Permasalahan Seputar Riba

penulis Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin
Syariah Kajian Utama 14 - April - 2007 03:03:23

Masalah 1: Hukum Menyimpan Uang di Bank
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab :
“œMenyimpan uang di bank dan semisal dgn permintaan atau tempo tertentu utk mendapatkan bunga sebagai kompensasi dari uang yg dia tabung adl haram.
menyimpan uang tanpa bunga di bank-bank yg bermuamalah dgn riba adl haram sebab ada unsur membantu bank tersebut bermuamalah dgn riba dan menguatkan mereka utk memperluas jaringan riba. Kecuali bila sangat terpaksa krn khawatir hilang atau dicuri sementara tdk ada cara lain kecuali disimpan di bank riba. Bisa jadi dia mendapatkan rukhshah dlm kondisi seperti ini krn darurat”
Jawaban senada juga disampaikan secara khusus oleh Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah. Lihat Fatawa Ibn Baz dan Fatawa Buyu”™ . Periksa pula Fatawa Al-Lajnah .

Masalah 2: Apakah Bunga Bank termasuk Riba?
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab :
“œRiba dgn kedua jenisnya: fadhl dan nasi`ah adl haram berdasarkan Al-Kitab As-Sunnah dan ijma”™. Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا لاَ تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً

“œHai orang2 yg beriman janganlah kamu memakan riba dgn berlipat ganda.”
Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman pula:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“œAllah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman juga:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ

“Hai orang2 yg beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kalian orang2 yg beriman. mk jika kalian tdk mengerjakan mk ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian.”
Disebutkan dlm hadits yg shahih bahwa Nabi Shallallahu “˜alaihi wa sallam melaknat pemakan riba yg memberi riba penulis dan kedua saksinya. Sabda beliau Shallallahu “˜alaihi wa sallam:

هُمْ سَوَاءٌ

“œMereka semua sama.”
Dengan demikian diketahui bahwa bunga yg diberikan kepada nasabah berupa persentase dari uang pokok baik itu per pekan bulanan atau tahunan semua termasuk riba haram yg terlarang secara syar”™i baik persentase ini berfluktuatif maupun tdk .”
Al-Lajnah Ad-Da`imah juga pernah ditanya: “œApa hukum penambahan nominal yg diambil oleh bank?”
Mereka menjawab : “œFaedah yg diambil bank dari nasabah dan bunga yg diberikan bank kepada nasabah adl riba yg telah tetap keharaman berdasarkan Al-Kitab As-Sunnah dan ijma”™.”

Masalah 3: Bolehkah Mengambil Bunga Bank ?
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab :
“œBunga harta yg riba adl haram. Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

“œAllah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
Wajib atas pihak yg di tangan ada sesuatu dari bunga tersebut utk berlepas diri dari dgn cara menginfakkan utk hal yg bermanfaat bagi kaum muslimin. Di antara adl membangun jalan membangun sekolah dan memberikan kepada faqir miskin. Adapun masjid tdk boleh dibangun dari harta riba. Dan tdk diperbolehkan bagi seorangpun utk mengambil bunga bank tdk pula terus-menerus mengambilnya.”
Fadhilatusy Syaikh Ibnu “˜Utsaimin rahimahullahu mempunyai fatwa yg panjang tentang masalah ini. Kita nukilkan di sini krn hal ini sangat penting.
Beliau ditanya: “Ada seorang pemuda yg tengah studi di Amerika. Dia terpaksa menyimpan uang di bank riba. Konsekuensi pihak bank memberi bunga. Apakah boleh bagi mengambil dan memanfaatkan utk hal-hal yg baik? Sebab bila tdk diambil akan dimanfaatkan oleh pihak bank.”
Beliau menjawab:
“Pertama tdk dibolehkan bagi seseorang utk menyimpan uang di bank-bank tersebut krn pihak bank otomatis akan mengambil dan memanfaatkan uang itu utk usaha. Perkara yg telah dimaklumi kita tdk diperkenankan memberi wewenang kepada pihak kafir atas harta kita yg mana mereka akan menjadikan sebagai usaha. Namun bila kondisi darurat khawatir harta dicuri atau dirampas bahkan berisiko hilang nyawa demi mempertahankan mk tdk mengapa dia menyimpan uang di bank-bank tersebut krn darurat.
Namun bila dia menyimpan krn darurat dia tdk boleh mengambil apapun sebagai ganti. Haram atas utk mengambil sesuatu . Bila dia mengambil mk itu adl riba. Bila itu adl riba mk Allah Subhanahu wa Ta”™ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ. فَإِنْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوْسُ أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُوْنَ وَلاَ تُظْلَمُوْنَ

“œHai orang2 yg beriman bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kalian orang2 yg beriman. mk jika kalian tdk mengerjakan mk ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat mk bagi kalian pokok harta kalian; kalian tdk menganiaya dan tdk dianiaya.”
Ayat di atas secara tegas dan jelas menunjukkan bahwa kita tdk boleh mengambil sesuatupun darinya.
Pada hari Arafah Nabi Shallallahu “˜alaihi wa sallam berkhutbah di depan massa yg besar dari kalangan kaum muslimin. Beliau Shallallahu “˜alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ إِنَّ رِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوْعٌ

“œKetahuilah bahwa riba jahiliyyah disirnakan.”
Riba yg telah sempurna transaksi sebelum Islam telah disirnakan oleh Nabi Shallallahu “˜alaihi wa sallam. :

وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ مِنْ رِبَانَا رِبَا الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوْعٌ كُلُّهُ

“œDan riba yg pertama kali aku sirnakan dari riba-riba kita adl riba “˜Abbas bin Abdul Muththalib. Semua disirnakan.”
Bila anda mengatakan: “œBila uang itu tdk diambil mereka akan mengambil dan menyalurkan ke gereja-gereja serta membiayai perang utk memusnahkan kaum muslimin.”
Jawabannya: Sesungguh bila anda melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta”™ala dgn meninggalkan riba mk apapun yg terjadi dari situ adl tanpa sepengetahuan anda. Anda dituntut dan diperintahkan utk melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta”™ala. Bila menimbulkan beberapa mafsadah mk itu di luar kuasa anda. Anda memiliki perkara yg telah ditentukan dari Allah yaitu:

اتَّقُوا اللهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا

“œBertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba .”
Kedua Anda katakan: Apakah bunga yg mereka berikan kepada saya termasuk uang saya?
Jawabannya: Itu bukan uang Anda. Sebab boleh jadi mereka mengembangkan uang tersebut dlm sebuah usaha lalu merugi. mk bisa dipastikan bahwa bunga yg mereka berikan kepada anda bukanlah pengembangan dari uang anda.
Bisa pula mereka meraup keuntungan yg berlipat namun mungkin pula tdk meraup keuntungan apa pun dari uang anda. Sehingga tdk bisa dikatakan: “œBila saya kuasakan sebagian uang anda kepada mereka mk mereka akan menyalurkan ke gereja-gereja atau membeli persenjataan utk memerangi kaum muslimin.”
Ketiga kita katakan: Mengambil bunga berarti terjatuh kepada apa yg diakui sebagai riba. Orang tersebut akan mengaku di hadapan Allah Subhanahu wa Ta”™ala nanti pada hari kiamat bahwa itu adl riba. Jika riba mk mungkinkah seseorang beralasan bahwa itu utk kemaslahatan padahal dia meyakini bahwa itu adl riba? Jawabnya: Tidak mungkin sebab tdk ada qiyas bila dihadapkan kepada nash .
Keempat apakah dapat dipastikan mereka menyalurkan uang tersebut kepada apa yg anda sebutkan yaitu utk kemaslahatan gereja atau utk perlengkapan perang melawan kaum muslimin? Jawabnya: Tidak dapat dipastikan.
Bila demikian kalau kita mengambil bunga tersebut mk kita telah terjatuh pada larangan yg pasti utk menghindar dari mafsadah yg belum pasti. Akalpun akan menolak hal ini yakni seseorang melakukan mafsadah yg sudah pasti utk menyingkirkan mafsadah yg belum pasti yg mungkin terjadi dan mungkin pula tidak.
Sebab boleh jadi pihak bank mengambil utk kemaslahatan pribadi. Mungkin pula pihak karyawan bank yg mengambil utk kemaslahatan mereka pribadi. Dan tdk dapat dipastikan bahwa uang tersebut disalurkan ke gereja-gereja atau utk membiayai perang melawan kaum muslimin.
Kelima sesungguh bila Anda mengambil apa yg disebut sebagai “˜bunga”™ dgn niat menginfakkan dan mengeluarkan dari hak milik anda sebagai upaya utk lepas dari mk sama saja anda melumuri diri anda dgn kotoran utk diupayakan cara menyucikannya. Ini tidaklah masuk akal.
Justru kita katakan: Jauhilah kotoran tersebut terlebih dahulu sebelum anda terlumuri dengannya. Kemudian setelah itu upayakan cara menyucikannya.
Apakah masuk akal seseorang berupaya agar pakaian terkena kencing dgn maksud membersihkan bila telah terkena? Ini tdk masuk akal selama sepanjang anda meyakini bahwa bunga itu adl riba kemudian anda berupaya mengambil mensedekahkan dan berupaya melepaskan diri darinya.
Justru kita katakan: Jangan anda ambil bunga tersebut sama sekali dan bersihkan diri anda darinya!
Keenam kita katakan: Jika seseorang mengambil dgn niat tersebut apakah dia merasa yakin dapat mengalahkan hasrat jiwa berlepas diri dari dgn menyalurkan utk sedekah dan kemaslahatan umum?
Sekali-kali tidak. Boleh jadi pada awal dia mengambil dgn niat tersebut namun hati mengingatkan dan membisiki agar pikir-pikir dulu. Apalagi bila dia mendapati nominal ternyata sangat besar 1 juta atau 100 ribu real misalnya.
Maka awal dia punya azam lalu menjadi berpikir-pikir setelah itu pindahlah ke kantong pribadi.
Seseorang tdk boleh merasa aman dari bisikan dirinya. Terkadang dia ambil dgn niat tersebut namun azam luntur tatkala melihat nominal uang yg sangat banyak. Dia pun berubah menjadi kikir dan akhir tdk mampu mengeluarkan .
Pernah diceritakan kepada saya ada seseorang yg terkenal bakhil. Suatu hari dia naik ke loteng rumah dan meletakkan jari di telinga seraya berteriak memanggil para tetangganya: “œSelamatkan saya! Selamatkan saya!” Tetangga pun tersentak kaget. Mereka berdatangan dan bertanya: “œAda apa denganmu wahai Abu Fulan?” Diapun berkata: “œSaya tadi telah memisahkan harta saya utk saya keluarkan zakatnya. Namun saya dapati uang zakat tersebut sangat banyak. Hati kecil saya berkata: “˜Bila orang lain yg mengambil mk hartamu akan berkurang.”™ mk tolonglah saya darinya.”
Ketujuh sesungguh mengambil riba adl tindakan tasyabbuh orang Yahudi yg dicela Allah Subhanahu wa Ta”™ala dlm firman-Nya:

فَبِظُلْمٍ مِنَ الَّذِيْنَ هَادُوا حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتْ لَهُمْ وَبِصَدِّهِمْ عَنْ سَبِيْلِ اللهِ كَثِيْرًا. وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِيْنَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيْمًا

“œMaka disebabkan kedzaliman orang2 Yahudi Kami haramkan atas mereka yg baik-baik dihalalkan bagi mereka dan krn mereka banyak menghalangi dari jalan Allah dan disebabkan mereka memakan riba padahal sesungguh mereka telah dilarang dari dan krn mereka memakan harta orang dgn jalan yg batil. Kami telah menyediakan utk orang2 yg kafir di antara mereka itu siksa yg pedih.”
Kedelapan mengambil riba tersebut mengandung kemudaratan dan celaan terhadap kaum muslimin. Sebab ulama Yahudi dan Nasrani tahu bahwa Islam mengharamkan riba. Bila seorang muslim mengambil mereka akan berkata: “œLihatlah kaum muslimin! Kitab suci mereka mengharamkan riba namun mereka tetap mengambil dari kita.”
Tidak syak lagi ini adl titik lemah kaum muslimin. Bila musuh-musuh mengetahui bahwa kaum muslimin menyelisihi agama mk mereka mengetahui dgn yakin bahwa ini adl titik kelemahan. Karena kemaksiatan tdk hanya berdampak kepada pelaku tetapi juga kepada Islam secara keseluruhan.

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“œDan peliharalah dirimu daripada siksaan yg tdk khusus menimpa orangorang yg dzalim saja di antara kamu.”
Perhatikanlah! Para shahabat radhiyallahu “˜anhum adl hizbullah dan pasukan-Nya dan mereka bersama dgn sebaik-baik manusia Nabi Shallallahu “˜alaihi wa sallam pada perang Uhud. Ada satu kemaksiatan yg terjadi pada mereka lalu apa yg terjadi? Kekalahan setelah kemenangan. Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman:

حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي اْلأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّوْنَ

“œSampai pada saat kalian lemah dan berselisih dlm urusan itu dan mendurhakai perintah sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yg kalian sukai.”
Kemaksiatan memiliki pengaruh besar terhadap keterbelakangan kaum muslimin penguasaan musuh terhadap mereka dan kekalahan di hadapan musuh-musuh mereka. Bila sebuah kemenangan yg ada di depan mata dapat hilang krn sebuah kemaksiatan bagaimana kira dgn sebuah kemenangan yg belum terwujud?
Musuh-musuh Islam sangat bergembira bila kaum muslimin mengambil riba walaupun di sisi lain mereka tdk menyukainya. Namun mereka bergembira sebab kaum muslimin terjatuh dlm kemaksiatan sehingga akan terkalahkan.
Maka satu dari delapan mafsadah yg dapat saya singgung di sini sudah cukup utk melarang mengambil bunga bank. Dan saya kira bila seseorang mencermati dan mengamati masalah ini dgn seksama dia akan mendapati bahwa pendapat yg benar adl tdk boleh mengambilnya.
Inilah pendapat dan fatwa saya. Bila benar mk datang dari Allah Subhanahu wa Ta”™ala yg telah menganugerahkan dan segala puji untuk-Nya. Namun bila salah mk itu dari pribadi saya. Tetapi saya mengharap bahwa pendapat tersebut benar berdasarkan dalil-dalil sam”™i dan hikmah-hikmah yg telah saya uraikan.”
Beliau juga mempunyai fatwa senada dlm Liqa`at Babil Maftuh pada liqa` yg ke-27. Wallahul muwaffiq.
Dalam permasalahan seseorang yg menyimpan uang di bank lalu ia tahu tentang haram riba apakah ia harus mengambil uang saja atau beserta riba terdapat perbedaan pendapat. Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan dlm kaset Silsilatul Huda wa Nur bahwa ada yg berpendapat riba tersebut tdk diambil secara mutlak adapula yg berpendapat boleh diambil dan diberikan kepada fuqara. Ada lagi yg berpendapat riba tersebut boleh diambil tapi jangan dimanfaatkan oleh dia secara pribadi. Namun riba tersebut hendak diberikan utk pembuatan fasilitas umum yg dimanfaatkan oleh masyarakat secara bersama seperti jalan atau saluran air dan yg sejenisnya.

Masalah 4: Bolehkah membayar bunga yg diminta pihak bank dgn bunga yg diberikan pihak bank kepada kita?
Misal meminjam uang di bank dgn bunga 5% per bulan lalu dibayar dgn bunga dari uang yg disimpan di bank.
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab kasus di atas : “œEngkau menyimpan uang di bank dgn mengambil bunga adl haram. Dan engkau meminjam uang di bank dgn bunga juga haram. mk tdk diperbolehkan bagimu utk membayar bunga pinjaman yg diminta pihak bank dgn bunga yg diberikan pihak bank kepadamu krn tabunganmu.
Tetapi yg wajib bagimu adl berlepas diri dari bunga yg telah engkau terima dgn menginfakkan dlm perkara-perkara kebaikan utk fakir miskin memperbaiki fasilitas umum dan semisalnya. Dan engkau wajib bertaubat dan beristighfar serta menjauhi muamalah riba krn hal itu termasuk dosa besar.”

Masalah 5: Bolehkah mengambil bunga bank utk membayar pajak?
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab : “œTidak diperbolehkan bagimu menyimpan uang di bank dgn faedah utk membayar pajak yg dibebankan kepadamu dari bunga tersebut berdasarkan keumuman dalil tentang haram riba.”

Masalah 6: Hukum transfer uang via bank.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu menjawab: “Bila sangat diperlukan transfer via bank-bank riba mk tdk mengapa insya Allah dgn dasar firman Allah Subhanahu wa Ta”™ala:

وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلاَّ مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“œPadahal sesungguh Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yg diharamkan-Nya atas kalian kecuali apa yg terpaksa kalian memakannya.”
Tidak syak lagi bahwa transfer via bank termasuk kebutuhan primer masa kini secara umum.”

Masalah 7: Hukum muamalah dgn cabang-cabang bank yg tdk mengandung riba sementara kantor pusat adl bank riba.
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab : “œTidak mengapa bila bermuamalah dgn bank atau cabang bila muamalah tdk ada unsur riba. Sebab Allah Subhanahu wa Ta”™ala menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Juga krn hukum asal muamalah adl halal dgn bank ataupun yg lain selama tdk mengandung perkara yg haram.”

Masalah 8: Hukum bekerja di bank.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu menjawab: “Tidak diperbolehkan bekerja di bank seperti ini sebab termasuk ta”™awun di atas dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوا عَلَى اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“œDan tolong-menolonglah kalian dlm kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dlm berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah sesungguh Allah amat berat siksa-Nya.”
Disebutkan dlm Ash-Shahih dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu “˜anhuma dari Nabi Shallallahu “˜alaihi wa sallam bahwa beliau:

لَعَنَ آكِلَ الرِّبَا وَمُوْكِلَهُ وَكاَتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

“œMelaknat pelaku riba yg memberi riba penulis dan kedua saksinya. Beliau berkata: “˜Mereka semua sama”™.”
Adapun gaji yg telah anda terima mk itu halal bagi anda bila anda tdk tahu hukum secara syar”™i dgn dasar firman Allah Subhanahu wa Ta”™ala:

وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang2 yg telah sampai kepada larangan dari Rabb lalu terus berhenti mk bagi apa yg telah diambil dahulu ; dan urusan kepada Allah. Orang yg mengulangi mk orang itu adl penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tdk menyukai tiap orang yg tetap dlm kekafiran dan selalu berbuat dosa.”
Adapun bila anda tahu bahwa pekerjaan tersebut tdk diperbolehkan mk wajib bagi anda utk menyalurkan gaji yg telah anda terima utk kepentingan-kepentingan kebaikan dan menyantuni fakir miskin disertai dgn taubat kepada Allah Subhanahu wa Ta”™ala.
Barangsiapa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta”™ala dgn taubat nasuha niscaya Allah Subhanahu wa Ta”™ala menerima taubat dan mengampuni kesalahannya. Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ

“œHai orang2 yg beriman bertaubatlah kepada Allah dgn taubat yg semurni-murni mudah-mudahan Rabb kalian akan menghapus kesalahankesalahan kalian dan memasukkan kalian ke dlm surga yg mengalir di bawah sungai-sungai.”
Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman pula:

وَتُوْبُوْا إِلَى اللهِ جَمِيْعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“œDan bertaubatlah kalian semua kepada Allah hai orang2 yg beriman supaya kalian beruntung.” (Fatawa Ibn Baz 2/195-196)
Fatwa senada juga disampaikan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-”™Utsaimin t sebagaimana dlm Fatawa Buyu”™ juga Fatawa Al-Lajnah .

Masalah 9: Berbisnis dgn modal uang haram.
Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab : “œPertama: Allah Subhanahu wa Ta”™ala mensyariatkan muamalah di kalangan kaum muslimin dgn akad-akad yg mubah seperti akad jual-beli sewa menyewa salam syarikah dan semisal yg mengandung kemaslahatan hamba.
Kedua: Allah Subhanahu wa Ta”™ala mengharamkan sebagian akad krn mengandung unsur kemudaratan seperti akad riba asuransi bisnis dan sebagian jual-beli barang haram seperti jual beli alat musik menjual khamr ganja dan rokok krn mengandung beraneka macam kemudaratan.
Sehingga tiap muslim wajib menempuh cara-cara mubah dlm mencari ma”™isyah dan usaha. Dan hendaklah dia menjauhi harta-harta yg haram dan cara-cara yg terlarang.
Bila Allah Subhanahu wa Ta”™ala tahu kejujuran niat seorang hamba dan tekad mengikuti syariat-Nya upaya terbimbing dgn Sunnah Nabi-Nya Muhammad Shallallahu “˜alaihi wa sallam niscaya Allah Subhanahu wa Ta”™ala akan memberi kemudahan atas segala urusan dan akan melimpahkan rizki kepada dari arah yg tdk dia sangka. Allah Subhanahu wa Ta”™ala berfirman:

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ

“œBarangsiapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan bagi jalan keluar. Dan memberi rizki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.”
Dalam sebuah hadits:

مَنْ تَرَكَ شَيْئًا لِلَّهِ عَوَّضَهُ اللهُ خَيْرًا مِنْهُ

“Barangsiapa yg meninggalkan sesuatu krn Allah mk Allah akan memberi ganti yg lbh baik.”
Dengan demikian dapat diketahui bahwa tdk diperbolehkan bagi anda utk berbisnis dgn modal uang haram baik itu pemberian ayahmu ataupun dari yg lainnya.”

Masalah 10: Jual Beli Sistem Lelang
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang masalah ini. Yang rajih adl pendapat jumhur bahwa jual-beli system lelang pada dasar dibolehkan dan halal. Bahkan sebagian ulama menukilkan ijma”™ dlm masalah ini seperti Ibnu Qudamah dan Ibnu Abdil Barr.
Ini adl pendapat Al-Lajnah Ad-Da`imah dan Syaikhuna Abdurrahman Al-”™Adni hafizhahullah dlm Syarhul Buyu”™ .
Dalam sistem lelang penjual tdk diperkenankan menyebutkan terlebih dahulu harga barang yg dilelang krn dikhawatirkan ada orang yg mendengar dari jauh dan mengira barang itu dihargai dgn nominal tersebut. Namun para pembeli dikumpulkan lalu salah satu dari mereka menyebutkan harga nominal harga. Kemudian sang penjual mengatakan: “œSiapa yg mau menambah harga?” Demikianlah hingga harga barang tersebut berhenti pada orang terakhir yg menyebutkannya.
Dalam lelang tdk boleh ada unsur najsy yaitu ada pihak yg menaikkan harga barang padahal dia bukan pembeli . Al-Lajnah Ad-Da`imah menjelaskan: “œSeseorang yg menambahi harga barang yg dilelang padahal dia tdk bermaksud membeli tindakan tersebut adl haram krn mengandung penipuan terhadap para pembeli. Sebab pembeli akan mengira/meyakini bahwa orang tersebut tdk akan berani menambah harga melainkan krn memang barang itu seharga tersebut padahal tdk demikian. Inilah yg dinamakan najsy yg dilarang Rasulullah Shallallahu “˜alaihi wa sallam dgn larangan haram. Sebagaimana disebutkan dlm hadits Ibnu “˜Umar radhiyallahu “˜anhuma:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ النَّجْشِ

“œBahwasa Rasulullah Shallallahu “˜alaihi wa sallam melarang najsy.”
Juga dlm hadits Abu Hurairah radhiyallahu “˜anhu Rasulullah Shallallahu “˜alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَلَقَّوْا الرُّكْبَانَ وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلىَ بَيْعِ بَعْضٍ وَلاَ تَنَاجَشُوا وَلاَ يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ

“œJanganlah kalian mencegah kafilah dagang . Jangan pula sebagian kalian membeli apa yg sedang dibeli orang lain. Jangan pula kalian saling najsy. Dan orang kota tdk boleh menjualkan barang orang dusun.”
Bila terjadi najsy dan ada unsur penipuan dlm akad yg tdk seperti biasa mk sang pembeli diberi pilihan: membatalkan akad atau meneruskan sebab kasus di atas masuk dlm khiyar ghubn.”
Dalam lelang tdk diperbolehkan bagi pembeli utk bersepakat tdk menambah harga dan menghentikann pada nominal tertentu padahal mereka membutuhkan dgn tujuan agar penjual melepas barang dgn harga di bawah standar. Demikian uraian Syaikhul Islam dlm Al-Ikhtiyarat lihat Majmu”™ Fatawa .
Al-Lajnah Ad-Da`imah juga melarang tindakan di atas dan menggolongkan ke dlm akhlak yg tercela. Bagi pembeli yg merasa ditipu dia boleh memilih antara membatalkan akad atau meneruskannya.
Dalam lelang biasa para pembeli melakukan sistem muqana”™ah yaitu bersepakat menjadi kongsi dlm lelang. Setelah lelang selesai mereka melakukan transaksi lagi di antara mereka sendiri. Sistem ini juga tdk diperbolehkan. Demikian fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah krn di dlm terkandung unsur kedzaliman terhadap penjual utk kemaslahatan mereka sendiri.
Wallahu a”™lam bish-shawab.

Sumber: www.asysyariah.com