Ummu Aiman radhiallahu ‘anha

penulis Al-Ustadzah Ummu ‘Abdirrahman Anisah bintu ‘Imran
Sakinah Cerminan Shalihah 15 - April - 2005 15:55:34

Perjalanan dlm mengiringi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk dapat diabaikan. Kemuliaan yg disandang di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tdk layak dilupakan. Hingga manusia paling mulia itu pun berkata tentang dialah ibu setelah ibuku.

Wanita yg mulia ini bernama Barkah bintu Tsa’labah bin ‘Amr bin Hishn bin Malik bin Salamah bin ‘Amr bin An-Nu’man Al-Habasyiyah radhiallahu ‘anha. Namun dia lbh dikenal dgn kunyah Ummu Aiman.
Semula Ummu Aiman radhiallahu ‘anha adl seorang budak milik ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib ayah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di kemudian hari setelah ‘Abdullah bin ‘Abdil Muththalib meninggal Ummu ‘Aiman radhiallahu ‘anha diwarisi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yg mengasuh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam semenjak kecil.
Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berusia enam tahun beliau dibawa oleh ibu Aminah bintu Wahb mengunjungi keluarga sang ibu dari Bani ‘Adi bin An-Najjar di Madinah. Ummu Aiman radhiallahu ‘anha menyertai perjalanan mereka. Sebulan lama mereka berada di sana.
Ada peristiwa yg tercatat dlm kenangan Ummu Aiman radhiallahu ‘anha saat mereka berada di Madinah. orang2 Yahudi di sana melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun berujar “Dia adl nabi umat ini dan ini adl negeri hijrahnya.” Ucapan mereka itu diingat benar oleh Ummu Aiman. Setelah itu Aminah membawa putra kembali ke Makkah.
Namun ternyata itulah saat terakhir kebersamaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn sang ibunda. dlm perjalanan pulang dari Madinah ke Makkah Aminah meninggal di Abwa’ antara Makkah dan Madinah dan dikuburkan di sana. Pulanglah Ummu Aiman radhiallahu ‘anha membawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dgn dua unta tunggangan mereka.
Setelah ibunda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tiada Ummu Aiman berperan sebagai ibu bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. tdk heran banyak kisah yg dapat dituturkan oleh Ummu Aiman radhiallahu ‘anha tentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ummu Aiman terus menyertai kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menikah dgn Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha Ummu Aiman radhiallahu ‘anha mendapatkan kemerdekaan dirinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membebaskannya.
Ummu Aiman radhiallahu ‘anha seorang wanita yg teramat mulia. Dari rahim terlahir orang2 mulia. Ummu Aiman radhiallahu ‘anha menikah dgn ‘Ubaid bin Zaid radhiallahu ‘anhu dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj. Dari pernikahan ini lahirlah Aiman bin ‘Ubaid radhiallahu ‘anhu yg kelak di kemudian hari turut terjun dlm peperangan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga menggapai syahid di medan pertempuran Hunain.
Ummu Aiman radhiallahu ‘anha menjalani kehidupan sepeninggal suaminya. Saat itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjanjikan “Siapa yg senang menikah dgn seorang wanita ahli surga hendaklah dia menikah dgn Ummu Aiman.” Datanglah Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu bekas budak sekaligus seorang yg sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam utk meminangnya. Dinikahkanlah Ummu Aiman radhiallahu ‘anha oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya. Lahirlah Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma yg kelak di kemudian hari menyandang kemuliaan memimpin pasukan terakhir yg diutus oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi Romawi sementara dlm barisan pasukan itu ada orang2 mulia seperti Abu Bakr dan ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma.
Ummu Aiman mendampingi Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu hingga Zaid meninggal sebagai syahid saat memimpin pasukan dlm kancah pertempuran yg seru di medan Mu’tah Syam pada tahun kedelapan setelah hijrah.
Ummu Aiman radhiallahu ‘anha seorang wanita yg mendapatkan kemuliaan dua hijrah ke bumi Habasyah dan ke bumi Madinah. Suatu ketika dlm salah satu perjalanan hijrah Ummu Aiman menempuh dgn berpuasa. Tiba saat berbuka tdk ada bekal air yg dapat digunakan utk melepaskan dahaga yg sangat. Tiba-tiba didapati setimba air terulur dari langit dgn tali timba yg berwarna putih. Ummu Aiman pun meminumnya. Ummu Aiman menuturkan “Semenjak itu aku berpuasa di siang yg panas dan berjalan di bawah terik matahari agar aku merasa haus namun aku tdk pernah merasakan dahaga.”
Hijrah ke Madinah ditempuh selang beberapa waktu setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah. Ketika itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Zaid bin Haritsah dan Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhuma dgn berbekal dua ekor unta dan 500 dirham utk membawa dua putri beliau Fathimah dan Ummu Kultsum radhiallahu ‘anhuma serta Saudah bintu Zam’ah radhiallahu ‘anha. Pada saat itu pulalah Ummu Aiman bersama putra Usamah bin Zaid bertolak menuju Madinah bersama rombongan ini.
Ummu Aiman terus mengiringi kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga wafatnya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat Abu Bakr radhiallahu ‘anhu berkata kepada ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu “Mari kita mengunjungi Ummu Aiman sebagaimana dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengunjunginya.” Kedua pun beranjak menemui Ummu Aiman. Ternyata mereka jumpai Ummu Aiman dlm keadaan menangis hingga mereka pun berta “Apa yg membuatmu menangis? Bukankah apa yg di sisi Allah lbh baik bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Ummu Aiman menjawab “Aku menangis krn wahyu dari langit telah terputus.” Mendengar penuturan Ummu Aiman berlinanglah air mata Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma hingga kedua pun menangis bersama Ummu Aiman.
Ummu Aiman radhiallahu ‘anha sempat menemui saat terbunuh ‘Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu. Ketika itu dia mengatakan “Pada hari ini Islam menjadi lemah.”
Lima puluh bulan setelah wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Ummu Aiman radhiallahu ‘anha kembali kepada Rabb Subhanahu wa Ta’ala. Dia telah menorehkan sebuah kemuliaan yg akan senantiasa dikenang. Dia meninggalkan untaian kebaikan yg akan memberikan teladan. Ummu Aiman semoga Allah meridhainya.
Wallahu ta’ala a’lamu bish shawab.

Sumber bacaan :
 Al-Ishabah karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-’Asqalani
 Al-Isti’ab karya Al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr
 Ath-Thabaqatul Kubra karya Al-Imam Ibnu Sa’d
 Siyar A’lamin Nubala` karya Al-Imam Adz-Dzahabi

Sumber: www.asysyariah.com