Buletin Islam Al IlmuJember Edisi 12/XII/1424Meyakini bahwa wali atau orang shalih mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau mampu menjawab do’anya orang yg berdo’a kepada mereka ketika masih hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yg nyata dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para nabi dan rasul.Salah satu prinsip Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adl memberikan sikap loyalitas kepada siapa saja yg dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan orang-orang shalih termasuk suatu tho’ifah terbaik dari umat Islam sehingga mereka mendapatkan kecintaan pujian dan ni’mat dari Allah Ta’ala krn telah berhasil meniti shirathal mustaqim .Allah Ta’ala berfirman :فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا: “Maka mereka itu akan bersama-sama orang-orang yg Allah anugerahi ni’mat atas mereka dari kalangan para Nabi shiddiqin syuhada’ dan orang-orang shalih dan mereka itu adl sebaik-baik teman”. Maka mereka termasuk orang-orang yg berhak mendapatkan wala’ dari kaum muslimin. Namun yg wajib diketahui bahwa sikap wala’ yg akan mendapatkan ridha Allah Ta’ala dan balasan di sisi-Nya bukan wala’ yg dilandasi dgn hwa nfsu (**) akan tetapi suatu kecintaan yg dilandasi Al Qur’an dan As Sunnah.Umat manusia dalam menilai keberadaan orang-orang shalih terbagi menjadi tiga golongan.Pertama : Golongan yg meremehkan atau merendahkan kedudukan yg Allah berikan kepada mereka .Kedua : Golongan yg memiliki sikap pengkultusan dan pengagungan melebihi batas dari apa yang Allah Ta’ala karuniakan kepada mereka .Ketiga : Golongan yg adil dan tidak berbuat tafrith maupun ifrath terhadap mereka.Sesungguhnya Allah Ta’ala mencintai sikap adil didalam menyikapi orang-orang shalih yaitu tidak menghinakan dan merendahkan kedudukan orang-orang shalih bahkan memuliakan dan memuji mereka dgn tidak melebihi ketentuan syariat. Sebagaimana Allah Ta’ala menjelaskan dalam banyak ayat-Nya diantaranya :إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yg berbuat adil”. Dan juga firman-Nya :وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا: “Dan demikianlah Kami jadikan kalian menjadi umat yg adil”. Demikian pula Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wassalam melarang perbuatan ghuluw . Allah Ta’ala berfirman :يَاأَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلاَّ الْحَقَّ: “Wahai Ahlul Kitab janganlah kalian berbuat ghuluw dalam beragama dan jangan pula kalian mengatakan tentang Allah kecuali di atas kebenaran”. Ghuluw adl sikap melampaui batas dalam memuji dan mencela .Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Walaupun khitob mengarah kepada Ahlul Kitab namun khitob ini bersifat umum mencakup seluruh umat sebagai tahdzir dari sikap Nashara terhadap Isa Ibnu Maryam {mereka meyakini Isa anak Allah atau tiga dari yg satu -trinitas- red} dan sikap Yahudi terhadap Uzair .{Fathul Majid jilid 1 hal. 21}Mengingat siapa saja yg diantara umat ini yg menyerupai Yahudi dan Nashara dan berbuat ghuluw di dalam beragama dgn cara ifrath atau pun tafrith maka sungguh ia telah menyerupai mereka. Hal ini sesuai yg diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Fathul Majid jilid 1 hal. 272}Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“Barangsiapa yg menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka”.Oleh krn itu beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam mewanti-wanti kepada umatnya supaya jangan berbuat ghuluw kepada diri beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sendiri. Seperti halnya Yahudi dan Nashara telah terjatuh dalam perbuatan ghuluw. Beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ ، فَقُوْلُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ“Janganlah kalian berbuat ghuluw kepadaku sebagaimana Nashara telah berbuat ghuluw kepada Ibnu Maryam. Aku ini hanyalah seorang hamba maka katakanlah Abdullah dan Rasul-Nya”.

إِ يَّاكُمْ وَ الْغُلُو، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُو“Berhati-hatilah kalian dari bersikap ghuluw krn sesungguhya celakanya orang-orang sebelum kalian adl krn berbuat ghuluw.” هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُوْنَ “Binasalah orang-orang yg melampaui batas ”. {HR.

Muslim}Awal Mula Terjadinya KesyirikanAwal mula munculnya kesyirikan di muka bumi adl sikap ghuluw kepada orang- orang shalih sebagaimana yg dipaparkan oleh Abdullah bin Abbas Radiyallahu ‘anhu dalam riwayat Al Imam Al Bukhari ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala :“Dan mereka berkata : “Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian dan jangan pula meninggalkan wad suwa’ yaghuts ya’uqdan nasr”. Beliau Radiyallahu ‘anhu berkata : “Ini adl nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh tatkala mereka meninggal syaithan membisikkan kepada kaumnya: “Buatlah patung-patung mereka di majlis-majlis mereka dahulu dan namailah patung-patung tersebut dgn nama- nama mereka. Kemudian kaum tersebut melakukannya dan belum sampai pada penyembahannya hingga akhirnya kaum itu meninggal dan dihapuskanlah ilmu maka patung-patung tersebut pun disembah”.Berkata Ibnul Qoyyim: “Lebih dari seorang dari ulama’ Salaf berkata: “Tatkala orang-orang shalih tersebut telah meninggal manusia pun beri’tikaf dan membikin gambar atau patung di samping kuburan mereka kemudian setelah berganti dari generasi ke genarasi berikutnya mereka pun menyembahnya”. Bagaimana Bentuk-Bentuk Ghuluw Dan Akibatnya ?Pada pembahasan kali ini hanya mengacu kepada akibat dari sikap ghuluw yg menyebabkan pelakunya terjatuh ke dalam kesyirikan atau perkara-perkara sebagai wasilah menuju kesyirikan krn jenis-jenis ghuluw terhadap mereka sangat banyak sekali.

Bentuk-bentuk ghuluw yg terjadi dan bisa dicermati sendiri oleh kaum muslimin diantaranya:1. Menganggap bahwa beribadah seperti sholat atau berdo’a dihadapan gambar patung kuburan orang shalih lbh mendatangkan rasa khusu’ dan khudhu’ kepada Allah Ta’ala. Ini merupakan bentuk ibadah yg bid’ah munkar dan tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para sahabatnya radiyallahu ‘anhum. Sebatas membuat gambar atau patung dari benda yg bernyawa saja dia telah melanggar peringatan keras dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :إِنَّ أََشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ المُصَوِّرُوْنَ“Sesungguhnya adzab yg paling pedih pada hari kiamat nanti adl para tukang gambar”.

Juga menentang perkataan Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wassalam:وَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُوْنَ قَبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا القَبُوْرَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ“Dan sesungguhnya orang-orang sebelum kalian mereka dahulu menjadikan kuburan para Nabi sebagai masjid-masjid maka ketahuilah janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid- masjid sesungguhnya aku melarang dari perbuatan seperti itu”. Dan tiap tempat yg digunakan utk sholat maka dinamakan sebagai masjid walaupun tidak ada bangunannya sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata:جُعِلَتْ لي الأَرْضُ مَسْجِدًا وَ طَهُوْرًا“Telah dijadikan bumi untukku sebagai masjid dan utk bersuci”. 2. Berkeyakinan bahwa berdo’a kepada Allah Ta’ala sambil bertawasul dgn orang shalih yg sudah mati lbh diterima oleh Allah Ta’ala. Hal ini juga merupakan perkara yg bathil dan haram krn tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam bahkan Umar Radiyallahu ‘anhu ketika di jamannya ditimpa paceklik beliau tidak bertawasul kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam krn beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam sudah wafat namun Umar Radiyallahu ‘anhu meminta kepada paman Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam utk berdo’a kepada Allah Ta’ala.{Fatawa Arkanul Islam lisy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin hal. 182}Padahal Allah Ta’ala berfirman :وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي: “Dan jika hamba-Ku bertanya kepadamu tentang-Ku maka sesungguhnya Aku amat dekat dan Aku mengabulkan orang yg berdo’a jika dia berdo’a kepada-Aku”. {QS. Al Baqarah: 186}Bahkan Allah Ta’ala mengolok-olok orang-orang yg lalai lagi bodoh ketika menjadikan sebagian hamba-Nya sebagai wasilah padahal orang-orang shalih tersebut butuh pada wasilah berupa ketaatan kepada-Nya dan tidak ada cara lain yg bisa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala :أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ: “Mereka orang-orang yg diseru juga mencari wasilah menuju kepada Robb-Nya! siapa yg lbh dekat dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan adzab- Nya”. 3. Meyakini bahwa para wali atau orang shalih mengetahui ilmu ghaib.Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adl imam para rasul tidaklah mengetahui perkara yang ghaib atau perkara yg akan terjadi apalagi mereka yg bukan termasuk dari kalangan para Nabi. Allah Ta’ala berfirman :قُلْ لاَ أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلاَ ضَرًّا إِلاَّ مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاَسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ: “Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfatan pada diriku dan tidak pula mampu menolak kemudhorotan kecuali yg di kehendaki oleh Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yg ghaib tentulah aku akan membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudhoratan”. 4. Meyakini bahwa wali atau orang shalih mampu mendatangkan manfaat dan menolak mudhorot atau mampu menjawab do’anya orang yg berdo’a kepada mereka ketika masih hidup ataupun sudah mati. Hal ini merupakan kesyirikan yg nyata dan jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dan para nabi dan rasul.

Allah Ta’ala berfirman :وَلاَ تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لاَ يَنْفَعُكَ وَلاَ يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ: “Maka janganlah kamu berdo’a selain dari Allah yg tidak bisa mendatangkan manfaat dan pula memberi mudhorot padamu kalau sekiranya kamu kerjakan sungguh kamu termasuk orang-orang yg dholim”. Dan juga Allah Ta’ala berfirman :وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لاَ يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ: “Dan siapakah yg lbh sesat daripada orang yg menyembah sesembahan- sesembahan selain Allah yg tiada dapat memperkenakan sampai hari kiamat dan mereka lalai dari do’a mereka”?. Ini hanya sebagian kecil dan masih banyak lagi dari perbuatan dhahir ataupun i’tiqodiyyah yg melampaui batas terhadap orang-orang shalih.Tanya-JawabTanya : Bagaimana rihlah atau safar hanya dalam rangka ziarah ke kubur Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassalam para wali dan sunan?Jawab : Hal itu tidak boleh krn Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata :لاَ تَشُدُّ الرِّحَالَ إِلاَّ إلى ثَلاَثَة مَسَاجِدَ، المَسْجِدِ الْحَرَامِ وَ مَسْجِدِي هذا وَ الْمَسْجِدِ الأَقْصَى“Janganlah kalian berkeinginan utk safar kecuali ke tiga masjid Masjidil Haram Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsho”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam tidaklah melarang kecuali ada hikmahnya yaitu sebagai bentuk saddudz dzari’ah supaya tidak terjatuh dalam perbuatan ghuluw dan ini menunjukkan kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam kepada umat Islam. Dan sebaliknya jika kaum muslimin melanggar anjuran beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam maka pasti akan terjatuh ke dalam fitnah. Maka apabila para pembaca mencermati apa yg dilakukan para peziarah ke kuburan Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam atau wali-wali bukan hanya berdo’a dan istighotsah saja bahkan sampai ruku’ dan sujud semata-mata utk ahli kubur dalam keadaan khusyu’ dan khudhu’ yg tidak bisa dihadirkan kondisi seperti itu ketika beribadah di masjid-masjid Allah Ta’ala . Wallahul Musta’an.{Dikutip dari Buletin Islam Jember Al Ilmu Edisi 12/XII/1424. Dikirim via email oleh Al Akh Hardi Ibn Harun}
sumber : file chm Darus Salaf 2