Al-Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An-NawawiDi dalam kitab-kitab aqidah para ulama telah banyak membahas tentang bahaya sihir terhadap aqidah. Mereka menyebutkan sihir bahkan bisa membatalkan keislaman seseorang sehingga menjadikan dia tidak beraqidah Islam lagi. Kalau hal ini sampai terjadi maka tidak ada lagi harapan bahagia bagi dirinya. Allah menjelaskan di dalam firman-Nya:وَلاَ يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ أَتَى“Dan tidak akan beruntung tukang sihir dari manapun dia datang.” Menurut Asy-Syinqithi dalam kitab Adhwa Al-Bayan makna ayat ini adl meniadakan seluruh jenis keberuntungan bagi tukang sihir dan Allah menguatkan hal yg demikian itu dengan firman-Nya: “Dari manapun dia datang.”Al-Imam Al-Qurthubi mengatakan dalam Tafsir-nya : “Tidak akan beruntung dan selamat darimana pun dia datang di muka bumi ini.”Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di dalam Tafsir beliau mengatakan: “Tipu daya mereka tidak mendatangkan hasil sedikitpun bagi mereka dan mereka tidak akan menang.”Kalau demikian kedudukan tukang sihir yg ditiadakan pada dirinya segala bentuk kebahagiaan dunia dan akhirat sekaligus diliputi ancaman dan murka Allah maka jelas sihir ini memiliki kaitan dengan agama. Kerusakan agama seseorang bisa demikian parah akibat perbuatan sihir tersebut. Maka pantas bila Allah  melarang dgn keras agar manusia tidak mengerjakan perbuatan sihir ini. Allah tidak akan melarang suatu perkara atau memurkainya melainkan hal tersebut akan membahayakan baik bagi diri sendiri agama maupun bagi orang lain.Sihir dan AqidahSedikit dari kaum muslimin yg mengetahui bahwa mengerjakan sihir hukumnya adl haram termasuk bagian dari perbuatan syirik. Karena persyaratan yg harus dipenuhi oleh seseorang yang akan mempelajari sihir merupakan perbuatan kufur dan syirik kepada Allah . Dan persyaratan-persyaratan itupun sayangnya tidak diketahui oleh kaum muslimin sebagai sesuatu yang haram dan sebagai wujud kesyirikan kepada Allah.Asy-Syaikh Shalih Fauzan dalam kitab At-Tauhid mengatakan: “Dinamakan sihir krn terjadi dgn perkara-perkara yg tersembunyi yg tidak bisa dijangkau oleh penglihatan. Sihir itu berbentuk jimat-jimat jampi-jampi mantra-mantra obat-obat atau kepulan asap-asap. Sihir itu hakiki di antara hakikatnya adl pengaruhnya terhadap hati dan badan yg menyebabkan sakit terbunuh atau memisahkan antara seorang istri dan suaminya. Pengaruh ini terjadi dgn ketentuan Allah .Sihir itu adl perbuatan setan. Kebanyakan dari sihir tersebut tidak bisa dicapai oleh seseorang kecuali ia harus melakukan kesyirikan dan mendekatkan diri kepada ruh-ruh jahat yg persyaratannya adl syirik kepada Allah. Oleh krn itu Allah  menggandengkan sihir dengan kesyirikan sebagaimana sabda Rasulullah :اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ. قَالُوْا: وَمَا هِيَ؟ قَالَ: الإِشْرَاكُ بِاللهِ وَالسِّحْرُ.“Jauhilah tujuh penghancur! berkata: “Apakah itu wahai Rasulullah?” Rasulullah  bersabda: “Syirik kepada Allah dan sihir..” {HR. Al-Bukhari 5/294 Muslim no. 89 dari shahabat Abu Hurairah z}.Sihir termasuk dalam kesyirikan dipandang dari dua sisi:Pertama sihir mempergunakan setan menggantungkan diri kepadanya mendekatkan diri dengan segala apa yg mereka inginkan dalam rangka berkhidmat kepada tukang sihir. Sihir termasuk pengajaran setan sebagaimana firman Allah :“Akan tetapi setan-setan itu yg kafir yg mengajarkan manusia sihir.” Kedua di dalam sihir terdapat pengakuan mengetahui perkara ghaib sebagai wujud serikat dengan Allah  dan ini termasuk dari kekufuran dan kesesatan. Allah  berfirman:“Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa bagi orang yg mempelajari ilmu sihir tersebut maka dia tidak memiliki bagian di akhirat.” Jika demikian kedudukan sihir sungguh tidak ada keraguan lagi bahwa sihir adl perbuatan kekafiran dan kesyirikan yg akan membatalkan aqidah dan wajib membunuh pelakunya sebagaimana para pembesar shahabat telah melakukannya.Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam kitab beliau Masail Al-Jahiliyyah bagian keduapuluh mengatakan: “ adl meyakini bahwa keluarbiasaan yg terjadi melalui tangan tukang sihir dan sejenis mereka sebagai karamah orang-orang shalih dan mengaitkan ilmu sihir itu dgn pengajaran para nabi sebagaimana mereka katakan tentang Nabi Sulaiman .”Di dalam kitab At-Tauhid beliau menulis sebuah bab berjudul Perkara-perkara yg Terkait dengan Sihir lalu mengatakan: “Allah  berfirman:“Dan sungguh mereka telah mengetahui bahwa bagi orang yg mempelajari ilmu sihir tersebut maka dia di akhirat tidak memiliki bagian.” Dan Allah  berfirman:يُؤْمِنُوْنَ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ“Mereka beriman kepada Al-Jibti dan thagut.” ‘Umar z berkata: “Al-Jibti adl sihir dan thagut adl setan.”Jabir bin Abdullah berkata: “Thaghut adl para dukun yg setan turun kepada mereka di suatu daerah.”Kemudian dalam faidah yg diambil dari bab tersebut Asy-Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab mengatakan: “Faidah keenam: tukang sihir adl kafir. Ketujuh: dia dibunuh tanpa dimintai taubat. Kedelapan: kalaulah di masa ‘Umar terjadi hal yg demikian maka apalagi setelahnya.”Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di di dalam kitab Al-Qaul As-Sadid mengatakan: “Sisi dimasukkannya sihir dalam bab tauhid adl krn kebanyakan dari pembagian {macam- macam} sihir tidak akan bisa terjadi melainkan dgn kesyirikan dgn perantara ruh-ruh setan kepada tujuan-tujuan tukang sihir tersebut. Maka tidak sempurna tauhid seseorang hamba sehingga dia meninggalkan sihir secara menyeluruh.”Macam-macam SihirKalau kita coba menggali bentuk-bentuk sihir atau lbh cocok dikatakan macam dan jenisnya maka jumlahnya terlalu banyak terlebih kalau kita melihat prakteknya di masyarakat Islam. Ilmu sihir adl ilmu yg sangat digandrungi dan dicari oleh banyak orang kecuali mereka yg dirahmati Allah .Asy-Syinqithi dalam kitab Adhwa Al-Bayan mengatakan: “Para ahli ilmu telah membagi jenis-jenis sihir namun pembagian tersebut semuanya bermuara pada delapan macam {yang telah disebutkan oleh Fakhrurrazi dalam tafsirnya}.” Di halaman lain beliau mengatakan: “Ilmu-ilmu kejahatan itu banyak sekali dan kita menyebutkan bertujuan untuk mengingatkan tentang jelek dan jahatnya menurut pandangan syariat. Karena di antara jenisnya ada yg jelas-jelas kufur dan di antaranya ada yg akan mengantar menuju kekufuran dan yg paling ringan hukumnya adl haram yg keras.”Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin t dalam kitab beliau Al-Qaul Al-Mufid mengatakan: “Macam-macam sihir secara global dibagi menjadi dua di antaranya ada yg merupakan wujud kekufuran dan ada pula yg merupakan wujud kefasikan.”1. Al-‘IyafahAl-‘Iyafah adl seseorang mengurungkan niat utk melakukan sesuatu krn ada perilaku tertentu dari burung. Atau seseorang merasa pesimis atau optimis disebabkan oleh burung. Aqidah orang Arab di masa jahiliyyah yg terkait dgn al-‘iyafah ini bermacam- macam: Pertama membantu mereka utk berburu yaitu dgn cara mengajari burung sehingga apabila diperintahkan utk terbang dia terbang. Hal ini tidak termasuk sihir. Kedua menghalau seekor burung sehingga apabila terbang ke arah sebelah kiri maka dia pesimis {lalu tidak jadi melakukan pekerjaan itu –red} dan apabila terbang ke sebelah kanan maka dia optimis . Dan bila sang burung terbang ke arah depan Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan: “Saya tidak mengetahui apakah dia berhenti atau mengulangi menghalau burung lagi.” Maka hal yg seperti ini termasuk dari bentuk sihir. Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan dalam kitabnya Fathul Majid mengatakan: “Al-’Iyafah adl rasa pesimis dan optimis {yang muncul dalam diri seseorang –red} krn seekor burung baik dgn nama burung tersebut atau suaranya atau arah terbangnya. Hal ini merupakan kebiasaan orang Arab bahkan banyak {penyebutan tentang hal ini –red} di dalam syair-syair mereka.”2. Ath-Tharqu‘Auf menafsirkan ath-tharqu sebagai suatu garis yg dibuat di tanah. Abu As-Sa’adat mengatakan: “Menggaris dgn kerikil yg dilakukan oleh kaum wanita.” . Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan: “Garis yg dimaksud adl sesuatu yg sudah masyhur di sisi orang Arab yg digaris dgn kerikil utk menyihir dan melakukan praktek perdukunan dan hal ini banyak dilakukan oleh kaum wanita.” Hal ini termasuk perbuatan sihir.3. Ash-Sharf dan Al-‘AthafAsh-Sharf yaitu sihir yg dipergunakan utk memisahkan antara dua orang yg saling mencintai supaya salah satu dari keduanya atau kedua-duanya menjadi benci kepada yg lain . Di Indonesia sihir jenis ini terkenal dengan istilah ilmu pelet. Hal ini adl perbuatan haram dan syirik kepada Allah .Al-‘Athaf adl jenis sihir utk menjadikan seseorang cinta kepada yg lain yg sering terjadi antara suami istri. Hukumnya sama dgn ash-sharfu.Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab memasukkan sihir sebagai salah satu pembatal keislaman. Dan masih banyak lagi jenis-jenis sihir yg sekarang berkembang di tengah-tengah kaum muslim baik di negeri Arab atau selainnya seperti memakan api masuk ke dalam api ilmu kebal jimat-jimat memakan beling menggambarkan sesuatu yg bukan aslinya dan selainnya. {Lihat pembahasan macam-macam sihir dalam Adhwa Al-Bayan 4/444-455 Tath-hir Al-I’tiqad karya Al-Imam Ash-Shan’ani Fathul Majid hal. 345 dan seterusnya Al-Qaul Al-Mufid karya Asy- Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 2/36-57 Al-Qaul Al-Mufid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab Al- Wushshabi hal. 137-148 dan Al-Qaul As-Sadid hal. 93-95}Ilmu Nujum Termasuk Ilmu SihirAsy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitab At-Tauhid mengatakan: “Ilmu nujum termasuk dari ilmu sihir.” Hal ini berdasar sabda Rasulullah :“Barang siapa yg mencari sebagian ilmu nujum maka dia telah mencari bagian dari sihir.” {HR. Ahmad 1/227 311 Abu Dawud 2/226 Ibnu Majah 2/1228 Ath-Thabrani no. 11278 Al-Baihaqi 8/138 dari hadits Ibnu ‘Abbas c}Ilmu nujum yg merupakan bagian dari sihir adl ilmu yg dipakai utk mengetahui kejadian-kejadian yg ada di bumi dgn bantuan benda-benda langit seperti bintang. Contohnya bila muncul bintang ini dan itu maka akan terjadi begini dan begitu. Atau bila muncul bintang ini dan itu maka akan lahir seseorang yg bahagia di dalam hidupnya atau lahir anak yang akan celaka. Tentang hal ini Ibnu ‘Abbas c berkata Rasulullah  telah bersabda:مَنِ اقْتَبَسَ شُعْبَةً مِنَ النُّجُوْمِ فَقَدِ اقْتَبَسَ مِنَ السِّحْرِ زَادَ مَا زَادَ“Barang siapa mencari sebagian ilmu nujum maka dia telah mencari sebagian ilmu sihir bertambah dgn bertambahnya.” {Hadits ini dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Sunan Abi Dawud 2/739 no. 3305 dan di dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 2/305 no. 3002 dan di dalam Ash-Shahihah no. 793}Ilmu nujum dgn makna ini adl jelas-jelas bertentangan dgn aqidah yg dibawa oleh seluruh para nabi dan rasul Allah  juga bertentangan dgn Al-Quran dan As-Sunnah. Seorang shahabat Zaid bin Khalid z berkata:صَلىَّ بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَّةِ فِيْ إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلىَ النَّاسِ فَقَالَ: هَلْ تَدْرُوْنَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوْا: اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: قَالَ: أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِيْ مُؤْمِنٌ بِيْ وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْناَ بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِيْ كَافِرٌ بِالْكَوَاكِبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِيْ مُؤْمِنٌ بِالْكَوَاكِبِKami shalat subuh bersama Rasulullah  setelah selesai hujan di suatu malam. Setelah selesai shalat beliau menghadap manusia dan berkata: “Tahukah kalian apa yg difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka berkata: “Allah dan Rasul-Nya yg lbh mengetahui.” Rasulullah bersabda: “Allah berfirman: ‘Di pagi hari di antara hambaku ada yg beriman dan kafir kepada- Ku. Barangsiapa yg mengatakan bahwa kami diberikan hujan dgn fadhilah dan rahmat Allah maka dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan bahwa kita diberikan hujan krn waktu ini dan itu maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.’” {HR. Al-Bukhari 2/433-434 dan Muslim no. 71}Al-Imam Asy-Syafi’i dalam Al-Umm mengatakan: “Barangsiapa mengatakan kita diberi hujan oleh waktu ini dan itu sebagaimana yg telah dilakukan oleh sebagian musyrikin dgn menyandarkan hujan kepada nau’ maka hal yg demikian itu adl kafir sebagaimana sabda Rasulullah . Aqidah yg benar adl bahwa terjadinya hujan krn ijin Allah I dan taqdir-Nya yg telah ditulis limapuluh ribu tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi dan merupakan rahmat dari Allah kepada suatu kaum. Turunnya hujan tidak dipengaruhi munculnya bintang ini dan itu.”Hukum Mempelajari Ilmu NujumIlmu nujum oleh para ulama dibagi menjadi dua:Pertama apa yg telah disebutkan di atas yaitu ilmu yg dipergunakan utk menentukan kejadian-kejadian di bumi krn munculnya bintang ini dan itu. Mempelajari ilmu ini adl haram. Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas c di atas.Kedua mengetahui peredaran bintang utk menentukan arah kiblat atau waktu. Hal ini diperbolehkan bahkan terkadang hukumnya wajib. Ulama fiqih mengatakan bahwa apabila masuk waktu shalat maka wajib tiap orang utk mengetahui arah kiblat baik dgn bintang-bintang matahari maupun bulan. Allah  berfirman:“Dan dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang bersama kamu dan dia menciptakan sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. Dia menciptakan tanda-tanda penunjuk jalan dan dgn bintang-bintang itulah mereka mendapatkan petunjuk..” (Lihat Al-Qaulul-Mufid 2/45)Tanya JawabTanya: Bila belajar ilmu sihir itu adl haram bagaimana dgn hadits Rasulullah :تَعَلَّمُوا السِّحْرَ وَلاَ تَعْمَلُوْا بِهِ“Belajarlah kalian ilmu sihir dan jangan kalian mengamalkannya.”Jawab: Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: “Kita tidak mengenali hadits ini shahih atau lemah bahkan hadits ini adl maudhu’ .” {1/367-368 no. 6289 dan 6970}Tanya: Apabila tukang sihir itu hukumnya harus dibunuh bolehkah individu yg melakukan hal demikian?Jawab: Al-Lajnah Ad-Daimah }. mengatakan: “Yang memiliki hak dan tanggung jawab utk menetapkan bahwa ini adl sihir serta hukuman bagi pelakunya adl pemerintah yg mengurusi urusan kaum muslimin. Hal ini utk menutup pintu-pintu meluasnya kerusakan dan agar tidak terjadi kekacauan dan huru-hara.” {1/369 no. 4804}.Tanya: Apa yg dimaksud oleh sabda Rasulullah :إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا“Sesungguhnya sebagian dari al-bayan itu adl sihir.” {HR. Al-Bukhari dari hadits Ibnu ‘Umar c dan Muslim dari shahabat ‘Ammar bin Yasir c}Jawab: Al-Bayan dari sisi tinjauan bahasa memiliki dua makna:Pertama menjelaskan sesuatu yg harus dijelaskan maka hal ini boleh dilakukan oleh tiap orang. Kedua kefasihan dalam berbicara sehingga menakjubkan akal bahkan mengubahnya. Makna yg kedua inilah yg dimaksud Rasulullah  dgn kefasihan pembicaraan yg menyebabkan kebenaran dalam pandangan pendengarnya menjadi sesuatu yg bathil dan kebathilan menjadi sesuatu yg benar.” Tanya: Bolehkah menghilangkan sihir dari orang yg terkena sihir?Jawab: Menghilangkan sihir dari orang yg terkena sihir disebut dgn an-nusyrah. Apabila menghilangkan sihir tersebut dgn sihir yg lain maka ini adl perbuatan setan dan hukumnya haram. Dan apabila menghilangkannya dgn bacaan-bacaan yg disyariatkan doa ayat-ayat Al Qur’an maka hal yg demikian disyariatkan. Allah berfirman:وَتَعَاوَنُوْا عَلىَ الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُوْا عَلىَ اْلإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ“Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketaqwaan dan janganlah kalian tolong- menolong di dalam dosa dan permusuhan.” Rasulullah  bersabda:مَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ“Barang siapa yg mampu memberikan manfaat kepada saudaranya maka lakukanlah.” {Lihat A’lam As-Sunnah Al-Mansyurah hal. 155}Wallahu a’lam bishshawab.1 Nau’ adl tempat singgahnya bulan di tiap malam {lihat Taisir Al-’Azizil Hamid hal. 454- 455 Al-Qaulul Mufid 2/141-142 ed} sumber : file chm Darus Salaf 2