk diuraikan di sini atau belum kita ketahui. Yang jelas Allah Maha Hakim.
Dengan gugur dua alasan orang2 JIL ini mk gugurlah secara otomatis hukum yg mereka tentukan. Dan tetap tegarlah hukum Allah sepanjang zaman.
Ini hanya contoh dari pendapat-pendapat mereka yg nyleneh dari sekian banyak pendapat. Namun semua pendapat mereka itu kebatilan tdk jauh dari apa yg dicontohkan bahkan mungkin lbh batil lbh berbahaya dan juga lbh lemah dari sarang laba-laba.
Mereka mesti bertaubat kepada Allah dan mesti tahu bahwa mereka amat sangat lemah utk bicara dlm agama. Ini kalau mereka tdk punya niat jelek dan jahat terhadap Islam dan muslimin. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللَّهِ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ
“Sesungguh setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji dan mengatakan terhadap Allah apa yg tdk kamu ketahui.”
Bagi kaum muslimin hendak menjauhi mereka sejauh-jauh juga buku dan siaran serta uraian mereka demi keselamatan agama.
Ingatlah sabda Nabi yg artinya: “Akan datang tahun-tahun yg menipu yg dusta dianggap jujur yg jujur dianggap dusta yg khianat dianggap amanah dan yg amanah dianggap khianat dan pada tahun-tahun itu Ruwaibidhah pun berbicara.” Beliau ditanya: “Apa Ruwaibidhah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Orang yg hina bicara dlm urusan yg besar.”

Hadits tentang akal
اَلدِّيْنُ هُوَ اْلعَقْلُ وَمَنْ لاَ دِيْنَ لَهُ لاَ عَقْلَ لَهُ
“Agama adl akal dan barangsiapa yg tdk punya agama mk ia tdk punya akal.”
Hadits ini atau yg semakna dengan begitu masyhur. tdk jarang kita mendengar dari para khatib dan muballigh bahkan menjadi salah satu landasan mereka yg mengkultuskan akal. Untuk mengetahui bagaimana sesungguh kedudukan dlm timbangan kritik hadits mari kita melihat penjelasan Asy-Syaikh Al-Albani seorang ulama ahli hadits abad ini.
Beliau mengatakan: Hadits ini batil. Diriwayatkan oleh An-Nasai dlm kitab Al-Kuna dan Ad- Dulabi meriwayatkan dari dlm kitab Al-Kuna wal Asma melalui seorang rawi bernama Bisyr bin Ghalib bin Bisyr bin Ghalib dari Az-Zuhri dari Mujammi’ bin Jariyah dari paman sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa kalimat “Agama adl akal.” An-Nasai mengatakan: “Hadits ini batil mungkar.”
Saya katakan: “Sebab adl krn Bisyr ini majhul sebagaimana dikatakan oleh Al-Azdi dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dlm kitab Mizanul I’tidal fi Naqdirrijal dan oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani dlm kitab Lisanul Mizan.
Al-Harits bin Abu Usamah meriwayatkan dlm Musnad- dari seorang rawi bernama Dawud bin Al-Muhabbir sebanyak tigapuluh sekian hadits yg menerangkan tentang keutamaan akal. Ibnu Hajar mengomentarinya: “Semua palsu .”
Di antara adl hadits yg kita bahas ini sebagaimana disebutkan oleh Al-Imam As-Suyuthi dlm kitab Dzailul La’ali Al-Mashnu’ah fil Ahadits Al-Maudhu’ah dan dinukil pula dari beliau oleh Al-‘Allamah Muhammad bin Thahir Al-Hindi dlm kitab Tadzkiratul Maudhu’at .
Sedangkan Dawud bin Al-Muhabbir dikatakan oleh Adz-Dzahabi:
“Dia adl penulis buku Al-’Aql . Duhai seandai ia tdk menulisnya.” Al-Imam Ahmad mengatakan: “Dia sesungguh tdk tahu tentang hadits.”
Abu Hatim mengatakan: “Hadits lenyap tdk bisa dipercaya.”
Ad-Daruquthni mengatakan: “ ditinggalkan.”
Abdul Ghani meriwayatkan dari Ad-Daruquthni bahwa ia mangatakan: “Buku Al-’Aql dipalsu oleh Maisarah bin Abdi Rabbih. Buku itu dicuri oleh Dawud bin Al-Muhabbir lalu dirangkai sendiri sanad tdk seperti sanad Maisarah lalu dicuri oleh Abdul ‘Aziz bin Abi Raja’ kemudian dicuri oleh Sulaiman bin ‘Isa As-Sijzi.”
Asy-Syaikh Al-Albani berkata: “Di antara yg perlu diingatkan bahwa seluruh hadits yg menerangkan keutamaan akal adl hadits-hadits yg sama sekali tdk shahih berkisar antara lemah dan palsu. Dan aku telah meneliti hadits-hadits yg disebut oleh Abu Bakr bin Abid Du dlm kitab yg berjudul Al-’Aql wa Fadhluhu mk saya dapati seperti yg tadi saya katakan tdk sedikitpun yg shahih.”
Ibnul Qayyim mengatakan dlm buku Al-Manar : “Hadits-hadits tentang akal semua dusta.”
Hadits lain yg semakna:
قِوَامُ الْمَرْءِ عَقْلُهُ وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَقْلَ لَهُ
“Penegak seseorang adl akal dan tiada agama bagi yg tdk memiliki akal.”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah mengatakan: “Hadits ini maudhu’ .” Sebab hadits ini diriwayatkan melalui seorang rawi bernama Dawud bin Al-Muhabbir yg telah dijelaskan di atas.

Wallahu a’lam.

Sumber: www.asysyariah.com